TRADISI MERARIK MASYARAKAT BANGSAWAN DAN MASYARAKAT BIASA SUKU SASAK DI LOMBOK (Studi Kasus di Desa Banyu Urip, Kec. Praya Barat, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat)

AHMAD KHAERUL KHOLIDI, NIM. 12520011 (2016) TRADISI MERARIK MASYARAKAT BANGSAWAN DAN MASYARAKAT BIASA SUKU SASAK DI LOMBOK (Studi Kasus di Desa Banyu Urip, Kec. Praya Barat, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat). Skripsi thesis, UIN SINAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text (TRADISI MERARIK MASYARAKAT BANGSAWAN DAN MASYARAKAT BIASA SUKU SASAK DI LOMBOK (Studi Kasus di Desa Banyu Urip, Kec. Praya Barat, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat))
12520011_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (2MB) | Preview
[img] Text (TRADISI MERARIK MASYARAKAT BANGSAWAN DAN MASYARAKAT BIASA SUKU SASAK DI LOMBOK (Studi Kasus di Desa Banyu Urip, Kec. Praya Barat, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat))
12520011_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (1MB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah budaya pernikahan sebagai bentuk ekspresi kehidupan yang tertuang dalam prosesi upacara adat, terutama suku Sasak di Lombok. Tradisi merarik telah menjadi bagian dari sebuah upacara perkawinan masyarakat Sasak, yaitu sebuah prosesi yang dilakukan oleh sepasang pengantin laki-laki dan pengantin perempuan untuk melakukan pernikahan. Proses adat tersebut berkaitan dengan pola perilaku, yakni suatu cerminan pemaknaan tata perilaku masyarakat yang jika dilanggar akan terjadi ketidak harmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, merarik pada hakekatnya dapat diartikan sebagai perkawinan penting dalam kehidupan manusia. Disetiap proses adat merarik di masyarakat suku Sasak terdapat makna-makan tertentu di dalamnya. Oleh sebab itu, tradisi merarik ini, layak untuk diangkat sebagai subyek penelitian trutama pada aspek yang unik, mengapa tradisi merarik dijadikan sebagai ritual yang wajib untuk ditunaikan. Adapun pertanyaan penelitian yang penulis ajukan adalah 1. Bagaimana proses tradisi merarik masyarakat bangsawan dan masyarakat biasa suku Sasak di Desa Banyu Urip. 2. Apa makna merarik bagi masyarakat bangsawan dan masayarakat biasa suku Sasak di Desa Banyu Urip. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), yang teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan sumber datanya terdiri atas sumber data primer dan sekunder. Analisis datanya dilakukan melalui analisis deskriptif kualitatif. Selanjutnya, teori yang digunakan mengacu kepada teori simbolik Victor Turner. Adapun hasil penelitian antara lain: Pertama, proses merarik masyarakat bangsawan dan masyarakat biasa pra dan pasca akad nikah di Desa Banyu Urip pada dasarnya semuanya sama. Tetapi, ketika masyarakat bangsawan menikah dengan sesama bangsawan proses pelaksanaan pernikahannya lebih kental dengan nuansa tradisioanal dan pernikahan tersebut bermuara pada stratifikasi sosial yang lebih tinggi. Sebaliknya, ketika masyarakat biasa menikah dengan sesama masyarakat biasa maka proses pernikahannya dilaksanakan secara biasa-biasa saja. Proses pernikahan masyarakat Sasak di Desa Banyu Urip terdiri dari beberapa proses; midang, menculik, besejati dan beselabar, betikah, begawe, nyongkolan, bales ones naen. Kedua, makna-makna yang terkandung dalam proses tradisi merarik di Desa Banyu Urip baik masyarakat bangsawan maupun pada masyarakat biasa tidak terdapat perbedaan yang signifikan: Misalnya menculik atau mengambil mengandung makna simbolik dari bentuk keberanian atau kejantanan seorang lakilaki, sedangkan makna nyelabar mengandung pemberitahuan informasi bahwa calon pengantin wanita berada di rumah keluarga calon pengantin laki-laki selanjutnya. begawe beleq bermakna menambahkan nilai kebersamaan, nilai kenyamanan dalam batin (jiwa) yaitu; menjalankan adat berarti menenangkan jiwa, sementara nyongkol adalah bentuk pengumuman kepada masyarakat luas bahwa pasangan pengantin sudah berstatus resmi menikah. Meski tidak memiliki perbedaan dalam hal proses, namum merarik sesama bangsawan berdampak pada naiknya stratifikasi sosial ketarap yang lebih tinggi, sedangkan makna merarik sesama masyarakat biasa menyimbolkan pernikahan biasa-biasa saja tidak berdampak pada perubahan status sosialnya. Kata Kunci: Merarik, Makna, Simbol, Suku Sasak, dan Desa Banyu Urip.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Khairullah Zikri, S.Ag., MAStRel
Uncontrolled Keywords: Merarik, Makna, Simbol, Suku Sasak, dan Desa Banyu Urip.
Subjects: Masyarakat Islam
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Perbandingan Agama (S1)
Depositing User / Editor: Sugeng Hariyanto, SIP (sugeng.hariyanto@uin-suka.ac.id)
Date Deposited: 13 Mar 2017 01:13
Last Modified: 13 Mar 2017 01:13
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/24188

Actions (login required)

View Item View Item