MAKNA KATA AL-NASY DALAM AL-QUR’AN

ZULAEKAH, NIM. 10530057 (2016) MAKNA KATA AL-NASY DALAM AL-QUR’AN. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (MAKNA KATA AL-NASY DALAM AL-QUR’AN)
10530057_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf

Download (2MB) | Preview
[img] Text (MAKNA KATA AL-NASY DALAM AL-QUR’AN)
10530057_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (3MB)

Abstract

Kata al-nasy secara umum memiliki dua pegertian, yakni pertama sebagai lawan kata dari kata al-żukr dan al-hifz, kedua memiliki arti meninggalkan. Dalam al-Qur‟an kata al-nasy dapat diartikan bermacam-macam, seperti kemustahilan Allah bersifat lupa, mendustakan rasul, mengabaikan ajaran kitab suci, lupa berdzikir kepada Allah, dan pengajaran sopan santun. Ini merupakan kelebihan dan keistimewaan al-Qur‟an. Al-Qur‟an menggunakan bahasa yang sarat makna. Dengan bahasa yang sarat makna, maka al-Qur‟an memuat suatu pengertian lebih banyak dibandingkan dengan bahasa yang digunakannya. Penelitian ini bertujuan untuk memperjelas makna kata al-nasy secara terperinci. Selain itu juga untuk mengungkap apa saja subjek kata al-nasy dan kaitannya di dalam al-Qur‟an. Kata al-nasy memiliki beberapa varian makna, di antaranya pertama, berpaling dari Allah. Apabila orang-orang kafir ditimpa kesusahan, mereka memohon dan kembali taat kepada Allah agar Dia menghilangkan kesusahan yang menimpa mereka. Tetapi, setelah Allah menghilangkan kesusahan dan menyelamatkan mereka, maka kemudian mereka meninggalkan-Nya dan kembali beribadah kepada selain-Nya. Mereka membuat tandingan bagi Allah untuk menyesatkan mereka dan orang lain. Kedua, pembalasan akhirat, Allah membiarkan orang-orang kafir berada di dalam neraka, sebagai balasan karena mereka tidak beramal saleh, tidak percaya adanya hari pertemuan dengan Allah (kiamat), selalu membantah dan mendustakan ayat-ayat-Nya. Ketiga, lupa sebagai sifat naluriah manusia, yakni apa yang dapat dialami oleh setiap manusia, termasuk apa yang pernah dialami Nabi saw dalam kedudukannya sebagai manusia biasa, bukan sebagai utusan. Keempat, anjuran menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Seseorang boleh menggunakan hartanya untuk tujuan kenikmatan dunia selama hak Allah menyangkut harta telah dipenuhinya dan selama penggunaannya tidak melanggar ketentuan Allah. Untuk mencapai hasil tersebut, metode yang digunakan adalah metode maudu’i atau disebut juga dengan tematik, berdasarkan tema tertentu yang dalam hal ini adalah kata al-nasy.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Drs. H. M. Yusron Asrofi, M.A.
Subjects: Ilmu Alqur’an dan Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur’an dan Tafsir (S1)
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum, S.Kom ------- youtube : ulum virgo -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 21 Apr 2016 05:26
Last Modified: 21 Apr 2016 05:26
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/20319

Actions (login required)

View Item View Item