PENAFSIRAN AYAT ULIL AMRI MENURUT TABATABA’I DALAM KITAB AL-MIZAN FI TAFSIR AL-QUR’AN (STUDI ANALISIS Q.S AL-NISA (4) : 59)

MUHAMMAD TAJUL UMAM, NIM. 11530113 (2016) PENAFSIRAN AYAT ULIL AMRI MENURUT TABATABA’I DALAM KITAB AL-MIZAN FI TAFSIR AL-QUR’AN (STUDI ANALISIS Q.S AL-NISA (4) : 59). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (PENAFSIRAN AYAT ULIL AMRI MENURUT TABATABA’I DALAM KITAB AL-MIZAN FI TAFSIR AL-QUR’AN (STUDI ANALISIS Q.S AL-NISA (4) :)
11530113_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf

Download (4MB) | Preview
[img] Text (PENAFSIRAN AYAT ULIL AMRI MENURUT TABATABA’I DALAM KITAB AL-MIZAN FI TAFSIR AL-QUR’AN (STUDI ANALISIS Q.S AL-NISA (4) :)
11530113_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (2MB)

Abstract

Kitab Al-Mizan fi tafsir Qur’an pada abad modern pertengahan. Menurut ulama sunni yang telah melakukan penelitian, kitab tafsir ini sangat didominasi oleh pemikiran ideologinya yaitu Syi’ah. Hal tersebut sesuai dengan teori perkembangan tafsir yang ditulis oleh H. Abdul Mustaqim dalam bukunya yang berjudul Dinamika Sejarah Tafsir al-Qur’an. Disebutkan bahwa pada abad modern penelitian tafsir mulai menggunakan pendekatan seperti hermeneutik,antrofologi dan lain lain. Pada penelitian ini penulis akan mencoba melihat pengaruh politik serta madzhab Syi’ah terhadap penafsiran Tabataba’i. Oleh karena itu, pendekatan yang akan penulis gunakan pada penelitian kali ini ialah sosio-historis. Dari metode deskritif-analisis yang akan penulis gunakan pada penelitian ini setidaknya dapat menggambarkan pemikiran Tabataba’i.Untuk membuktikannya penulis akan melihat dari sisi penafsiran Tabataba’i ketika menafsirkan ayat ayat terkait dengan masalah ulil amri terutama Q.S al-Nisa’(4 9, selain itu bagaimana kriteria menjadi seorang ulil amri menurut pandangan Tabataba’i mengingat latar belakang historisnnya yang masa pendidikannnya kondisi madzab Syi’ah lagi berkembang. Menurut Syi’ah ulil amri adalah seorang imam imam yang ma’sum yang telah dipilih oleh nash, Allah dan Rasul sudah menentukan secara pasti tentang hal tersebut. Dengan menggunakan metode dan pendekatan yang telah disebutkan diatas, maka terdapat beberapa kesimpulan. Pertama, pengalaman sosio-historis yang pernah dialami oleh Tabataba’i terkait masalah politik dan ideologi Syi’ah sangat berpengaruh pada penafsirannya. kedua, Tabataba’i mengatakan bahwa seorang ulil amri (imam) sudah dipilih oleh nash ilahi baik secara naqli ataupun aqli. Ketiga kriteria seorang ulil amri harus memiliki sifat ismah ( keterjagaan dalam berbagai dosa) dan ketaatan terhadap ulil amri mutlak harus ditaati hal ini terlihat kesubyektifitasannya dan terpengaruh ideologi ke Syi’ahannya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga S.Ag, M.Ag
Subjects: Ilmu Alqur’an dan Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur’an dan Tafsir (S1)
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum [IT Staff] ---- youtube : ulum virgo -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 02 Jun 2016 01:35
Last Modified: 02 Jun 2016 01:35
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/20325

Actions (login required)

View Item View Item