KONSEP REZEKI MENURUT HAMKA DALAM TAFSIR AL AZHAR

HABIB AHMAD NURHIDAYATULLAH, NIM. 11530034 (2016) KONSEP REZEKI MENURUT HAMKA DALAM TAFSIR AL AZHAR. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (KONSEP REZEKI MENURUT HAMKA DALAM TAFSIR AL AZHAR)
11530034_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf

Download (5MB) | Preview
[img] Text (KONSEP REZEKI MENURUT HAMKA DALAM TAFSIR AL AZHAR)
11530034_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (2MB)

Abstract

Kata rizq setelah diserap kedalam Bahasa Indonesia menjadi rezeki diartikan dengan segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan yang diberikan Tuhan, dapat berupa makanan sehari-hari, nafkah, pendapatan, keuntungan dan sebagainya. Masalah rezeki adalah masalah yang begitu dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari, bahkan masyarakat memandang ini sebagai hal yang paling penting. Manusia dituntut untuk berusaha mencari rezekinya keseluruh penjuru bumi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan cara yang baik. Dalam skripsi ini, penulis akan mengungkap makna rezeki yang terkandung dalam al-Qur’an menurut salah satu tokoh tafsir Indonesia yaitu Hamka dengan tafsirnya, tafsir Al-Azhar. Menurut Hamka, rezeki adalah anugerah dan pemberian Allah kepada manusia untuk dimanfaatkan dan digunakan untuk keberlangsungan hidupnya. Hamka menjelaskan bahwa sumber rezeki ialah Allah semata, oleh karenanya manusia di anjurkan untuk meminta rezeki itu hanya kepada Allah. Ia juga menjelaskan bagaimana cara memperoleh dan menggunakan rezeki yang telah disebutkan dalam al-Qur’an, manusia diberikan fasilitas berupa bumi dan seisinya untuk dimanfaatkan dan diolah hasilnya, seperti kebun-kebun yang dapat menghasilkan buah-buahan, hewan-hewan yang dapat mengangkut dan dapat dimakan dagingnya. Hamka menjelaskan dalam tafsirnya, Allah menyuruh manusia untuk mencari dan memakan rezekiNya dengan cara yang halal dan baik. Selain itu Allah juga menganjurkan untuk menafkahkan dari sebagian rezeki yang diperoleh di jalan Allah, dan memperingatkan manusia untuk selalu mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepadanya. Selain itu, dilihat dari penjelasan Hamka dalam tafsirnya mengenai rezeki, ia juga mengklasifikasi rezeki kedalam dua bentuk, yakni material dan non material. Rezeki dalam bentuk material seperti, makanan, bumi, kebun-kebun, hewan ternak, dan harta benda. Sedangkan dalam bentuk non material ialah, segala bentuk kebaikan, risalah kenabian dan ampunan Allah serta rezeki yang mulia (Surga). Dalam skripsi ini, penulis juga mencoba menghubungkan penafsiran Hamka dengan konteks sekarang. Seperti, cara memperoleh rezeki dengan berusaha keras untuk mencarinya ke seluruh penjuru bumi dengan memanfaatkan fasilitas yang telah diberikan Allah. Karena zaman sekarang ini, rezeki tidak akan datang dengan hanya bermalas-malasan dan Allah menganjurkan manusia untuk mendapatkan rezekinya dengan berusaha mencarinya. Kemudian dijelaskan juga cara menggunakan rezeki, seperti membeli dan memakan makanan yang halal dan baik, karena di zaman yang modern ini banyak yang memilih cara yang instan walaupun itu tidak dibenarkan agama. Selanjutnya menginfakkan sebagian harta benda di jalan Allah sebagai rasa syukur atas semua anugerah yang Allah berikan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Moh. Hidayat Noor, M.Ag.
Subjects: Ilmu Alqur’an dan Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur’an dan Tafsir (S1)
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum, S.Kom ------- youtube : ulum virgo -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 16 Mar 2016 07:44
Last Modified: 16 Mar 2016 07:44
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/19821

Actions (login required)

View Item View Item