SIFAT BASYARIYAH NABI MUHAMMAD SAW DALAM TAFSĪR AL-QUR’ĀN AL-AẒĪM IBNU KATSIR DAN IMPLPIKASINYA TERHADAP KONTEKS SUNNAH

MUHAMMAD SOBIRIN, NIM. 10530044 (2015) SIFAT BASYARIYAH NABI MUHAMMAD SAW DALAM TAFSĪR AL-QUR’ĀN AL-AẒĪM IBNU KATSIR DAN IMPLPIKASINYA TERHADAP KONTEKS SUNNAH. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (SIFAT BASYARIYAH NABI MUHAMMAD SAW DALAM TAFSĪR AL-QUR’ĀN AL-AẒĪM IBNU KATSIR DAN IMPLPIKASINYA TERHADAP KONTEKS SUNNAH)
BAB I, V, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (1MB) | Preview
[img] Text (SIFAT BASYARIYAH NABI MUHAMMAD SAW DALAM TAFSĪR AL-QUR’ĀN AL-AẒĪM IBNU KATSIR DAN IMPLPIKASINYA TERHADAP KONTEKS SUNNAH)
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (1MB)

Abstract

Sifat basyriyah Nabi SAW merupakan hal yang lumrah jika dilihat dari segi biologis dan keadaan sosial, oleh karena itu terdapat konsekuensi Nabi SAW sebagai manusia biasa yang juga disebut jibillatul basyariyah yang berarti segala sesuatu yang berasal dari Nabi SAW yang sifatnya berasal dari pribadi beliau sebagai manusia biasa. Sehingga sisi basyariyah ini dapat digolongkan menjadi shifatiyah (yang berbentuk karakter atau kepribadian), amaliyah ( yang berupa perbuatan), jasadiyah ( yang berbentuk fisik) dan sikap atau ekspresi Nabi SAW ketika mengalami suatu kejadian. Di dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang secara langsung maupun dengan asbāb al-nuzūl nya menyinggung tentang kebasyariahan Nabi SAW. Sehingga sebagai salah satu mufassir, Ibnu Katsir dalam karya tafsirnya yakni Tafsῑr Al-Qur’ān Al-Aẓῑm menafsirkan beberapa ayat yang memiliki makna sisi basyariyah Nabi SAW. Yakni dalam Surat Al-Imrān ayat 144, beliau menafsirkan bahwa sebagai manusia biasa Nabi SAW juga tidak bisa luput dari kematian. Surat ‘Abasa ayat 1-10, yang memberi gambaran bahwa meskipun Nabi SAW memiliki derajat yang sangat tinggi, tetapi beliau pernah memasang wajah masam kepada Umi Maktum yang hendak bertanya kepadanya. Kemudian dalam surat Al- Furqān ayat 20, Ibnu Katsir menafsirkan bahwa Nabi SAW sebagaimana orangorang Arab pada umumnya yakni bermata pencaharian dan melakukan niaga di pasar. Surat Al-Anfāl ayat 5-8, menggambarkan bahwa Nabi SAW selaku manusia biasa ia bisa diserang secara fisik ketika berperang. Selain ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan mengenai sisi basyariyah Nabi SAW, juga terdapat hadis-hadis serupa yang menunjukkan bahwa Nabi SAW pernah mengalami kejadian seperti orang-orang Arab pada umumnya. Yakni dalam hadis riwayat Tirmidzi yang menunjukan bahwa Nabi SAW menangis ketika putranya Ibrahim wafat. Sehingga beliau berjalan dengan bersandar pada Abdurrahman bin ‘Auf karena kesedihan itu. Juga menurut riwayat Imam Nasa’i yang menjelaskan bahwa Nabi SAW pernah sakit hingga jatuh pinsan. Pada dasarnya sisi basyariyah ini dikategorikan ke dalam sunnah, karena merupakan sesuatu yang datang dari Nabi baik dari perkataan dan perbuatanya. Hanya saja penulis membaginya ke dalam sunnah yang sifatnya tasyri’iyyah dan non-tasyri’iyyah. Karena meskipun disebut sebagai sunnah tetapi Nabi SAW juga tidak akan terlepas dari konsekuensi kemanusiaanya yang termasuk ke dalam sifat jaiz Rasulullah, tetapi ini tidak akan mempengaruhi derajat kenabian Rasulullah SAW. Kata Kunci : Sifat Basyariyah Nabi Muhammad SAW

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.
Uncontrolled Keywords: Sifat Basyariyah Nabi Muhammad SAW
Subjects: Ilmu Alqur’an dan Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur’an dan Tafsir (S1)
Depositing User / Editor: Sugeng Hariyanto, SIP (sugeng.hariyanto@uin-suka.ac.id)
Date Deposited: 23 Feb 2016 02:05
Last Modified: 23 Feb 2016 02:05
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/19508

Actions (login required)

View Item View Item