KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ISLAM (STUDI PEMIKIRAN NASARUDDIN UMAR)

LUKMAN HAKIM, NIM. 10510013 (2015) KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ISLAM (STUDI PEMIKIRAN NASARUDDIN UMAR). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ISLAM (STUDI PEMIKIRAN NASARUDDIN UMAR))
10510013_bab-i_iv-atau-v_daftar-pustaka.pdf

Download (2MB) | Preview
[img] Text (KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ISLAM (STUDI PEMIKIRAN NASARUDDIN UMAR))
10510013_bab-ii_sampai_sebelum-bab-terakhir.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (1MB)

Abstract

Sejarah menunjukkan bahwa kedudukan perempuan pada masa pra-Islam mendapat posisi yang kurang menguntungkan. Pada masa Nabi Muhammad perlahan-lahan kedudukan perempuan sudah mengarah kepada keadilan jender. Akan tetapi setelah beliau wafat dan wilayah Islam semakin meluas, kondisi ideal yang mulai diterapkan Nabi kembali mengalami kemunduran. Dunia Islam mengalami enkulturasi dengan mengadopsi kultur-kultur androsentris dan budaya patriarkhi, sehingga banyak berpengaruh pada pemahaman umat Islam terhadap teks. Akibatnya, produk-produk pemikiran Islam sering memosisikan perempuan sebagai subordinat dan mengalami diskriminasi akses ke publik. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan, karena Islam pada prinsipnya menjunjung tinggi kesetaraan dan tidak membedakan manusia berdasarkan jenis kelamin. Oleh karena itu, doktrin maupun pandangan yang mengatasnamakan agama yang sarat dengan praktik diskriminatif sudah selayaknya dikaji ulang. Permasalahan mengenai kedudukan perempuan merupakan permasalahan yang banyak mengundung perdebatan di kalangan feminis maupun para pemikir gender. Perbedaan cara pandang dan paradigma berfikir menyebabkan perbedaan pendapat dalam menyelesaikan masalah perempuan. salah satu tokoh yang mengulas kedudukan perempuan adalah Nasaruddin Umar, seorang intelektual Muslim serta seorang penafsir dari Indonesia yang juga merupakan Wakil Menteri Agama di Indonesia. Integritasnya dalam kajian gender telah mendorongnya menjadi seorang yang sarat dengan masalah gender. Dengan menggunakan pendekatan gender, Nasaruddin melakukan analisis etimologi, hermeneutika dan sejarah untuk meneliti banyak kata di dalam Al-Qur’an. Penelitian ini mengajukan dua pokok permasalahan, pertama, bagaimana kedudukan perempuan dalam Islam menurut Nasaruddin Umar? kedua, faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya penafsiran yang bias gender menurut Nasaruddin Umar? Penelitian ini adalah library research, sumber-sumber data primernya diperoleh dari buku-buku pustaka terutama karya Nasaruddin Umar yaitu, argument Kesetaraan Gender; Perspektif Al-Qur’an, Kodrat Perempuan dalam Islam,Bias Gender dalam Penafsiran Al-Qur’an, serta karya-karya lain yang memuat pemikirannya dan pemikiran lain yang berkaitan dengan penelitian ini diposisikan sebagai data pendukung. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data dalam penyajian dan dan metode deskriptif analisis dalam pengolahan data. Penelitian ini telah menghasilkan beberapa kesimpulan. Menurut Nasaruddin Umar, Islam pada dasarnya mengakui kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara, karena keduanya diciptakan dari satu nafs (genus), di mana tidak ada diskriminasi dan tidak ada ada paham the second sex seperti dalam tradisi Kristen atau Yahudi. Baik lakilaki maupun perempuan memiliki hak dan status yang sama dalam strata sosial. Dengan kata lain, baik dalam bidang spiritual maupun urusan karir professional tidak mesti dimonopoli oleh salah satu jenis kelamin tertentu saja. Laki-laki dan perempuan memperoleh kesempatan yang sama untuk meraih prestasi optimal. Sedangkan benih-benih bias penafsiran muncul karena adanya bias dalam memahami leksikal bahasa yang dipakai dalam Al-Qur’an. Dia menyebutkan bahwa dalam naskah-naskah terjemahan bahasa Arab ke bahasa Indonesia tidak dibedakan, antara makna laki-laki dan perempuan yang bermakna gender (gender term) dengan yang bermakna biologis (sex term). Selain itu Nasaruddin juga mensinyalir adanya bias pada hasil pemahaman teks Al-Qur’an sendiri. Dia menemukan bahwa bias gender terdapat juga pada pembakuan tanda huruf, tanda baca, qira’at, bias dalam struktur bahasa, bias dalam kamus bahasa Arab, bias dalam metode tafsir, pengaruh isra’iliyat, dan bias dalam pembakuan kitab-kitab fikih.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Dr. Fatimah, MA., M.Ag.
Subjects: Filsafat Agama
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Filsafat Agama (S1)
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum [IT Staff] ---- youtube : ulum virgo -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 04 Feb 2016 02:28
Last Modified: 04 Feb 2016 02:28
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/19218

Actions (login required)

View Item View Item