FAHSYA’ DALAM AL-QUR’AN

AHMAD FAUZAN, NIM. 12530051 (2016) FAHSYA’ DALAM AL-QUR’AN. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (FAHSYA’ DALAM AL-QUR’AN)
12530051_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf

Download (2MB) | Preview
[img] Text (FAHSYA’ DALAM AL-QUR’AN)
12530051_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (2MB)

Abstract

Di dalam al-Qur’an, bahasa yang menegaskan mengenai konsep keburukan sangat beragam, adakalanya term keburukan itu menggunakan kata su’, qabih, fasad, fahsya’, dan lain sebagainya. Secara umum, term keburukan dengan bahasa fahsya’ beserta kata jadiannya adalah konsep yang diperuntukkan pada segala hal yang mengindikasikan pada wilayah keburukan, kemaksiatan, dan dosa yang keluar pada wilayah batas kewajaran, serta dipandang sangat hina oleh akal sehat manusia dan syariat Islam. Alasan mendasar untuk melakukan penelitian fahsya’ dalam al-Qur’an adalah berlandaskan pada empat alasan. Pertama, keburukan adalah konsep yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Kedua, kata fahsya’ dan kata jadiannya merupakan kata yang memiliki makna hal amat buruk dalam pandangan akal sehat dan syariat Islam. Ketiga, perbuatan buruk di dalam al-Qur’an kadang dijelaskan dengan ungkapan kata qabih, su’, fasad, syarr, dan syani‘. Keempat, terjemahan al-Qur’an hanya sering mengarahkan bahwa perbuatan fahsya’ adalah perbuatan keji dan zina saja. Penelitian ini bertujuan ini untuk memperjelas cakupan makna fahsya’ dalam semua bentuknya di dalam al-Qur’an dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan dengan metode analisis deskriptif-analitik. Karena berkenaan dengan pembahasan makna, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan semantik yang terbatas pada wilayah makna dasar dan makna relasional. Dari semua problem yang diangkat, peneliti menemukan bahwa keberadaan kata fahsya’ dalam al-Qur’an disebutkan dalam tiga bentuk kata, yakni fahsya’, fahisyah, dan fawahisy yang semuanya diulang sebanyak 24 kali dalam 23 ayat dan semuanya dalam bentuk kata benda (ism). Pijakan yang peneliti gunakan dalam menganalisis makna yang terkandung dalam masing-masing bentuk kata adalah dengan cara mengelompokkan bentuk kata. Adapun kesimpulan yang didapati adalah bahwa kata fahsya’ mengandung beberapa makna yang bertalian dengan perintah syetan, hawa nafsu, isu, serta hal yang dilarang agama. Keterkaitannya dengan perintah syetan yang merupakan pelopor untuk menyesatkan manusia adalah perintah yang mengindikasikan pada perbuatan kemaksiatan, perbuatan dosa besar yang sangat memungkinkan pelakunya akan memperoleh azab, baik azab di dunia maupun azab di akhirat. Kata fahisyah seringkali berkaitan dengan perbuatan dan perkataan manusia yang secara khusus dicerminkan dengan perbuatan zina, sebab dari perbuatan zina ini memungkinkan bagi pelakunya untuk melakukan jenis perbuatan yang amat buruk lainnya, seperti membunuh, mencuri, dan sebagainya. Dan juga fahisyah dicerminkan dengan perbuatan homoseks yang lebih hina dari pada perzinaan dipandang dari segi kehidupan sosial dan norma agama serta menyalahi kodrat yang ada. Sedangkan kata fawahisy sangat erat bertalian dengan amal jasmani maupun ruhani serta amal lahiriyah sekaligus disejajarkan dengan dosa-dosa besar yang menunjukkan perbuatan fawahisy adalah perbuatan dosa besar, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Drs. H. M. Yusron, M.A.
Subjects: Ilmu Alqur’an dan Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur’an dan Tafsir (S1)
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum, S.Kom -------For More Information -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 21 Apr 2016 05:55
Last Modified: 21 Apr 2016 05:55
URI: https://digilib.uin-suka.ac.id:80/id/eprint/20332

Actions (login required)

View Item View Item