KOMPLEKS MASJID KI AGENG SUTAWIJAYA MAJASTO TAWANGSARI SUKOHARJO JAWA TENGAH (Tinjauan Histori)

ANIK TRI WAHYUNI - NIM. 02121036, (2008) KOMPLEKS MASJID KI AGENG SUTAWIJAYA MAJASTO TAWANGSARI SUKOHARJO JAWA TENGAH (Tinjauan Histori). Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[img]
Preview
Text (KOMPLEKS MASJID KI AGENG SUTAWIJAYA MAJASTO TAWANGSARI SUKOHARJO JAWA TENGAH)
BAB 1, BAB V, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (711kB) | Preview
[img] Text (KOMPLEKS MASJID KI AGENG SUTAWIJAYA MAJASTO TAWANGSARI SUKOHARJO JAWA TENGAH)
BAB II, BAB III, BAB IV.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (312kB)

Abstract

ABSTRAK b Penelitian /b ini penulis menggunakan metode sejarah, yaitu menguji dan meneliti secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau untuk merekontruksi hal-hal yang imajinatif dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1). Ki Ageng Sutawijaya merupakan keturunan Raja Majapahit yaitu Brawijaya V, pada waktu kerajaan Majapahit runtuh beliau meninggalkan istana dan melarikan diri bersama saudara-saudaranya, kemudian dalam pelariannya Ki Ageng Sutawijaya bertemu Sunan Kalijaga. Beliau mula-mula mempunyai nama Raden Joko Bodho, setelah bertemu Sunan Kalijaga beliau memperoleh gelar Ki Ageng Sutawijaya. Ki Ageng Sutawijaya mendapat perintah untuk berguru kepada Sunan Tembayat. Setelah berguru beberapa bulan di Tembayat, Ki Ageng Sutawijaya menuju bukit Majasto dan menyebarkan Islam disana sesuai perintah Sunan Kalijaga. 2). Masjid Ki Ageng Sutawijaya merupakan masjid bersejarah yang usianya sudah ratusan tahun yang didirikan sekitar tahun 1587-1653 M sesuai prasasti yang tertera pada gapura masjid. Dibangunnya masjid ini oleh Ki Ageng Sutawijaya yang merupakan bukti dari perintah gurunya yaitu Sunan Kalijaga dan Sunan Tembayat sebagai sarana dakwah bagi masyarakat Majasto, mengingat masyarakat Majasto saat itu pengetahuan mereka tentang Islam sangat minim sehingga yang memeluk Islam hanya sedikit bahkan ada yang memeluk Hindu. 3). Masjid ini sebagai salah satu sarana pembangunan manusia di bidang spiritual pada khususnya dan sebagai sarana mengembangkan kehidupan sosial di Majasto. Untuk mencapai Majasto seperti yang diperintahkan oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Sutawijaya banyak mengalami kesulitan karena sering tersesat walau akhirnya beliau berhasil sampai di Majasto. Islamisasi di Majasto berlangsung perlahan-lahan mengingat masyarakat saat itu masih memeluk Hindu, dalam berdakwah beliau selalu berpegang pada Al-Quran yaitu Surat Al-Alaq ayat 1-5 dan juga menegakkan kebenaran dan keadilan dengan menyuruh kepada amar ma'ruf nahi munkar. 4). Masjid Ki Ageng Sutawijaya merupakan peninggalan yang mempunyai nilai sejarah, meskipun usianya sudah ratusan tahun tetapi masjid ini tetap berdiri kokoh dan selalu dikunjungi oleh masyarakat Majasto yang ingin beribadah dan juga berziarah ke makam Ki Ageng Sutawijaya. Disamping itu di masjid tersebut sering diadakan pengajian bagi masyarakat dan juga upacara tradisi sadranan di halaman masjid. 5). Kondisi fisik bagian masjid masih tampak asli, pada pintu masuk ruang utama hanya dilakukan penambahan sedikit dengan cat juga pada beberapa bagian bangunan lain pada masjid. Teras masjid sudah dilakukan perbaikan dengan sedikit perluasan, sedangkan tangga menuju masjid diberi tambahan pegangan, dan pembangunan pendapa yang berfungsi sebagai tempat upacara sadranan bagi masyarakat majasto. 6). Pengaruh unsur kebudayaan pra-Islam tampak juga dalam beberapa bangunan masjid seperti kebudayaan Hindu yang tampak pada atap masjid yang berbentuk tumpang yang dilengkapi dengan mustaka, gapura yang berbentuk paduraksa, ruang utama yang berbentuk mendapa, mimbar yang diberi hiasan sulur tumbuhan, dan sendang yang masih ada di sekitar masjid. Pemberian atap jenjang juga merupakan pengaruh dari kebudayaan Budha yang berasal dari strata yang digunakan pada Candi Borobudur. Kebudayaan tersebut telah memberi peranan dalam pembentukan seni arsitektur dan ornamental Masjid Ki Ageng Sutawijaya. Seni ornamental berbentuk sulur bunga yang terdapat pada mimbar dan hiasan lengkung pada mihrab, sedangkan hiasan bidang terdapat pada bagian pintu dan jendela. Pada gapura banyak terdapat hiasan seperti relief dan patung harimau dan buaya, yang bagian tengah gapura dihubungkan dengan motif sayap burung. Gapura tersebut telah mengalami pengecatan ulang agar warnanya tidak pudar oleh cuaca. 7). Hal-hal yang mempengaruhi percampuran kebudayaan pada Masjid Ki Ageng Sutawijaya adalah faktor agama masyarakat Majasto dan faktor sosial budaya yang merupakan pengaruh dari agama pra-Islam. Begitu halnya dengan kebudayaan yang berkembang di Majasto yang merupakan pengaruh dari agama-agama pra-Islam. Jadi, tidak menutup kemungkinan, jika arsitektur Masjid Ki Ageng Sutawijaya dibuat dengan memadukan antara beberapa kebudayaan pra-Islam yaitu Animisme, Dinamisme, Budha, dan Hindhu. 8). Dalam penelitian ini terdapat persamaan tentang masjid-masjid kuno yang adadi Jawa dengan Masjid Ki Ageng Sutawijaya yang terdapat di Majasto. Persamaan tersebut tampak pada beberapa bagian yaitu: denahnya persegi, mempunyai serambi, berdiri pada pondasi yang kuat dan tinggi, mempunyai atap yang bertingkat dan menyempit ke atas yang disebut tumpang, mempunyai ruangan tambahan di sebelah selatan, ada mihrab, dan terdapat pintu gerbang. Semua itu merupakan ciri-ciri pada masjid tradisional yang ada di Jawa.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing : Riswinarno, S.S.
Uncontrolled Keywords: Masjid Ki Ageng Sutawijaya Majasto, Histori.
Subjects: Sejarah Peradaban Islam
Divisions: Fakultas Adab dan Ilmu Budaya > Sejarah Kebudayaan Islam (S1)
Depositing User / Editor: Miftakhul Yazid Fuadi, SIP.
Date Deposited: 21 May 2012 07:48
Last Modified: 20 Dec 2016 03:57
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/1108

Actions (login required)

View Item View Item