KONTRIBUSI SITI HAJJINAH MAWARDI PADA PERGERAKAN WANITA DI INDONESIA (1917-1991)

LELY SETYA RINI - NIM. 01120637, (2009) KONTRIBUSI SITI HAJJINAH MAWARDI PADA PERGERAKAN WANITA DI INDONESIA (1917-1991). Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Salah satu tokoh wanita Islam yang berperan dalam perkembangan pergerakan wanita di Indonesia adalah Siti Hajjinah Mawardi. Ia dilahirkan di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1906 dan dibesarkan di lingkungan yang taat beribadah. Pada usia belasan tahun Siti Hajjinah bergabung dengan perkumpulan pengajian Sopo Tresno yang diadakan oleh Kyai Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan. Tahun 1917, ketika Sopo Tresno berganti nama menjadi ‘Aisyiyah, Hajjinah juga bergabung di ‘Aisyiyah. Dari saat itulah Hajjinah aktif di ‘Aisyiyah sampai akhir hayatnya. Pada tahun 1928, Hajjinah Mawardi diutus oleh ‘Aisyiyah untuk menghadiri konggres wanita Indonesia pertama di Yogyakarta. Ia bersama-sama dengan utusan pergerakan wanita lain membentuk Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII) Objek penelitian ini adalah Siti Hajjinah Mawardi dari tahun 1971-1991. Penulis memilih tahun 1917 sebagai awal penelitian karena pada tahun tersebut Siti Hajjinah mulai aktif di organisasi pergerakan wanita dan tahun 1991 sebagai akhir penelitian karena pada tahun tersebut Hajjinah Mawardi meninggal dunia. Untuk memperoleh deskripsi yang jelas maka berikut hal-hal yang hendak ditelusuri dengan dipandu pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut; 1. Bagaimana latar belakang Hajjinah Mawardi? 2. Bagaimana kontribusi peran Hajjinah Mawardi pada Aisyiyah? 3. Bagaimana kontribusi/peran Hajjinah Mawardi pada pergerakan wanita di Indonesia? Dalam penelitian ini digunakan pendekatan gender. Gender adalah perbedaan laki-laki dan wanita yang dikonstruksikan secara sosial dan kultural. Gender mempunyai sifat sosial yang diperoleh dari pembiasaan atau pembelajaran masyarakat sehingga terpengaruh oleh waktu, tempat dan kondisi sosial Dengan segala perjuangan Hajjinah, pada usianya memasuki tahun ke-74, Hajjinah dipanggil menghadap Ibu Tien Soeharto di Jakarta, akan tetapi pertemuan dengan ibu negara yang dijadwalkan pada tanggal 19 Desember 1985 itu tidak dapat dihadirinya. Selanjutnya presiden dan Ibu Tien Soeharto menghadiahinya foto kepala negara beserta Ibu yang ditandatangani sendiri oleh presiden Soeharto, dalam foto itu oleh presiden Soeharto dituliskan “salam dan selamat untuk Ibu H.Mawardiâ€Â. Foto hadiah kepada negara dan ibu negara merupakan penghargaan yang diterimanya atas jasa-jasanya sebagai salah seorang pemrakarsa sekaligus peserta kongres wanita pertama Indonesia. Dengan demikian sewajarnya apabila Hajjinah dapat dijuluki sebagai “Muslimah Pejuang Tiga Zamanâ€Â

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: PEMBIMBING: ZUHROTUL LATIFAH, S.AG, M.HUM
Uncontrolled Keywords: wanita Islam, Siti Hajjinah Mawardi, konggres wanita Indonesia, Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:42
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/2242

Actions (login required)

View Item View Item