RESILIENSI SINGLE PARENT PADA KELUARGA BURUH TANI: STUDI KASUS SINGLE PARENT KARENA PERCERAIAN ILEGAL DI DESA GELANGGANG, KEC. SAKRA TIMUR, KAB. LOMBOK TIMUR, NTB

SAPRIN, NIM. 1320010005 (2015) RESILIENSI SINGLE PARENT PADA KELUARGA BURUH TANI: STUDI KASUS SINGLE PARENT KARENA PERCERAIAN ILEGAL DI DESA GELANGGANG, KEC. SAKRA TIMUR, KAB. LOMBOK TIMUR, NTB. Masters thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (RESILIENSI SINGLE PARENT PADA KELUARGA BURUH TANI: STUDI KASUS SINGLE PARENT KARENA PERCERAIAN ILEGAL DI DESA GELANGGANG, KEC. SAKRA TIMUR, KAB. LOMBOK TIMUR, NTB)
1320010005_bab-i_iv-atau-v_daftar-pustaka.pdf

Download (1MB) | Preview
[img] Text (RESILIENSI SINGLE PARENT PADA KELUARGA BURUH TANI: STUDI KASUS SINGLE PARENT KARENA PERCERAIAN ILEGAL DI DESA GELANGGANG, KEC. SAKRA TIMUR, KAB. LOMBOK TIMUR, NTB)
1320010005_bab-ii_sampai_sebelum-bab-terakhir.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (1MB)

Abstract

Resiliensi merupakan kemampuan seseorang untuk menghadapi permasalahan hidupnya dengan efektif dan efsisien. Tingkat resiliensi seseorang di tengah masyarakat tergantung pada kemampuannya untuk mengelola berbagai sumberdaya yang tersedia di lingkungan sosial di mana ia berada. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya tingkat perceraian yang terjadi di Indonesia, terutama di di Provinsi Nusa tenggara barat, khususnya di daerah Lombok. Pada tahun 2007 tingkat perceraian yang secara formal sebanyak 2.619 kasus dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 2.851 kasus, kemudian pada tahun 2011 meningkat lagi menjadi 3.736 kasus. Dari proses perceraian itu, memberikan dampak kepada timbulnya masalah-masalah baru yang dihadapi oleh pelaku perceraian, seperti masalah ekonomi, psikologis, masalah mengasuh dan membesarkan anak, terlebih kepada orang yang menjadi orang tua tunggal (single parent). Dari proses perceraian itu juga, memaksa seorang single parent untuk melakukan peran ganda, yaitu peran mestik dan peran publik. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui bagaimana proses pembentukan resiliensi single parent pada keluarga buruh tani yang disebabkan perceraian non-formal, aspek-aspek resiliensi single parent-nya, dan faktor apa saja yang mempengaruhi resiliensi single parent pada keluarga buruh tani yang disebabkan perceraian non-formal. Penelitian ini dilakukan di Desa Gelanggang, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Karena Lombok dikenal sebagai pulau yang dengan tingkat perceraian formal yang tinggi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, data yang diperoleh melalui proses pengamatan, proses wawancara, dan dokumentasi. Untuk proses analisis data peneliti menggunakan analisis deskriptif analitik, sedangkan yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang pria dan wanita. Karakteristik subjek penelitian yaitu single parent yang mengalami perceraian yang secara non-formal dengan usia 56 tahun dan 58 tahun dan mengalami perceraian selama 10 tahun dan 17 tahun. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa proses pembentukan resiliensi kedua subjek yaitu dengan beberpa tahap; pertama, Proses memahami kembali akan tanggung jawab sebagai orang tua. Kedua, Sering mengikuti kegiatan-kegiatan baik itu kegiatan keagamaan maupun sosial. Ketiga, Adanya dukungan dari keluarga maupun sahabat berupa bantuan ekonomi dan semangat. Keempat, Proses penyelesaian masalah baik itu dengan kemampuan diri sendiri, maupun dengan mencari bantuan dari sumberdaya manusia yang ada. Selain itu, aspek-aspek resiliensi dari kedua informan yaitu; Pertama, memiliki kemampuan regulasi emosi. Kedua, optimism. Ketiga, empati. Keempat, efikasi diri, dan yang Kelima, pencapaian. Kemudian faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi yaitu; intraksi antara faktor protektif yang berasal dari internal dan eksternal, dengan faktor resiko yang berasal dari internal dan eksternal.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information / Pembimbing: vi ABSTRAK Resiliensi merupakan kemampuan seseorang untuk menghadapi permasalahan hidupnya dengan efektif dan efsisien. Tingkat resiliensi seseorang di tengah masyarakat tergantung pada kemampuannya untuk mengelola berbagai sumberdaya yang tersedia di lingkungan sosial di mana ia berada. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya tingkat perceraian yang terjadi di Indonesia, terutama di di Provinsi Nusa tenggara barat, khususnya di daerah Lombok. Pada tahun 2007 tingkat perceraian yang secara formal sebanyak 2.619 kasus dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 2.851 kasus, kemudian pada tahun 2011 meningkat lagi menjadi 3.736 kasus. Dari proses perceraian itu, memberikan dampak kepada timbulnya masalah-masalah baru yang dihadapi oleh pelaku perceraian, seperti masalah ekonomi, psikologis, masalah mengasuh dan membesarkan anak, terlebih kepada orang yang menjadi orang tua tunggal (single parent). Dari proses perceraian itu juga, memaksa seorang single parent untuk melakukan peran ganda, yaitu peran mestik dan peran publik. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui bagaimana proses pembentukan resiliensi single parent pada keluarga buruh tani yang disebabkan perceraian non-formal, aspek-aspek resiliensi single parent-nya, dan faktor apa saja yang mempengaruhi resiliensi single parent pada keluarga buruh tani yang disebabkan perceraian non-formal. Penelitian ini dilakukan di Desa Gelanggang, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Karena Lombok dikenal sebagai pulau yang dengan tingkat perceraian formal yang tinggi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, data yang diperoleh melalui proses pengamatan, proses wawancara, dan dokumentasi. Untuk proses analisis data peneliti menggunakan analisis deskriptif analitik, sedangkan yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang pria dan wanita. Karakteristik subjek penelitian yaitu single parent yang mengalami perceraian yang secara non-formal dengan usia 56 tahun dan 58 tahun dan mengalami perceraian selama 10 tahun dan 17 tahun. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa proses pembentukan resiliensi kedua subjek yaitu dengan beberpa tahap; pertama, Proses memahami kembali akan tanggung jawab sebagai orang tua. Kedua, Sering mengikuti kegiatan-kegiatan baik itu kegiatan keagamaan maupun sosial. Ketiga, Adanya dukungan dari keluarga maupun sahabat berupa bantuan ekonomi dan semangat. Keempat, Proses penyelesaian masalah baik itu dengan kemampuan diri sendiri, maupun dengan mencari bantuan dari sumberdaya manusia yang ada. Selain itu, aspek-aspek resiliensi dari kedua informan yaitu; Pertama, memiliki kemampuan regulasi emosi. Kedua, optimism. Ketiga, empati. Keempat, efikasi diri, dan yang Kelima, pencapaian. Kemudian faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi yaitu; intraksi antara faktor protektif yang berasal dari internal dan eksternal, dengan faktor resiko yang berasal dari internal dan eksternal. Kata kunci : resiliensi, single parent, perceraian non-formal.
Uncontrolled Keywords: Kata kunci : resiliensi, single parent, perceraian non-formal.
Subjects: Pekerjaan Sosial
Divisions: Pascasarjana > Thesis > Interdisciplinary Islamic Studies
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum [IT Staff] ---- youtube : ulum virgo -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 30 Sep 2015 14:34
Last Modified: 30 Sep 2015 14:34
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/17391

Actions (login required)

View Item View Item