KEBERAGAMAAN OTENTIK DALAM EKSISTENSIALISME RELIGIUS KAJIAN ATAS PEMIKIRAN SOREN KIERKEGAARD DAN MUHAMMAD IQBAL SERTA IMPLIKASINYA BAGI KEBERAGAMAAN KONTEMPORER

ALIM ROSWANTORO, NIM. 083119 (2007) KEBERAGAMAAN OTENTIK DALAM EKSISTENSIALISME RELIGIUS KAJIAN ATAS PEMIKIRAN SOREN KIERKEGAARD DAN MUHAMMAD IQBAL SERTA IMPLIKASINYA BAGI KEBERAGAMAAN KONTEMPORER. Doctoral thesis, UIN SUNAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text (KEBERAGAMAAN OTENTIK DALAM EKSISTENSIALISME RELIGIUS KAJIAN ATAS PEMIKIRAN SOREN KIERKEGAARD DAN MUHAMMAD IQBAL SERTA IMPLIKASINYA BAGI KEBERAGAMAAN KONTEMPORER)
BAB I, VII, DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (4MB) | Preview
[img] Text (KEBERAGAMAAN OTENTIK DALAM EKSISTENSIALISME RELIGIUS KAJIAN ATAS PEMIKIRAN SOREN KIERKEGAARD DAN MUHAMMAD IQBAL SERTA IMPLIKASINYA BAGI KEBERAGAMAAN KONTEMPORER)
BAB II, III, IV, V, VI.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (19MB)

Abstract

Dalam kurun waktu pertengahan Abad ke-20 sampai awal Abad ke-21 ini, kehidupan keagamaan justru menemukan kebangkitannya kembali yang ditandai dengan kemunculan semangat baru berupa paham-paham dan kelompok-kelompok keagamaan baru, di samping paham-paham dan kelompok-kelompok lama yang terus melakukan revitalisasi. Kenyataan ini tentu membalik asumsi bahwa semakin modern suatu masyarakat, semakin terkikis kehidupan religius. Sayangnya, di balik kebangkitan religius muncul berbagai perilaku keagamaan yang mengarah pada kekerasan keagamaan dengan menggunakan kekuatan massa. Kebebasan beragama secara individual dalam kaitan ini bisa terdeterminasi oleh keagamaan kolektif. Oleh karena itu, hubungan antara keberagamaan individual dan keberagamaan kelompok menjadi masalah kontemporer yang krusial. Penelitian ini mencoba mengatasi persoalan tersebut dengan membahas tentang eksistensialisme religius Soren Kierkegaard dan Muhammad Iqbal, keberagamaan otentik yang bisa dipahami di balik eksistensialisme religius keduanya, hubungan antara keberagamaan individual dan kolektif yang bisa dikonstruksi dari keberagamaan otentik keduanya, dan implikasi-implikasinya bagi keberagamaan kontemporer. Pembahasan ini dipandang penting karena memiliki nilai kontribusi pada pemecahan persoalan keberagamaan dewasa ini yang terkesan masih belum secara maksimal menyadari bahwa ruang keberagamaan pribadi adalah hal mendasar, pertama dan utama yang dari sini keberagamaan setiap orang dimulai. Keberadaannya mendahului determinasi-determinasi keberagamaan dari luar termasuk kelompok-kelompok keagamaan kolektif. Pembebasan masalah-masalah tersebut dilakukan secara deskriptif-komparatif dan analisis-komparatif dengan gaya menganyam topic-topik yang secara sama diangkat oleh kedua eksistensialis religius ini. Dalam memahami, mengurai, menginterpretasi dan mengambil makna serta nilai-nilai implikasinya bagi kecenderungan keberagamaan dewasa ini, penelitian ini menggunakan pendekatan ontologism dan hermeneutika eksistensial. Hasil temuan penelitian ini adalah bahwa eksistensialisme religius Soren Kierkegaard dan Muhammad Iqbal secara ontologism memiliki banyak kesamaan meskipun berangkat dari latar belakang agama yang berbeda. Keduanya memahami eksistensi manusia tidak bisa dilepaskan dari eksistensi Tuhan yang dimengerti sebagai suatu Individualitas Murni, menurut Kierkegaard, atau Ego Mutlak, menurut Iqbal. Keberadaan Tuhan justru menjamin suatu kebebasan yang sesungguhnya, karena Dia mengajarkan bahwa untuk menjadi diri, manusia dengan selalu mengaktualisasikan individualitasnya. Manusia dipandang bebas manakala individualitasnya diasah dan diteguhkan terus menerus, hingga menjadi kekuatan diri yang tumbuh dari dalam, bukan dari luar atau dari orang lain atau sekelompok orang. Penemuan diri, keduanya sepakat, dihasilkan dari proses perkembangan eksistensial manusia, perbedaannya kalau Kierkegaard memasukkan tahap aestetika, seddangkan Iqbal tidak, karena dinilai sebagai pra religius. Eksistensi manusia otentik menjadi penting dan ditekankan dalam eksistensialisme religius keduanya, dan menjadi dasar ontologism bagi pembangunan keberagamaan otentik. Penekanan keberagamaan otentik yang dicirikan keberagamaan dari dalam dengan prinsip kebebasan yang terus memberikan ruang keberagamaan pribadi bagi orang lain membawa keduanya pada penolakan esensialisme keberagamaan yang dinilai memasung keberagamaan individu dan menghentikan dinamika keberagamaan. Bagi keduanya, keberagamaan selalu dalam proses pengembangan dan aktualisasi diri, bukan penegasian diri dan penyeragaman keberagamaan. Kierkegaard menolak Kristendom dan Kekristenan formal karena paradigm esensialisme berjalan pada keduanya, sedangkan Iqbal menolak sufisme panteistik dan rasionalisme religius Mu’tazilah karena, disampinmg cirri esensialismenya menegasikan individualitas. Penolakan esensialisme keberagamaan membawa Kierkegaard paada penolakan keberagamaan kolektif, sementara Iqbal tetap menerima keberagamaan kolektif sepanjang tetap memprioritaskan keberagamaan individu di atas kehendak dan tekanan keberagamaan kelompok. Keberagamaan otentik keduanya memiliki implikasi bagi pembangunan kemandirian keberagamaan sebgai kesadaran ontologism yang harus dimakllumi oleh setiap orang dan komunitas beragama. Sepanjang orang menjalankan kemandirian dalam beragama, orang tidak mudah larut ke dalam praktek pemaksaan dan kekerasn keagamaan oleh suatu kolektivisme keagamaan. Dengan menjunjung tinggi nilai kebebasan keberagamaan melalui dorongan demokratisasi keberagamaan oleh kelompok-kelompok dominan dalam masyarakat, praktek moboreligiusme bisa diminimalisir

Item Type: Thesis (Doctoral)
Additional Information / Pembimbing: Promotor : Prof. Dr. H. Musa Asy'arie
Subjects: Ilmu Agama Islam
Divisions: Pascasarjana > Disertasi > Ilmu Agama Islam
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum, S.Kom ------- youtube : ulum virgo -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 16 Dec 2014 06:57
Last Modified: 09 Apr 2015 03:01
URI: https://digilib.uin-suka.ac.id:80/id/eprint/15173

Actions (login required)

View Item View Item