NILAI EDUKATIF KISAH AL QUR'AN

H. M. RADHI AL HAFID, 89128 / S3 (1995) NILAI EDUKATIF KISAH AL QUR'AN. PhD thesis, PASCA SARJANA.

[img]
Preview
Text (NILAI EDUKATIF KISAH AL QUR'AN)
BAB I, IV, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (14MB) | Preview
[img] Text (NILAI EDUKATIF KISAH AL QUR'AN)
BAB II, III.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (19MB)

Abstract

Kajian ini, permasalahanya berkisar pada nilai edukatif yang terkandung dalam kisah-kisah Alquran. Apakah kisah tersebut mengandung nilai hidup yang universal? Dimana letaknya pada relasi dan hirarki nilai hidup bagi umat manusia? Dan mengapa penting dalam proses pematangan hati nurani seseorang dan jati diri masyarakat? Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, modelstudi multi displiner, studi Alquran dengan studi tarbiyah islamiyah-khususnya pendidikan nilai; ayat-ayat yang mengandung kisah, dihimpun dengan metode Tafsir maudu'i. Hasilnya, suntingan terjemahan kisah dalam: (1) Klaster A berisi tujuh kisah "lengkap", (2) Klaster B berisi sepuluh kisah "Konflik sosial-kemasyarakatan dan kejiwaaan", dan (3) Klaster C berisi dua belas kisah singkat mengenai sketsa kehidupan kaum dan hamba Allah. Dengan metode strukturalistik-semiotik, kisah-kisah tersunting dianalisis unsur-unsurnya ekstrinsik dan intrinsik. Hasilnya, secara umum memperlihatkan suatu keserasian unsur, di samping saling terkait, dan integratif juga memperlihatkan adanya muatan yang jelas dan mempesona tentang amanat sentral kisah berupa pesan-pesan keagamaan. Dan secara khusus menyuguhkan gambaran mengenai : (1) kehidupan manusia dari "alam gaib" kemudian turun menghuni bumi, sesudah itu bergulir menuju ke akhirat; (2) bahwa Allah swt. Selain menempati posisi tokoh utama pada semua kisah, juga menepati peran sentral selaku "Pencipta, Pemelihara dan Mahakuasa bersama segala kemahasempurnaan-Nya" terhadap jagat raya dan alam semestanya umunya, serta dunia dan umat manusia khususnya; (3) bahwa manusia selaku, abdun terpola pada hamba yang beriman dan hamba yang kafir. Selaku nafsun berada dalam dinamika perkembangan, meski pada satu sisi kelihatannya merdeka dan bebas menentukan pilihan-pilihan, tetapi pada sisi lain, tetap dalam batas sunnatullah. Dan selaku qaumun, mereka memang dapat berbuat apa saja, taat terhadap Allah dan rasul-Nya, atau mendurhakai-Nya mempunya 'ajal' atau ambang batas sesuai qada dan taqdir Allah swt. Dengan metode interaksi-simbolistik tokoh-tokoh kisah dianalisi: "isi dan bentuk kisah, keserasian unsur, serta amanat sentral", maka terlihat bahwa : (1)funsi utama kisah, untuk mematangkan hati nurani nabi Muhammad saw., dan jati diri umatnya; (2) terlihat bahwa Allah swt., di samping melakonkan peran ketuhanan bersama kemahasempurnaan-Nya, juga Dia "Pendidik Agung" terhadap manusia, khususnya terhadap para nabi, rasul dan hamba pilihan-Nya; (3) terlihat pula bahwa para tokoh kebaikan kisah rassul, nabi dan hamba pilihan lainya di samping menjadi subyek didik dari Allah awt., juga sekaligus memerankan lakon selaku 'pendidik utama" bagi kaum dan umatnya, bahkan untuk manusia sepanjang sejarahnya. Adapun nilai-nilai edukatif yang dapat mematangkan hati nurani dan jati diri, terlihat pada: (1) ralasi dan hirarki nilai vertikal-liner untuk memantapkan akidah dan mengembangkan akhlak; (2) pemaduan pengalaman pspiritual dengan pengalaman empiris; (3) keteladanan tokoh-tokoh kebaikan dan penolakan terhadap tokoh-tokoh kejahatan pada kepribadian, perilaku dan penampilannya masing-masing. Pada aksi dan iteraksi tokoh-tokoh kisah klaster A, diperoleh gambaran enam model pematangan. Dari keenam model ini terinternalisasi nilai-nilai hidup yang meliputi semua aspek kehidupan, yang terangkum dalam: (1) norma transmetafisika, (2) norma performans-spiritual, dan (3) norma etik-humanistik. Dari kisah-kisah Klaser B diperoleh gambaran norma horisontal-sekuensial pada kaum yang kafir, juga norma vertikal linier pada kaum dan hamba yang beriman. Pada yang pertama menjadi ajang bagi hati nurani dan jati diri yang tumpul dan tertutup. Sedangkan pda yang kedua ajang bagi hati nurani untuk menangkap "Nurullah". Adapun dari kisah Klaser C, diperoleh gambaran mengenai norma baik-buruk pada sketsa kehidupan kaum, dan pada sketsa kepribadian individu. Sekilas terlihat konflik antaraa pengalaman empiris dan pengalaman spriritual. Yang dapat memadukan antara keduanya menjadi hamba dan kaum yang beriman, sedang yang tidak dapat, lambat atau cepat akan menjadi hamba atau kaum yang kafir. Pembentukan nilai tergambar dari proses internalisassi nilai-nilai vertikal-linier dari tokoh-tokoh kebaikan, serta nilai-nilai horisontal sekuensial pada tokoh-tokoh kejahatan. Dari padanya dirumuskan tiga strategi, yaitu strategi Mau'izah-nasihat tentang amar ma'ruf dan nahi munkar, zikra- peringatan dengan pengulangan - dan 'ibrah- pendalaman dan pemahaman esensi-. Dua yang pertama tertuju pada hamba dan kaum yang awam, sedang untuk "ulu al-albab" semestinya dilengkapi dengan yang ketiga. Ketiga strategi secara runtun diarahkan utnuk internalisasi tiga nilai universal dalam hati nurani seseorang dan jati diri masyarakat, yaitu : (1) nilai ketuhanan yang dalam perkembangannya, berada dalam rentan keimanan dengan kekafiran, makin lama makin kuat, atau kebalikanya makin lama makin lemah; (2) nilai kemanusiaan yang dalam perkembanganya berada dalam rentan jiwa yang bebas dengan jiwa yang terbelenggu, yang pertama potensi ruhiyyah-nya berfungsi menuju pribadi muslim yang berakhlak mulia, sementara pada yang kedua, potensi itu kurang berfungsi, malah sama sekali tidak berfungsi sehingga menjadi pribadi yang sesat dan zalim; (3) nilai kemasyarakatan yang dalam perkembangannya berada dalam rentan kaum yang taat pada Allah swt., dan rasul-Nya; yang pertama dibawa pemimpin yang beriman dan bertaqwa menuju kaum yang makin lama makin aman, sejarahtera dan tentram dalam pengampuan Allah dan pemeliharaa-Nya, sementara yang kedua kebalikanya, ketiadaan iman dari pemimpinnya, melimpah, namun pada hakekatnya, lambat atau cepat menuju kebinasaan dan turunya azab, biasanya berupa bencana alam. Hasil kajian tersebut selain menempatkan kisah pada posisinya yang proporsional untuk perumusan model-model strategi belajar-mengajar nilai-nilai hidup yang islami-khususnya di bumi Indonesia- dengan menjadikan kisah Alquran sebagai medianya, juga "temuan nilai-nilai eduklatif" itu dapat menjadi tesis penelitian lanjutan, baik yang bersifat eksploratif, misal dalam perumusan kurikulum pendidikan nilai, dan metodologinya, maupun yang bersifat developmental untuk studi multi disipliner, misalnya dalam telaah filologik, folklore, dan historis kritis.

Item Type: Thesis (PhD)
Uncontrolled Keywords: pendidikan, kisah, al Qur'an
Subjects: Ilmu Agama Islam
Divisions: Pascasarjana > Disertasi > Ilmu Agama Islam
Depositing User / Editor: Users 99 not found.
Date Deposited: 07 Nov 2014 09:27
Last Modified: 07 Apr 2015 03:33
URI: https://digilib.uin-suka.ac.id:80/id/eprint/14438

Actions (login required)

View Item View Item