KONSTRUKSI GENDER DALAM STRUKTUR MUHAMMADIYAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

DENDI SUTARTO, NIM. 04541566 (2009) KONSTRUKSI GENDER DALAM STRUKTUR MUHAMMADIYAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (KONSTRUKSI GENDER DALAM STRUKTUR MUHAMMADIYAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)
BAB I, V, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (967kB) | Preview
[img] Text (KONSTRUKSI GENDER DALAM STRUKTUR MUHAMMADIYAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (947kB)

Abstract

Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi sosial-keagamaan yang terbesar di Indonesia, yang berpusat di Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Organisasi ini didirikan pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 Nopember 1912 M di Yogyakarta oleh K.H.Ahmad Dahlan. Dalam berkiprah Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan sosial keagamaan dan pembaharuan dengan semboyan: quot;Kembali kepada Al-Qur'an dan al-Sunnah quot;. Tujuan Muhammadiyah sebagai gerakan pemurnian dan pembaharuan, serta kembali kepada Al-Qur'an dan al-Sunnah. Kelahairan Muhammadiyah sebagai suatu bentuk gerakan sosial keagamaan dengan berlandaskan pada asas Islam, namun ajaran Islam yang telah mengalami pelembagaan secara sosial di Muhammadiyah seringkali berbenturan dengan praktek sosial terutama dalam hubungan interrelasi sosial antara laki-laki dan perempuan khususnya dalam struktur. Kiprah Muhammadiyah dalam perkembangan masyarakat cukup memberikan kontribusi yang signifikan. Melalui lembaga-lembaga pendidikan, kesehatan dan keterampilan. Muhammadiyah terdiri dari Ranting, Cabang, Daerah, Wilayah dan Pusat. Salah satu Muhammadiyah Wilayah adalah PW Muhamadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, yang memiliki 15 majelis dan lembaga. Di PW Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta inilah merupakan tempat penelitian tentang Konstruksi Gender Dalan Struktur PW Muhammadiyah. Dalam penelitian ini mencoba membidik sejauh mana perempuan mempunyai posisi, peran serta partisipasi yang aktif dalan struktur di Muhammadiyah. Karena selama ini keterbukaan bagi perempuan untuk berkiprah di Muhammadiyah masih mengalami kendala yang cukup signifikan, karena kuatnya kultur patriarki, ketimpangan sistem yang ada menjadi titik tekan atas persoalan ketimpangan gender di Muhammadiyah. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan intrumen pengumpulan data melalui studi dokumentasi, observasi, wawancara dan instrumen pendukung lainnya dengan mengambil data kepengurusan masa jabatan 2005-2010 di PW Muhammadiyah. Dalam penelitian ini menggunakan perseptif sosiologis, sedangkan analisis data yang diperoleh dilakukan dengan metode induktif dan deduktif sehingga dapat menghasilakn paparan informasi yang selektif dan komfrehensif dengan melalui reduksi data untuk menghasilkan mempertegas, membuat fokus dan membuang hal yang tidak penting, dan yang terakhir melakukan verifikasi data dan pada tahap ini peneliti melakukan interpretasi terhadap data sehingga dapat memiliki makna. Dalam proses sosial yang panjang dan dinamika yang kompleks di Muhammadiyah, mengharuskan peneliti membidik dari konteks historis bagaimana terlembaganya seperangkat aturan atau norma, kultur dan keagamaan. Karena dari data yang ada, kuatnya kultur patriarki yang dilanggengkan oleh sistem dan struktur yang ada, sehingga kemudian dipahami bahwa Muhammadiyah hanya untuk laki-laki semata, namun perempuan hanya dipersepsikan sebagai subbagian dari Muhammadiyah, yaitu perempuan adalah Aisyiyah, sedangkan laki-laki adalah Muhammadiyah, seperti dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah. Pada hal Muhammadiyah beranggotakan laki-laki dan perempuan, dan tidak ada aturan di Muhammadiyah yang melarang perempuan untuk berkiprah pada berbagai level, antara lain kepemimpinan struktur. Namun keterbukanan dan apresiasi Muhammadiyah terhadap kaum perempuan belum bisa diimbangi dengan wilayah praksis. Karena pada wilayah parkasis akan berhadapan dengan serangkaian tembok besar sistem, kultur, politik, dan struktur yang belum sepenuhnya berpihak pada kaum perempuan. Karena kuat ideologinya sosial yang bersifat patriarkis mengaburkan makna kebebasan bagi perempuan, sehingga perempuan tidak lagi dihadirkan sebagai perempuan, namun perempuan dihadirkan sebagai kultur.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Moh. Soehadha, S.Sos, M.Hum,
Uncontrolled Keywords: Gender, Muhammadiyah
Subjects: Sosiologi Agama
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Sosiologi Agama (S1)
Depositing User / Editor: Zaenal Arifin, S.Sos.I., S.IPI.
Date Deposited: 23 Oct 2015 03:19
Last Modified: 23 Oct 2015 03:24
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/1897

Actions (login required)

View Item View Item