KONSEP KEBERAGAMAAN ALIRAN KEPERCAYAAN SAPTA DARMA DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN SOSIAL

ADDI ARIFIANTO, NIM. 12540049 (2016) KONSEP KEBERAGAMAAN ALIRAN KEPERCAYAAN SAPTA DARMA DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN SOSIAL. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (KONSEP KEBERAGAMAAN ALIRAN KEPERCAYAAN SAPTA DARMA DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN SOSIAL)
12540049_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf

Download (3MB) | Preview
[img] Text (KONSEP KEBERAGAMAAN ALIRAN KEPERCAYAAN SAPTA DARMA DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN SOSIAL)
12540049_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (881kB)

Abstract

Sapta Darma merupakan aliran kebatinan yang berasal dari Kota Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Aliran ini lahir atas pengalaman spiritual seorang pendirinya yang bernama Hardjosopoero pada tahun 1952. Kemudian menyebar ke berbagai wilayah tanah air, karena diyakini mengajarkan ketenangan dan laku spiritual. Dari tahun ke tahun Sapta Darma terus berkembang dan semakin banyak pengikutnya. Dalam era modernisasi karena kemajuan teknologi, Sapta Darma masih tetap bertahan dan selalu eksis. Padahal di era perubahan sosial yang begitu cepat orang sudah enggan untuk membicarakan mengenai hal-hal yang berbau mistis, kebatinan maupun kejawen. Akan tetapi berbeda dengan Sapta Darma yang masih tetap digemari oleh pengikutnya. Dalam konteks ini Sapta Darma sebagai wadah untuk memenuhi kebutuhan spiritual, rohani, dan pengolahan rasa. Studi Sosiologi Agama tentang aliran kepercayaan Sapta Darma memberi fokus terhadap strategi pengembangan misi ajaran di tengah perubahan sosial. Teori yang digunakan adalah teori strategi perubahan sosial. Terdapat tiga bentuk strategi sebagai pisau analisis, pertama strategi fasilitatif, kedua strategi reedukatif, dan ketiga strategi persuasif. Strategi fasilitatif dan strategi persuasif lebih terfokus kepada aspek sosial sedangkan bentuk strategi reedukatif lebih mengacu kepada pendidikan maupun pendampingan untuk menuju kepada aspek spiritual. Strategi fasilitatif lebih mengutamakan kepada sumber daya, informasi, dan sebagai sarana konsultasi. Strategi reedukatif lebih kepada pendidikan, pembinaan, dan pemberdayaan. Sedangkan strategi persuasif menggunakan bujukan melalui perseorangan, dengan keterlibatan perasaan yang mempertimbangkan nilai-nilai budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi Sapta Darma secara hukum sudah setara dengan agama resmi negara hal ini terlihat jelas dalam pasal 29 ayat 2, pasal itu dianggap sebagai kesetaraan pengakuan negara terhadap aliran kebatinan dan agama, akan tetapi masih sebatas kepercayaan lokal atau kebatinan belum sebagai agama resmi negara. Walaupun sudah setara dengan agama resmi kewajiban negara untuk mengayomi terhadap warga negaranya khususnya warga Sapta Darma belum tepenuhi secara maksimal, masih banyak warga Sapta Darma yang masih mengalami diskriminasi dalam hal pemenuhan hak-hak sipilnya. Strategi perubahan sosial dapat memberi implikasi terhadap kerukunan sosial dan budi luhur. Ke rukunan sosial akan mengarahkan kepada kerukunan umat beragama dan toleransi di masyarakat. Sedangkan budi luhur akan menciptakan bentuk kearifan lokal pada masyarakat yang akan menghasilkan sikap kebijaksanaan dalam setiap individu.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Dr. Moh. Soehadha, S.Sos, M.Hum
Uncontrolled Keywords: Strategi Perubahan Sosial, Sapta Darma, Ajaran Kebatinan
Subjects: Sosiologi Agama
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Sosiologi Agama (S1)
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum [IT Staff]
Date Deposited: 24 Nov 2016 08:23
Last Modified: 24 Nov 2016 08:23
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/22678

Actions (login required)

View Item View Item