PERAN KULTUR MADRASAH DALAM PEMBENTUKAN KONSEP DIRI RELIGIUS SISWA (STUDI KOMPARATIF DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI PENDIDIKAN ISLAM DI MA KOTA KECAMATAN, KOTA KABUPATEN, KOTAMADYA YOGYAKARTA)

SUBIYANTORO, - (2015) PERAN KULTUR MADRASAH DALAM PEMBENTUKAN KONSEP DIRI RELIGIUS SISWA (STUDI KOMPARATIF DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI PENDIDIKAN ISLAM DI MA KOTA KECAMATAN, KOTA KABUPATEN, KOTAMADYA YOGYAKARTA). JPSD (Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar).

[img]
Preview
Text
SUBIYANTORO.pdf

Download (4MB) | Preview

Abstract

This study aims to: (1) Determine how the socio-cultural-educational Madrasah Aliyah, in city sub-district, city districts, and the Municipality of Yogyakarta. (2) Determine how buildsthe self-concept of students in the process of religious education in Madrasah Aliyah in the Sub-District city, districts city, and in the Municipality of Yogyakarta. (3) Determine how the important of culture Madrasah, in buildsthe self-concept religious Madrasah Aliyah students in the Subdistricts city, districts city, and in the Municipality of Yogyakarta. The results shows that (1) Images ofthe madrasah culture "material culture" ofthirdMAN in the state programmed, organized, neat, clean, and some have "shade/green", because of the power figures are consistently portrayed by Principals or Head of Administration. Portrait madrasah culture "culture activities" of religious MAN was almost the same third tadarusin the morning, dhuhur congregation prayers, Friday prayers, Quran reading guidance. There are two supplements that add madrasah activity, madrassa adding that the self-development activities "Missionary Candidate" and "Satur:day Islamic School Sunday•' (Wisdom). What distinguishes the three madrasas in this field is the intensity and istiqomah in guarding program. (2) in the formation of students' self-concept of religiosity is the third MAN, not just rely on PAl learning in the classroom, but they also build activities outside the classroom, although the "spirit" of the managers "equal" that is sought to enable the students to have high religiosity, but MAN municipality has a higher spirit. (3) in terms of the role of culture in fostering religiosity madrassa students, the existence of an identity Principals or other figure, very involved, and the presence of factors "habituation" and activities "istiqomah ". In municipality, MAN environment teacher more progressive, critical and reactive. It is a hallmark of positive bias control "vision". Jn an environment where getting to the bottom (at the district and sub-district town), and control the character look even weaker. Besides, that "Work Ethics" Municipality MAN also more awake than the other two MAN----- Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui bagaimana kondisi sosiokultural- edukatif Madrasah Aliyah, di kota Kecamatan, kota Kabupaten, dan di Kotamadya Yogyakarta. (2) Mengetahui bagaimana pembentukan konsep diri religius siswa pada proses pendidikan di Madrasah Aliyah di kota Kecamatan, kota Kabupaten, maupun di Kotamadya Yogyakarta. (3) Mengetahui bagaimana peran ku/tur Madrasah, dalam pembentukan konsep diri religius siswa Madrasah Aliyah di kota Kecamatan, kota Kabupaten, dan di Kotamadya Yogyakarta. Hasil pene/itian menunjukkan bahwa (1) Potret kultur madrasah "material culture" dari ketiga MAN dalam kondisi terprogram, tertata, rapi, bersih dan sebagian sudah "rindanglhijau ", karena adanya jigur penggerak secara konsisten diperankan oleh Kepafa Madrasah atau Kepafa Tata Umha. Potret kultur madrasah "aktivitas kultur" keagamaan dari ketiga MAN itu hampir sama yakni tadarus pagi. shalat dhuhur berjama 'ah, shalat Jum 'at, bimbingan baca Al-Qur 'an. Ada dua madrasah yang menambah suplemen kegiatan, yakni dengan Kultum Dhuhur yang melibatkan pejabat instansi kecamatan setempat, dan satu madrasah menambah dengan kegiatan pengembangan diri "Caton Mubaligh" dan "Pesantren Sabtu Ahad" (PETUAH). Yang membedakan dari ketiga madrasah dalam bidang ini ada/ah intensitas dan istiqomahnya dalam mengawaf program. (2) Dalam pembentukan kosep diri religiusitas siswa dari ketiga MAN ini, tidak hanya mengandalkan pembelajaran PAl di kelas, tetapi mereka juga membangun aktivitas di luar kef as, walau "semangat" dari para pengelo/anya "soma" yakni mengupayakan agar para siswa memiliki religiusitas tinggi, tetapi MAN Kotamadya memilil..i semangat yang lebih tinggi. (3) Da/am hal peran kultur madrasah dalam pembinaan religiusitas siswa, adanya ide seorang Kepala Madrasah atau figur lain, sangat berperan, dan adanya faktor "pembiasaan" serta kegiatan yang "istigomah ". Lingkungan MAN Kotamadya guru lebih progesif. J..rritis dan reaktif. Hal positif dari ciri terse but bisa mengontro/ "visi" . Dalam lingkungan yang semakin ke bawah (di kola Kabupaten dan kota Kecamatan), karakter dan kontrol tersebut terlihat semakin melemah. Disamping itu, bahwa "Eros Kerja" MAN Kotamadya juga febih terbangun dibanding dua MAN yang lain.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Keywords: kultur madrasah, konsep diri, religius Keywords: Madrasah culture, self-concept, religius
Subjects: Artikel
Divisions: Artikel (Terbitan Luar UIN)
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum [IT Staff] ---- youtube : ulum virgo -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 24 Apr 2015 08:33
Last Modified: 24 Apr 2015 08:33
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/15858

Actions (login required)

View Item View Item