LEMBAGA SENI BELA DIRI GARUDA BAMBU RUNCING (LGBR) DI PONDOK PESANTREN KYAI PARAK BAMBU RUNCING PARAKAN TEMANGGUNG TAHUN 1959-2014 M

CHILIATUS SAFITRI, NIM. 11120136 (2016) LEMBAGA SENI BELA DIRI GARUDA BAMBU RUNCING (LGBR) DI PONDOK PESANTREN KYAI PARAK BAMBU RUNCING PARAKAN TEMANGGUNG TAHUN 1959-2014 M. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (LEMBAGA SENI BELA DIRI GARUDA BAMBU RUNCING (LGBR) DI PONDOK PESANTREN KYAI PARAK BAMBU RUNCING PARAKAN TEMANGGUNG TAHUN 1959-2014 M)
11120136_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (7MB) | Preview
[img] Text (LEMBAGA SENI BELA DIRI GARUDA BAMBU RUNCING (LGBR) DI PONDOK PESANTREN KYAI PARAK BAMBU RUNCING PARAKAN TEMANGGUNG TAHUN 1959-2014 M)
11120136_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (1MB)

Abstract

Lembaga Seni Bela Diri Garuda Bambu Runcing (LGBR) merupakan bela diri yang terlahir di Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing yang tidak bisa dilepaskan dari sisi historisnya. Lembaga Seni Bela Diri Garuda Bambu Runcing didirikan pada tanggal 18 Desember 1959 oleh K.H. Muhaiminan Gunardho di Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing Parakan Temanggung. LGBR memiliki 2 macam bela diri yaitu bela diri tangan kosong dan bela diri secara batin dengan dzikir serta tenaga dalam. Bela diri tangan kosong memiliki 4 tingkat. Bela diri secara batin memiliki 5 tingkat, masingmasing tingkat memiliki dzikir yang berbeda-beda, yaitu Asma ul-Husna, Asma Hizb al-Hikmah, Asma Hizb al-Barqi, Asma Hizb al-Latif, dan Asma Hizb al- Kubro. Dengan karakteristik yang dimilikinya, LGBR menjadi bela diri yang masih erat dengan unsur Islam yang tetap tidak terlepas dari unsur kesehatan dan kebugaran, karena di dalamnya terdapat unsur pernafasan, konsentrasi dan kekuatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejarah LGBR dan untuk memahami perkembangan LGBR dari tahun 1959-2014 M. Pada penelitian ini penulis menggunakan pendekatan antropologi untuk dapat lebih memahami fenomena LGBR dengan lebih dekat, dan langsung dari pelaku atau penggiatnnya. Selain menggunakan pendekatan tersebut, penulis juga menggunakan teori fungsionalisme guna menjelaskan fungsi LGBR di Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing Parakan Temanggung. Metode yang digunakan adalah metode historis untuk melukiskan secara utuh dan kronologis perkembangan Bela Diri Garuda Bambu Runcing dari tahun 1959-2014 M. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa perkembangan LGBR membawa banyak perubahan seperti bentuk kelembagaan yang menjadi lebih modern dalam bentuk organisasi dengan struktur yang tertata. Selain itu juga perubahan pola perilaku budaya para anggotanya. Budaya ini bukan semata-mata dalam bentuk seni bela diri tetapi juga erat kaitanya dengan cara menjalani hidup para pengikutnya. Di situ ada ritual, ada pola perilaku, bahkan gaya hidup namun masih erat dengan unsur Islam. Adapun perkembangan di Pondok Pesantren Kyai Parak I dari tahun 1959-2014 berjumlah 500 orang, lalu perkembangan di Pondok Pesantren Kyai Parak II tahun 1959-2014 berjumlah 1000 orang. Perkembangan Bela Diri Garuda Bambu Runcing juga membawa bela diri ini banyak mendapatkan juara di beberapa daerah dan tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Siti Maimunah S. Ag., M.Hum.
Uncontrolled Keywords: Seni bela diri garuda bambu runcing, Pesantren Kyai Parak
Subjects: Sejarah Peradaban / Kebudayaan Islam
Divisions: Fakultas Adab dan Ilmu Budaya > Sejarah Kebudayaan Islam (S1)
Depositing User / Editor: Drs. Bambang Heru Nurwoto
Date Deposited: 10 May 2016 09:36
Last Modified: 10 May 2016 09:36
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/20613

Actions (login required)

View Item View Item