IMPLIKASI TRADISI PATTIDANA TERHADAP KEMATANGAN BERAGAMA UMAT BUDDHA THERAVADA DI VIHARA MENDUT, KOTA MUNGKID, MAGELANG, JAWA TENGAH

ALVISTA FITRI NINGSIH, NIM. 11520028 (2015) IMPLIKASI TRADISI PATTIDANA TERHADAP KEMATANGAN BERAGAMA UMAT BUDDHA THERAVADA DI VIHARA MENDUT, KOTA MUNGKID, MAGELANG, JAWA TENGAH. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (IMPLIKASI TRADISI PATTIDANA TERHADAP KEMATANGAN BERAGAMA UMAT BUDDHA THERAVADA DI VIHARA MENDUT, KOTA MUNGKID, MAGELANG, JAWA TENGAH)
11520028_bab-i_iv-atau-v_daftar-pustaka.pdf

Download (7MB) | Preview
[img] Text (IMPLIKASI TRADISI PATTIDANA TERHADAP KEMATANGAN BERAGAMA UMAT BUDDHA THERAVADA DI VIHARA MENDUT, KOTA MUNGKID, MAGELANG, JAWA TENGAH)
11520028_bab-ii_sampai_sebelum-bab-terakhir.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (897kB)

Abstract

Tradisi Pattidana merupakan suatu tradisi bagi umat Buddha khususnya Buddha Theravada kepada leluhur di alam dengan melakukan suatu perbuatan kebajikan agar dapat meringankan beban penderitaan mereka. Tradisi Pattidana ini bukan menjadi suatu transfer kebajikan akan tetapi sebagai usaha memusatkan pikiran yang awalnya sulit berbuat baik menjadi dapat berbuat baik. Dengan cara sering melakukan tradisi Pattidana terutama keluarga yang bersangkutan serta merasa bahagia terhadap kebajikan yang dilakukan maka dapat bermanfaat terutama bagi leluhur. Tradisi Pattidana ini diajarkan Sang Buddha dan sampai saat ini masih dilakukan oleh umat Buddha Theravada. Dalam Sigalovada Sutta yang terdapat pada Digha Nikaya III, 188 bahwa apabila orangtua telah meninggal dunia hendaknya sebagai anak selalu melakukan Pattidana dengan berbuat baik yang ditujukan untuk leluhur. Jenis penelitian penulis menggunakan metode kualitatif yaitu penelitian lapangan. Sedangkan metode pengumpulan data penulis yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari segi pengumpulan data, penulis melakukan observasi dengan mengamati gejala yang ada dalam objek penelitian serta wawancara dengan Bhikkhu Jotidhammo, Bapak Parsono selaku Pengurus Vihara Mendut, umat Buddha Theravada lainnya, dan dokumentasi berupa foto-foto yang terkait dengan penelitian. Adapun pendekatan penelitian penulis menggunakan psikologi agama. Sedangkan pengolahan data penulis menggunakan analisis data yaitu dengan metode deskriptif, serta keabsahan datanya penulis menggunakan triangulasi dengan penulis mengumpulkan data dan menganalisis kematangan beragama umat Buddha Theravada terhadap implikasi tradisi Pattidana dikemukakan Gordon W. Allport, bahwa kematangan beragama ada enam aspek. Dari hasil penelitian membuktikan bahwa: 1). Bentuk pelaksanaan tradisi Pattidana adalah sebagai berikut: umat Buddha melakukan perbuatan baik, jika dihadiri oleh Bhikkhu maka Bhikkhu membacakan pemberkahan. Kemudian umat Buddha melakukan pelimpahan jasa dengan merenungkan perbuatan baik yang dilakukan, semoga semua kebaikan yang dilakukan dapat membahagiakan leluhur. Tradisi Pattidana ini tidak harus dipimpin oleh Bhikkhu. Pattidana ini bisa dilakukan sendiri maupun bersama dengan Bhikkhu. Adapun implikasi Pattidana terhadap kematangan beragama umat Buddha Theravada berdasarkan keenam aspek kematangan beragama Gordon W. Allport sangat berpengaruh. 2). Implikasi Pattidana terhadap kematangan beragama umat Buddha Theravada berdasarkan keenam aspek kematangan beragama Gordon W. Allport dari tingkat pengukurannya mendapat nilai 71,33. Maka dapat ditentukan bahwa “matang” terhadap implikasi dari Pattidana.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Dian Nur Anna, S.Ag., MA
Uncontrolled Keywords: implikasi, kematangan beragama, umat Buddha Theravada
Subjects: Perbandingan Agama
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Perbandingan Agama (S1)
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum [IT Staff] ---- youtube : ulum virgo -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 05 Feb 2016 10:15
Last Modified: 05 Feb 2016 10:15
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/19256

Actions (login required)

View Item View Item