UPACARA ADAT MERTI BUMI DI DUSUN TUNGGUL ARUM, DESA WONOKERTO, KECAMATAN TURI, KABUPATEN SLEMAN

ROHJIYATI - NIM. 04121965, (2009) UPACARA ADAT MERTI BUMI DI DUSUN TUNGGUL ARUM, DESA WONOKERTO, KECAMATAN TURI, KABUPATEN SLEMAN. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Masyarakat Wonokerto kecamatan Turi, kabupaten Sleman, propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan salah satu komunitas yang terus mengalami perubahan. Di antara mereka ada yang sudah berpikiran maju, ada yang masih percaya pada hal-hal yang ghaib dan ada juga yang sangat kental keagamaannya. Banyak tradisi dan warisan nenek moyang mereka yang masih mereka lakukan seperti kenduri, slametan, bersih desa dan ritual-ritual lainnya. Sebagai masyarakat agraris yang mata pencaharian penduduknya mayoritas adalah bertani (penghasil salak), masyarakat Wonokerto setiap tahun melaksanakan upacara adat bersih desa yang diberi nama Upacara Merti Bumi. Upacara Merti Bumi ini dilaksanakan setiap bulan Sapar. Untuk tahun 2008 ini dilaksanakan pada tanggal 10 Februari 2008 yang bertempat di dusun Tunggul Arum, desa Wonokerto, kecamatan Turi, kabupaten Sleman, propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Upacara Merti Bumi merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya yang berupa panen yang melimpah. Pada perkembangannya, upacara Merti Bumi merupakan obyek pariwisata. Masyarakat masih berusaha untuk melestarikannya karena upacara tersebut merupakan warisan dari leluhur mereka yang tidak boleh ditinggalkan. Adapun makanan yang digunakan dalam upacara tersebut adalah nasi putih yang dibentuk kerucut (robyong) dengan lauk pauknya, gunungan palawija seperti buahbuahan dan sayur-sayuran yang dibentuk kerucut. Ada satu keunikan makanan yang digunakan dalam upacara Merti Bumi yaitu buah salak yang dibentuk kerucut yang menunjukkan bahwa dusun Tunggul Arum mayoritas penghasil buah salak yang melimpah. Menurut tradisi, malam hari sebelum siang harinya diselenggarakan upacara Merti Bumi, maka lebih dahulu diadakan Mujahadah (pengajian). Kegiatan Mujahadah ini diikuti hampir seluruh dusun Tunggul Arum. Mereka bersama-sama berkumpul di rumah salah satu warga di dusun Tunggul Arum. Kegiatan Mujahadah ini bertujuan untuk memanjatkan do’a, memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar upacara Merti Bumi yang diselenggarakan esok harinya tidak menemui halangan dan dapat berjalan lancar. Permasalahan yang akan dikaji adalah mengapa upacara Merti Bumi sampai saat ini masih dilaksanakan. Apa makna upacara Merti Bumi bagi kehidupan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan Antropologi Budaya, yaitu studi Antropologi yang memusatkan perhatiannya pada aspek organisasi sosial daripada kehidupan manusia itu sendiri. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerangka teori Brosnilaw Kacper Malinowski (1884 – 1942), yaitu teori Fungsionalisme. Malinowski berasumsi bahwa semua unsur kebudayaan akan bermanfaat bagi masyarakat atau dengan kata lain bahwa Fungsionalisme berpandangan bahwa kebudayaan mempertahankan setiap pola kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan., yang sudah merupakan bagian kebudayaan dalam suatu mayarakat. Penelitian ini akan menggunakan metode observasi, partisipasi, interview atau wawancara, dan dokumentasi.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: PEMBIMBING: ALI SODIQIN, S.AG., M.AG
Uncontrolled Keywords: tradisi, Upacara Merti Bumi, kebudayaan
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 23:42
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/2287

Actions (login required)

View Item View Item