TIMUR TENGAH PASCA-REVOLUSI (ISLAMISME, DEMOKRASI, KOMFLIK ISRAEL-PALESTINA, DAN GLOBALISASI TERORISME)

MISRAWI, ZUHAIRI (2016) TIMUR TENGAH PASCA-REVOLUSI (ISLAMISME, DEMOKRASI, KOMFLIK ISRAEL-PALESTINA, DAN GLOBALISASI TERORISME). In: Seminar Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bekerjasama dengan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 14 April 2016, Yogyakarta.

[img]
Preview
Text (TIMUR TENGAH PASCA-REVOLUSI (ISLAMISME, DEMOKRASI, KOMFLIK ISRAEL-PALESTINA, DAN GLOBALISASI TERORISME))
ZUHAIRI MISRAWI - TIMUR TENGAH PASCA-REVOLUSI (ISLAMISME, DEMOKRASI, KOMFLIK ISRAEL-PALESTINA, DAN GLOBALISASI TERORISME).pdf - Presentation

Download (583kB) | Preview

Abstract

Di penghujung abad ke-19, Abdurrahman al-Kawakibi (1849-1902) melakukan kritik yang sangat mendasar terhadap Dinasti Ottoman dalam karyanya yang sangat populer di dunia Islam, Thaba 'i al-Istibdad wa Mashari · al-lsti 'bad. Karya ini mengisahkan tentang perilaku politik para penguasa Dinasti Ottoman yang otoriter dan represif terhadap rakyatnya. 1 Perilaku otoritarianistik para penguasa semakin telanjang dengan menggunakan berbagai modus, sehingga menciptakan keprihatinan yang sangat mendalam. Konsekuensinya, dunia Islam berada dalam siklus kebangkrutan moral, yang menyebabkan Dinasti Ottoman berada di am bang kehancuran. Dua puluh tahun setelah magnum opus al-Kawakibi diluncurkan, Dinasti Ottoman luluh lantah. Dunia Islam mengakhiri sistem khilafah yang sudah berlangsung kurang lebih 12 abad lamanya. Umat Islam hampir tidak percaya dengan kenyataan terse but, karena secara kuantitas umat Islam sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tetapi, sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Khaldun (1332-I406) dalam al-Muqaddimah, sebuab peradaban akan mengalami siklus kebangkitan dan kejatuhan,2 maka Dinasti Ottoman hams menjemput ajalnya sebagai akhir dari ideologi khilafah. Setidaknya ada tiga respons dunia Islam terhadap kejatuhan Dinasti Ottoman: Pertama, respons yang bersifat sekularistik. Turki sebagai pusat pemerintahan Dinasti Ottoman merupakan pihak yang merasakan langsung . pahitnya kediktatoran rezim yang dibalut dengan jubah agama. Mustafa Kemal Attaturk (1881-1938) memilih memutus hubungan dengan kekuasaan yang berlindung di bawah jubah agama sembari menjadikan sekularisme sebagai ideologi politik mereka. Ia trauma dengan sistem totaliter yang telah menjadikan agama sebagai justifikasi dan legitimasi kekuasaan Dinasti Ottoman.Kedua, respons yang bersifat formalistik. Kelompok ini menganggap kejatuhan Dinasti Ottoman, karena mereka telah keluar dari "poros agama", sehingga menyebabkan kebangkrutan moral. Karena itu, mereka memilih untuk kembali ke agama dengan menjadikan Islam sebagai ideologi negara. Hasan al-Banna (1906-1949) adalah sosok yang sangat menonjol dalam membangun ideologi "negara-agama" dan "Pan-Islamisme" sebagai perlawanan terhadap Barat. Untuk memuluskan ideologi tersebut, Hasan al-Banna mendeklarasikan berdirinya Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928. Ketiga, respons yang bersifat komplementaristik. Kelompok ini memilih jalan tengah dari kedua respons tersebut dengan mengakomodasi sekularisme di satu sisi dan mengakomodasi nilai-nilai universal agama dalam konstitusi. Sukamo (1901-1970) merupakan sosok yang. menonjol dalam melahirkan sebuah ideologi yang mampu menggabungkan sekularisme dan agama di bawah bendera Pancasila. Dari ketiga respons tersebut, Timur-Tengah merupakan salah satu negara yang saat ini menghadapi masalah serius dalam ranah politik. Sejak jatuhnya Dinasti Ottoman di Turki, mereka dihadapi pada tarik-menarik dan pertarungan ideologis yang tiada llenti. TimurTengah digambarkan oleh sejumlah pakar sebagai theatre of conflict. 3 Kepentingan politik luar negeri cukup memberikan pengaruh yang sangat luar biasa akibat kolonialisme yang terus bertengger hingga sekarang ini. Tumbuhnya ideologi Pan-Islamisme yang terus menguat di Timur-Tengah sejak awal tahun 20-an tidak bisa dipisahkan dari konteks kolonialisme yang menancapkan taringnya sejak abad ke-18. Deklarasi kemerdekaan Israel pada tahun 1948 atas prakarsa Inggris melalui Deklarasi Balfour semakin melambungkan ideologi perlawanan terhadap Barat. Bahkan untuk melanggengkan misinya, Barat berkoalisi dengan rezim-rezim otoriter. Langkah tersebut sejauh ini relatifberhasil dalam mengamankan kepentingan Israel di Timur-Tengah. Namun, revolusi yang bergelayut di Tunisia pada awal tahun 2011, lalu merambah ke Mesir, Libya, Yaman, Suriah, Bahrain, Arab Saudi, dan Kuwait telah melahirkan zaman baru di Timur-Tengah. Rezim-rezim otoriter yang begitu powerful rr1enancapkan taring kekuasaannya di Timur-Tengah harus mengakhiri kekuasaan dan ajalnya secara tidak terhormat. Zein Abidin Ben Ali di Tunisia yang berkuasa dari tahun 1987-2011 harus diekstradisi ke Arab Saudi, Hosni Mubarak yang berkuasa dari tahun 1981-2011 dipaksa mengundurkan diri dan hidup di kasur pesakitan, Moarnrnar Qaddafi yang berkuasa dari tahun 1969-2011 dibunuh secara tidak terhormat oleh rakyatnya sendiri, dan Ali Abdullah Saleh yang berkuasa dari tahun 1978-2011 mengundurkan diri dan dibom oleh oposisi. Sedangkan rezim Bashar al-Assad masih menunggu giliran kejatuhannya, cepat atau lambat. Pertanyaannya, apa saja dampak-dampak yang akan terjadi pasca-jatuhnya rezim-rezim otoriter tersebut? Siapa aktor politik pasca-revolusi? Bagaimana masa depan Timur-Tengah pasca-revolusi? Apa dampaknya bagi keamanan global?

Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
Uncontrolled Keywords: Revolusi, Timur Tengah, Islamisme, demokrasi, konflik, terorisme, Israel, Palestina
Subjects: Politik Islam
Depositing User / Editor: Sugeng Hariyanto, SIP (sugeng.hariyanto@uin-suka.ac.id)
Date Deposited: 18 Apr 2016 09:30
Last Modified: 18 Apr 2016 09:31
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/20045

Actions (login required)

View Item View Item