PERKAWINAN SEMARGA DALAM MASYARAKAT BATAK MANDAILING MIGRAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

MUSLIM POHAN, NIM. 11520021 (2015) PERKAWINAN SEMARGA DALAM MASYARAKAT BATAK MANDAILING MIGRAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text
11520021_bab-i_iv-atau-v_daftar-pustaka.pdf

Download (3MB) | Preview
[img] Text (PERKAWINAN SEMARGA DALAM MASYARAKAT BATAK MANDAILING MIGRAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)
11520021_bab-ii_sampai_sebelum-bab-terakhir.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (1MB)

Abstract

Perkawinan semarga merupakan perkawinan yang dilarang dalam adat Batak, karena yang semarga dianggap satu keturunan darah dari bapak. Ada 3 (tiga) sistem perkawinan adat, exogami, endogami, dan eleutrogami. Masyarakat Batak termasuk ke dalam exogami yaitu, seorang laki-laki dilarang menikah dengan perempuan yang semarga atau sesuku. Seorang laki-laki harus menikahi perempuan di luar marganya. Perkawinan semarga dalam masyarakat Batak Mandailing yang muncul sekarang ini mengalami proses perubahan pada keluarga. Perkawinan semarga merupakan hal yang menarik dikaji, karena masyarakat Batak memahami perkawinan semarga sebagai hal yang biasa dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satunya yang terjadi pada masyarakat Batak Mandailing Migran di Daerah Istimewa Yogyakarta. Perkawinan semarga yang dilaksanakan masyarakat migran tersebut mengalami pergeseran makna dari budaya adat Batak. Kehidupan mereka di perantauan memberikan jalan dalam bersentuhan dengan budaya yang ada di Yogyakarta dan tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Mandailing untuk berinteraksi dengan sesama perantau. Berdasarkan fenomena tersebut, penulis merumuskan dua permasalahan yaitu: 1. Bagaimana latar belakang munculnya perkawinan beda marga dalam masyarakat Batak. 2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya perkawinan semarga dalam masyarakat Batak Mandailing migran di Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan langsung ke masyarakat sehingga diperoleh data yang jelas dan teknik pengumpulan data yang bersifat wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan sosiologis, dan penulis manganalisis dengan menggunakan teori struktural fungsional dari Talcott Parsons dengan goal attainment yaitu pencapaian tujuan. Berdasarkan hasil penelitian, penulis memperoleh hasil bahwa terdapat beberapa macam latar belakang munculnya perkawinan beda marga dalam masyarakat Batak, yaitu: menghindari perkawinan semarga, menghindari perkawinan saudara sekandung, menghindari rancunya hubungan silsilah kekerabatan (partuturon), dan memelihara rasa malu. Sedangkan faktor perkawinan semarga dalam masyarakat Batak Mandailing migran terjadi perubahan dari sistem perkawinan exogami menjadi sistem perkawinan eleutherogami yang tidak mengenal adanya larangan atau keharusan sebagaimana halnya dalam sistem perkawinan exogami atau sistem perkawinan endogami. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkawinan semarga dalam masyarakat Batak Mandailing migran disebabkan karena faktor cinta, faktor agama, faktor ekonomi, faktor pendidikan dan faktor budaya. Perkawinan semarga dalam masyarakat Batak Mandailing migran dilakukan karena masyarakat Batak Mandailing migran sudah tidak percaya dengan hal tabu.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Drs. Rahmat Fajri, M.Ag.
Subjects: Perbandingan Agama
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Perbandingan Agama (S1)
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum, S.Kom ------- youtube : ulum virgo -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 05 Feb 2016 03:12
Last Modified: 05 Feb 2016 03:12
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/19254

Actions (login required)

View Item View Item