KISAH ASHAB AL SABT DALAM AL QUR'AN : STUDI KOMPARASI ANTARA PENAFSIRAN AL TABARI DAN IBN KASIR

DELFION NIM.01530492, (2009) KISAH ASHAB AL SABT DALAM AL QUR'AN : STUDI KOMPARASI ANTARA PENAFSIRAN AL TABARI DAN IBN KASIR. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Kisah-kisah yang ada dalam al Qur'an, pada dasarnya tidaklah relevan untuk menjadi referensi sejarah karena sejarah pada hakikatnya tidak menjadi bagian atau unsur ajaran agama. Yang menjadi persoalan bukan kisah itu, akan tetapi apakah kisah-kisah yang ada dalam al Qur'an itu mampu memberikan nilai-nilai kemaslahatan bagi masyarakat atau tidak, merupakan hal yang terpenting untuk diperhatikan. Salah satu kisah al Qur'an yang menarik untuk dikaji adalah kisah Ashab al-Sabt yaitu kisah tentang nenek moyang orang-orang Yahudi yang dikutuk Allah menjadi monyet, karena melanggar aturan pada hari Sabtu. Banyak para mufassir sering terjebak dalam menginterpretasikan beberapa uraian kisah Ashab al Sabt tak terkecuali mufassir klasik maupun kontemporer seperti dicampurkannya cerita-cerita Israil 'iliyyat di dalamnya. Persoalan yang akan diteliti dalam skripsi ini adalah mengenai : 1) Bagaimana penafsiran al-Tabari dan Ibn Kasir tentang Ashab al Sabt?, 2) Apa persamaan dan perbedaan penafsiran kedua mufassir tentang Ashab al-Sabt? Adapun cara penelitian yang nantinya akan dituangkan dalam skripsi ini adalah dengan langkah kerja metode deskriptif dan metode analisis komparatif, yakni menguraikan penafsiran al-Tabari dan Ibn Kasir tentang kisah Ashab al_sabt yang kemudian ditelaah dan dibandingkan antar keduanya. Adapun hasil dari penelitian ini adalah, pertama, penafsiran al TAbari mengenai Ashab al_sabt adalah bahwa Ashab al_sabt merupakan sepenggalan cerita mengenai orang-ornag Yahudi yang melanggar aturan pada hari sabtu, yaitu hari dimana diwajibkan kepada umat Yahudi untuk beribadah yang ditetapkan dalam syari'at Musa as. Namun, sebagian warga Yahudi melanggar perintah Alloh tersebut dan melampaui batas yang diharamkan bagi mereka. Sebagian mereka tetap nekat melanggar aturan hari sabtu dan menghalalkan apa yang diharamkannya. Adapun penafsiran Ibn Kasir tentang Ashab al-Sabt adalah bahwa Ashab al Sabt pada dasarnya adalah sebuah kisah, dimana Allah telah menetapkan dan memberikan kesepakatan bersama dengan warga Yahudi bahwa hari Sabtu merupakan hari terpenting yang wajib bagi mereka untuk menghormati atau mensakralkannya guna beribadah kepada Allah. Menurut Ibn Kasir, Allah telah menyuruh bani Israil sebagaimana hal itu telah menjadi kesepakatan yang telah mereka buat sendiri. Karena sikap dusta dan mengingkari janji yang telah dibuatnya sendiri itulah, lalu Allah mengutuknya menjadi monyet, sebagai balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka yang memutarbalikkan ayat Allah. Kedua, dalam menafsirkan kisah Ashab al-sabt, baik al Tabari maupun Ibn Kasir, keduanya memiliki persamaan cara atau metode dalam membahasnya, yaitu dengan sama-sama merujuk kepada riwayat bani Israil 'iliyyat. NAmun, perbedaan yang sering mencolok diantara keduanya adalah, bahwa al-Tabari kadang memberikan komentar terhadap isi matan riwayat israil 'iliyyat yang menjelaskan tentang kisah Ashab al Sabt, namun kadang pula ia memberikannya tanpa adanya koreksi apapun. Berbeda dengan Ibn Kasir, ia mengomentari kisah Ashab al sabt yang mengandung cerita Israil 'iliyyat. Ia lebih selektif memilih riwayat dan lebih cenderung memprioritaskan atas adanya ke siqah an dalam sanad-sanad yang ia uraikan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing : Drs. Indal Abror, M. Ag M. Hidayat Noor, M. Ag
Uncontrolled Keywords: Kisah ashab al sabt
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:41
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/1970

Actions (login required)

View Item View Item