PERAN TETUA ACEH DALAM MEDIASI PERCERAIAN DI DESA PAYA BUJOK TUNONG, KOTA LANGSA (STUDI KOMPARASI HUKUM ISLAM DAN HUKUM ADAT)

AHMAD SATRIA FATAWI, NIM. 12360015 (2017) PERAN TETUA ACEH DALAM MEDIASI PERCERAIAN DI DESA PAYA BUJOK TUNONG, KOTA LANGSA (STUDI KOMPARASI HUKUM ISLAM DAN HUKUM ADAT). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (PERAN TETUA ACEH DALAM MEDIASI PERCERAIAN DI DESA PAYA BUJOK TUNONG, KOTA LANGSA (STUDI KOMPARASI HUKUM ISLAM DAN HUKUM ADAT))
12360015_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (7MB) | Preview
[img] Text (PERAN TETUA ACEH DALAM MEDIASI PERCERAIAN DI DESA PAYA BUJOK TUNONG, KOTA LANGSA (STUDI KOMPARASI HUKUM ISLAM DAN HUKUM ADAT))
12360015_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (4MB)

Abstract

Perceraian di Aceh semakin lama semakin memprihatinkan. Ini bisa dilihat dari data Mahkamah Syariah Aceh. Pada tahun 2014 permohonan cerai yang masuk ke Mahkamah Syari’ah (MS) di seluruh Aceh mencapai 4.801 kasus. Angka ini bertambah menjadi 5.300 pada tahun 2015. Pada tahun yang sama, pasangan yang membangun mahligai rumah tangga di Aceh tercatat 40.616 pasang. Namun lebih dari 13% pasangan suami istri (pasutri) Sedangkan didesa Paya Bujok Tunong gugatan perceraian yang masuk di kantor kepala desa pada tahun 2015 dan 2016 tercatat 30 puluh kasus Aceh pada tahun itu memilih untuk mengakhiri pernikahan mereka. Perlu adanya perhatian dalam permaslahan ini. mediasi adalah jalan yang terbaik dalam menengahi ṡhiqāq. Penerapannya perlu dimaksimalkan dengan baik. Di Aceh sendiri ada otonomi daerah yang mengurusi tentang mediasi adat yaitu orang tua Aceh yang mengurusi peradilan adat termasuk diantaranya mediasi. Perlu dilihat juga apa saja yang menjadi faktorfaktor yang melatarbelakangi suami istri ingin bercerai. Dan bagai mana peran orang tua Aceh dalam mengatasi perceraian di desa Paya Bujok Tunong khususnya. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan mewawancarai pihak-pihak yang terkait dalam mediasi perceraian masyarakat di Aceh yang berhubungan pokok bahasan yang menjelaskan tentang konsep dari peran orang tua Aceh dan hukum Islam. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, dimana metode analisis yang dipakai adalah berupa analisis sosiologis-komparatif, yaitu dengan membandingkan data yang diperoleh dilapangan berkaitan dengan mediasi perceraian dalam adat Aceh dan teori hukum Islam sehingga dapat diketahui persamaan dan perbedaannya. Hasil penelitian menunjukkan peran orang tua Aceh sangat penting untuk mencegah perceraian terjadi dalam menangani kasus perceraian di Aceh. Proses penanganan yang melibatkan pihak-pihak yang bermasalah dan masyarakat sekitar memberikan dampak fositif untuk menjegah terjadinya perceraian. Sedangkan dalam hukum Islam seperti yang diterapkan pada Peradilan Agama untuk bisa menyidangkan perkara perceraian Majelis Hakim wajib lebih dahulu memerintahkan suami-istri untuk melakukan mediasi. Peran mediator dalam memediasi permasalahan perceraian sangat penting karena merupakan suatu proses yang harus dilalui dalam persidangan. Perbedaan mediasi perceraian dalam hukum Islam dan hukum Adat Aceh terdapat pada faktor mediator. Mediator dalam hukum Islam mengutus 2 (dua) mediator yang terdiri dari pihak suami dan pihak istri untuk bermusyawarah. Sedangkan mediator dalam adat Aceh hanya mengutus 1 (satu) orang yang dipandang sebagai orang bijaksana di Kampung dan sudah di tuakan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Drs. ABDUL HALIM, M.Hum 19630119 199003 1 001
Uncontrolled Keywords: Mediasi, Mediator, Orang Tua Aceh, Perceraian
Subjects: Perbandingan Madzhab
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Perbandingan Madzab (S1)
Depositing User / Editor: Drs. Bambang Heru Nurwoto
Date Deposited: 05 Apr 2017 01:52
Last Modified: 05 Apr 2017 01:52
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/24949

Actions (login required)

View Item View Item