Epitemologi Tafsir kontemporer (Studi Komparatif antara Fazlur Rahman dan Muhammad Syahrur)

Abdul Mustaqim, NIM. 993141/S3 (2007) Epitemologi Tafsir kontemporer (Studi Komparatif antara Fazlur Rahman dan Muhammad Syahrur). PhD thesis, Pasca Sarjana.

[img]
Preview
Text (Epitemologi Tafsir kontemporer (Studi Komparatif antara Fazlur Rahman dan Muhammad Syahrur))
BAB I, VI, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (5MB) | Preview
[img] Text (Epitemologi Tafsir kontemporer (Studi Komparatif antara Fazlur Rahman dan Muhammad Syahrur))
BAB II, III, IV, V.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (21MB)

Abstract

Penelitian tentang epistemologi tafsir sangat penting dilakukan, sebab problem epistemologi sesungguhnya bukan hanya problem filsafat, tetapi juga problem seluruh disiplin ilmu-ilmu keislaman, termasuk tafsir. Munculnya tafsir kontemporer sebagai perkembangan sebuah disiplin ilmu juga banyak dipengaruhi oleh perkembangan dan perubahan epistemologi keilmuan itu sendiri. Disertasi ini mengkaji tentang bagaimana struktur dasar epistemologi tafsir kontemporer Fazlur Rahman dan Muhammad Syahrur, yang meliputi: 1) Apa hakikat tafsir menurut Fazlur Rahman dan Muhammad Syahrur? 2) Bagaimana metode tafsir yang digunakan oleh keduanya? dan 3) Apa tolok ukur kebenarannya? Berdasarkan kerangka teori the history of idea, melalui pendekatan historis-filosofis disimpulkan bahwa dalam sejarah tradisi penafsiran al-Qur'an, telah terjadi pergeseran epistemologi yang merupakan change dan continuity, yaitu: Pertama, era formatif yang berbasis pada nalar quasi kritis. Kedua, era afirmatif yang berbasis pada nalar ideologis dan ketiga, era reformatif yang berbasis pada nalar kritis. Dari pergeseran epistemologi tafsir tersebut, melalui metode analisis komparatif, dapat disimpulkan bahwa menurut Fazlur Rahman dan Muhammad Syahrur, hakikat tafsir dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, tafsir sebagai produk (Qur'anic interpretation as product) yang merupakan hasil interaksi dan dialektika antara teks, konteks (realitas) dan penafsirnya. la dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sosio-hitoris, geo-politik, bahkan juga latar belakang keilmuan serta "kepentingan" penafsirnya. Sebagai sebuah produk budaya, tafsir tidak hanya boleh dikritik, tetapi harus direkonstruksi jika tidak sesuai lagi dengan tuntutan problem masyarakat kontemporer. Tafsir sebagai sebuah produk pemikiran akan mengalami pluralitas dan bersifat relatif, intersubjektif, bahkan juga tentatif. Problem utama penafsiran sebenarnya adalah pemberian makna dan produksi makna. Meski demikian, ada perbedaan pandangan antara Rahman dan Syahrur tentang hakikat sebuah tafsir. Bagi Rahman hakikat tafsir adalah bagaimana seorang penafsir mampu menemukan makna otentik (original meaning) dari sebuah teks melalui konteks sosio-historis masa lalu, kemudian menangkap aspek ideal moral untuk melakukan kontekstualisasi makna di era sekarang. Sementara bagi Syahrur, tafsir tidak harus mencari original meaning. Seorang penafsir tidak harus menemukan makna otentik (original meaning) di masa lalu, melainkan bisa langsung mencari makna teks yang relevan di era sekarang, karena makna itu juga berkembang sesuai dengan nalar keilmuan kontemporer. Al-Qur'an harus dipandang seolah-olah baru turun kemarin, dan Nabi Saw. baru saja menyampaikannya kepada kita. Kedua, tafsir sebagai proses (Qur'anic interpretation as process), yaitu proses aktivitas interpretasi yang harus terus-menerus dilakukan, tanpa mengenal titik henti. Rahman dan Syahrur sama-sama sepakat bahwa al-Qur' an adalah kitab yang akan selalu relevan untuk segala ruang dan waktu, tetapi harus "dibaca" secara kreatif dan produktif, sehingga ia benar-benar mampu menjadi solusi alternatif bagi pemecahan problem-problem sosial-keagamaan umat Islam kontemporer. Untuk itu, Fazlur Rahman menggunakan dua metode pokok. Pertama, hermeneutika double movement, yakni upaya "membaca" al-Qur'an sebagai teks masa lalu dengan memperhatikan konteks sosio-historis untuk mencari nilai-nilai ideal moral, lalu kembali ke masa sekarang untuk melakukan kontekstualisasi terhadap pesan-pesan eternal-universal al-Qur'an yang hendak diaplikasikan di era kekinian. Kedua, metode tematik untuk menggali pandangan al-Qur'an yang holistik dan komprehensif dari al-Qur'an sendiri, sehingga subyektivitas dan bias-bias ideologi penafsir dapat dieliminasi sedemikian rupa. Sementara itu, Syahrur juga menggunakan dua metode pokok. Pertama, metode ijtihad dengan pendekatan "teori batas" (nazhariyyah al-hudud, limit theory) untuk membaca ayat-ayat muhkamat (ayat-ayat hukum). Dengan teori tersebut, sakralitas teks dapat terjaga, tetapi penafsirannya dapat fleksibel dan dinamis seiring dengan perkembangan zaman, yang penting masih berada dalam bingkai hududullah. Kedua, metode hermeneutika ta’wil melalui pendekatan linguistik dan saintifik yang diaplikasikan untuk menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat yang berisi informasi atau isyarat ilmu pengetahuan. Dengan begitu, ayat-ayat yang tadinya masih merupakan kebenaran teoritis rasional atau berupa realitas obyektif (alhaqiqah al-maudlu'iyyah) di luar kesadaran manusia, setelah dilakukan ta 'wil, akan menjadi sebuah teori ilmu pengetahuan (qanun) yang benar-benar sesuai dengan akal dan realitas empiris. Metode ta’wil ini ingin membuktikan kebenaran informasi teoritis "al-qur'an" (istilah khusus Syahrur), agar sesuai dengan realitas empiris, sehingga ada harmonisasi antara sifat absolut ayat-ayat "al-qur'an" dengan pemahaman relatif para pembacanya. lmplikasinya, Syahrur lalu kadang melakukan pemaksaan (takalluf) gagasan ekstra Qur'ani dan cenderung sewenang wenang dalam memaknai sebuah kalimat tertentu, agar sesuai dengan teori sains yang sudah ada. Metode ijtihad dan ta'wil tersebut, dalam istilah Syahrur dinamakan dengan pembacaan kontemporer (qira 'ah mu 'ashirah, contemporary reading), sebuah model pembacaan hermeneutis yang dimaksudkan untuk memberikan pemaknaan baru yang "tidak biasa" (de-familiarization), bahkan mendekonstruksi sama sekali terhadap produk-produk penafsiran konvensional. Adapun kebenaran tafsir dapat diukur dengan tiga teori. Pertama, teori koherensi. Artinya, tafsir dikatakan benar sejauh ada konsistensi logis-filosofis antara proposisi-proposisi yang dinyatakannya. Kedua, teori korespondensi. Artinya, produk penafsiran harus sesuai dengan kenyataan empiris di lapangan. Kebenaran tidak hanya pada dataran idealis-metafisis, tetapi harus realistis empiris sesuai dengan teori ilmu pengetahuan, khususnya dalam hermeneutika ta'wil Syahrur. Ketiga, teori pragmatis. Artinya, produk penafsiran dianggap benar selagi secara fungsional dapat menjadi solusi alternatif bagi pemecahan problem sosial keagamaan. Jika ternyata produk tafsir tidak lagi mampu menjadi solusi, berarti penafsiran tersebut boleh dinyatakan keliru, sehingga perlu ditinjau ulang dan direvisi. Ini berarti produk tafsir tidak hanya bersifat idealis-metafisis, tetapi juga harus realistis-empiris dan solutif terhadap problem-problem yang dihadapi masyarakat kontemporer. Dari kajian ini, paling tidak ada tiga implikasi pokok yang dapat dicermati. Pertama, implikasi bagi pengembangan metodologi tafsir di Indonesia. Kedua, rekonstruksi teologi. Ketiga, rekonstruksi sosial. Proposisi yang paling penting untuk dikemukakan dalam disertasi ini adalah bahwa perkembangan tafsir ternyata lebih banyak disebabkan oleh perubahan dan perkembangan epistemologi (taghayyur wa tathawwur al-tafsir bi taghayyur wa tathawwur nuzhum al-ma'rifi). Dengan demikian, untuk mengembangkan tafsir di Indonesia, mutlak diperlukan perubahan paradigma dan epistemologi dari nalar ideologis ke nalar kritis. Sebab meskipun situasi dan kondisi telah berubah, tetapi bila epistemologi tafsirnya tidak rnau berubah, maka perkembangan tafsir di Indonesia hanya akan berjalan di tempat (baca: stagnasi). Akibatnya, tafsir akan terjebak kepada pengulangan pendapat-pendapat masa lalu yang belum tentu relevan dengan konteks keindonesiaan, bahkan akan mengalami "kemandulan" dalam memberi solusi terhadap problem sosial-keagamaan masyarakat kontemporer yang semakin kompleks. Namun demikian, penggunaan nalar kritis dalam rangka kontekstualisasi tafsir, tetap didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: Pertama, menjaga hal-hal substantif dan konstan (ihtiram al-tsawabit) yang menjadi kesepakatan bersama secara rasional di antara academic community of interpreters, sehingga akan melahirkan tafsir yang lebih otoritatif-intersubjektif dan tetap mencerminkan pandangan yang pluralistik, bukan monolitik. Kedua, untuk menghindari pemaksaan gagasan ekstra Qur'ani seperti yang dilakukan Syahrur, maka al Qur'an tidak diposisikan sebagai 'justifikasi" teori ilmiah, melainkan cukup sebagai inspirasi dan motivasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Ketiga, pengembangan tafsir kontemporer tidak harus meninggalkan sama sekali terhadap turats (warisan khazanah keilmuan masa lalu), agar tidak terjadi diskontinuitas sejarah keilmuan tafsir. Sebab apa yang dianggap sebagai ''tidak berguna" di saat sekarang, boleh jadi akan berguna di saat yang akan datang. Karenanya, warisan masa lalu harus dipandang secara kritis, adil dan proporsional sesuai dengan konteks epistem yang berkembang pada waktu itu. Di sisi lain, penulis juga melihat pentingnya mengembangkan kajian tafsir pada wilayah living Qur'an. Karena kajian ini akan lebih banyak mengapresiasi respons dan tindakan masyarakat terhadap kehadiran al-Qur'an, sehingga tafsir tidak bersifat elitis, tetapi juga emansipatoris yang melibatkan partisipasi masyarakat. Maka pendekatan fenomenologi dan analisis ilmu-ilmu sosial-humaniora tentunya menjadi sangat penting dalam hal ini. Wa Allah a'lam bi al-shawab.

Item Type: Thesis (PhD)
Uncontrolled Keywords: Kata Kunci : Tafsir Kontemporer
Subjects: Ilmu Agama Islam
Divisions: Pascasarjana > Disertasi > Study Islam
Depositing User / Editor: Dra. Irhamny
Date Deposited: 28 Oct 2014 04:24
Last Modified: 07 Apr 2015 03:00
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/14300

Actions (login required)

View Item View Item