SYARI'AH DALAM PANDANGAN MUHAMMAD SAID AL ASYMAWI DAN ABDULLAHI AHMED AN NAIM

ZULFADLI, NIM. 02361291 (2007) SYARI'AH DALAM PANDANGAN MUHAMMAD SAID AL ASYMAWI DAN ABDULLAHI AHMED AN NAIM. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (SYARI' AH DALAM PANDANGAN MUHAMMAD SAID AL ASYMA WI DAN ABDULLAID AHMED AN NAIM)
BAB I, V, DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (15MB) | Preview
[img] Text (SYARI' AH DALAM PANDANGAN MUHAMMAD SAID AL ASYMA WI DAN ABDULLAID AHMED AN NAIM)
BAB II, III, IV.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (30MB)

Abstract

Diskursus tentang syariah Islam selalu menjadi tema hangat dan menarik banyak kalangan, baik para intelektual Islam maupun para orientalis. Pemandangan tersebut menjadi bukti kuat. bahwa syariat merupakan arena konstelasi dan tari.k ulur perdebatan, baik pada dataran wacana maupun politik praktis. Sedikitnya ada tiga arus besar yang mengemuka dalam menyikapi syariat Islam. Pertama, kelompok formalisasi syariat yang menghendaki syariat Islam dijadikan landasan riil dala:m berbangsa dan bernegara. Karena syari 'at adalah entitas yang mengatur seluruh aspek kehidupan man usia. Kedua, kelompok deformalisasi syariat Islam, yang memandang agama merupakan urusan individu yang hams dilepaskan dari negara. Ketiga, kelompok moderat berposisi mengambil jalan tengah memilih pemaknaan syariat secara subtantif Penerapan syari 'at Islam lebih menekankan pada subtansi ketimbang fonnalisasi. Kelompok ini menolak sek'Ularisasi dan islamisasi, dan berusaha untuk mengintegrasikan syari'at dalam konteks kehidupan berbangsa dan bemegara. Berbagai upaya telah dilakukan oleh para intelektual muslim dalam menanggapi persoalan tersebut. Muhammad Said al Ashmawi, salah seorang intelektual garda depan dari mesir memandang bahwa syari 'at arlalah al-manhiij (metode), murid al-ma ' (sumber air) dan tarlq dan sabil (jalan). Menurutnya pemaknaan syari'ah yang berarti seperangkat hukum praktis aphkatif yang diekplorasi al-Qur'an bukan merupakan arti yang dikehendaki ai-Qur'an, melainkan konstruksi sejarah dalam waktu tertentu. Sehingga tidak heran dalam konteks depolitisasi agama, Muhammad Said al-Asymawi menuJis: "Allah menghendaki Islam menjadi agama, akan tetapi sebagian kelompok mcnginginkan islam sebagai politik". Agama adaJah u.niversal dan huntanis. Sedangkan politik adalah wilayah yang sempit, Jokal, temporal dan sektarian. Politisasi agama hanya akan mempersempit ruang lingkup agama yang luas, humanis, inklusif dan universal. Agama akan membawa manusia pada puncak kemanusiaan, sedangkan politik (bisa) menjerumuskan manusia pada jarang terendah kemanusiaan. Karenanya, politik yang berlandaskan agama, atau agama yang menggunakan politik hanya akan memposisikan agama dan politik dalam wilayah kontlik, pembunuhan dan peperangan yang tidak kunjung selesai bahkan hanya digunakan untuk memperkuat kekuasaan. Dengan demikian, syariat yang dipolitisasi banya akan menguatkan kekuasaan. Sebaliknya syariat yang mendorong demokrasi, pluralisme dan egaliteranisme akan mendorong terbentuknya masyarakat yang adil dan berkeadaban. Sejatinya syariat tidak dijadikan'' agama yang absolut" rnelainkan jalan yang akan membentangkan perubahan dan transfonnasi sosial. Sementara Abdullahi Ahmed An Nairn salah seorang muslim kelahiran Sudan, pengikut setia Ustadz Mahmoud Mohammed Taha (1910-1935), yang dihukum mati oleh rezim Numeyri, pernah kecewa terhadap penerapan syari'at Islam di Sudan. Menurut An Nairn problem utama hukum Islam di dunia modern adalah kesulitan dalam merespons modemitas. Ketika berhadapan dengan problem modemitas, hukum Islam barns mampu berwatak ganda, disatu sisi sebagai sebagai perwujudan hukum Tuhan, ia harus mampu merespons modernitas, sedangkan di sisi lain hams mampu bersikap akomodatif terhadap tuntutan perkembangan zaman. Selama urnat Islam masih tetap berpegangan dalam menetapkan syari'at, umat Islam tidak akan pemah bisa keluar dari laisis yang melinglrupinya. Apalagi syari'at yang diterapkan tidak mengindahkan hakhak perempuan, non muslim, HAM, demokrasi, konstituante dan hukum International. Oleh karena itu An Nairn memandang perlu untuk melakukan refonnasi terhadap syari'ah historis selama ini. Untuk merekonstruksi syari'at tersebut hendaknya umat Islam agar kembali mempertimbangkan ulang konsep nasrudl yang ada selama ini. Menurutya ayat-ayat Mekah lebih bersifat universalagalitarian- demokratik ketimbang ayat-ayat Medinah yang sekariandiskrim inatif.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: DR. H. SUSIKNAN AZHARI, M.Ag
Subjects: Perbandingan Madzhab
Divisions: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan > Tadris - Biologi, B. Inggris, Kimia, Matematika, Fisika (S1)
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum, S.Kom ------- youtube : ulum virgo -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 19 Nov 2015 07:11
Last Modified: 19 Nov 2015 07:11
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/18389

Actions (login required)

View Item View Item