SANKSI TERHADAP PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA STUDI KOMPARASI HUKUM PIDANA ISLAM DAN UU NO. 22 TAHUN 1997

NUNU HUSNUL HITAM - NIM. 02361434, (2008) SANKSI TERHADAP PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA STUDI KOMPARASI HUKUM PIDANA ISLAM DAN UU NO. 22 TAHUN 1997. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan ranaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Pernyalahgunaan narkotika ini dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetehuan dan teknologi, salah satunya kemajuan dibidang farmasi yang ditunjang oleh kemajuan dibidang informasi, komunikasi, dan tranformasi. Dalam hukum Islam narkotika diqiyaskan dengan minum-minuman keras (khamr). khamr meliputi benda-benda yang dapat mengacaukan akal, baikyang berupa zat cair maupun padat. Hukum positif dan hukum Islam telah memberikan sanksi yang tegas dan jelas bagi penyalahgunaan narkotika. Oleh karena iti, perlu melakukan penelitian yang khusus mengkaji tentang hukuman bagi penyalahgunaan narkotika antara hukum positif dan hukum Islam. Penelitian ini dilakukan guna menjelaskan kedua hukum tersebut memjatuhkan hukuman bagi penyalahgunaan narkotika dan juga mecari persamaan dan perbedaan kedua hukum tersebut dalam memberikan sanksi bagi penyalahgunaan narkotika serta bagaimana propek kedua hukum tersebut. Hukuman bagi penyalahgunaan narkotika telah diatur secara khusus oleh UU No.22 tahun 1997 tentang narkotika. Dalam pasal-pasal tersebut, UU narkotika dijelaskan ketentuan pidana dan jenis pidana yang diberikan pada pihak yang menyalahgunakan narkotka secara ilegal. Adapu sanksi yang diberikan berupa pidana penjara dan denda. Hukum Islam dapat menjatuhkan hukuman bersumber pada Hadis Nabi Muhammad SAW yang pernah menghukum orang yang minum khamr dengan didera sebanyak 40 kali, namun untuk besarnya hukuman maka bersumber pada ijma' para sahabat. Ada yang berpendapat bahwa sanksi bagi peminum khamr didera sebanyak 40 kali, tapi ada yang berpendapat sebanyak 80 kali dan selebihnya adalah ta'zir. Dikarenakan kajian ini adalah kajian hukum, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif. Kesimpulan yang didapat adalah bahwa membedakan antara hukum positif dan hukum Islam dalam memberikan hukuman bagi penyalahgunaan narkotika adalah jenis hukum dan pelaksanaannya, yang dilandaskan pada pelaturan yang berlaku dimana hukum tersebut ditetapkan. Kedua hukum ini memiliki persamaan memberikan sanksi bagi yang menyalahgunakan narkotika, juga melibatkan peran serta masyarakat dan menganggap penyalahgunaan narkotika merupakan tindak pidana. Adapun perbedaan kedua hukum tersebut terletak pada bentuk hukuman, dimana dalam hukum Islam berupa cambukan dan hukum positif berupa pidana penjara dan sejumlah denda berupa uang yang diatur oleh hukum tersebut. Dalam hukum Islam, narkotika disalahgunakan atau tidak tetap hukumnya haram, adapun hukum positif narkotika disalahgunakan dilarang, jika tidak disalahgunakan sebagaimana untuk pengobatan dibolehkan. Tujuan kedua hukum tersebut adalash untuk mencegah dan menjerakan pengguna supaya tidak mengulangi perbuatannya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: b Pembimbing I : /b Drs. Makhrus Munajat, M.Hum., b Pembimbing II : /b Drs. Ocktoberrinsyah, M.Ag.
Uncontrolled Keywords: Sanksi, narkotika, hukum pidana Islam, UU No. 22 tahun 2007.
Depositing User: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:40
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/1210

Actions (login required)

View Item View Item