USULAN PEMBAKARAN MAYAT SEBAGAI ALASAN KESEHATAN TELAAH ATAS TRAGEDI TSUNAMI (PANDANGAN HUKUM ISLAM DAN MEDIAS)

ETHA SANTININGRUM, NIM. 01361008 (2005) USULAN PEMBAKARAN MAYAT SEBAGAI ALASAN KESEHATAN TELAAH ATAS TRAGEDI TSUNAMI (PANDANGAN HUKUM ISLAM DAN MEDIAS). Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga.

[img]
Preview
Text (USULAN PEMBAKARAN MAYAT SEBAGAI ALASAN KESEHATAN TELAAH ATAS TRAGEDI TSUNAMI (PANDANGAN HUKUM ISLAM DAN MEDIAS))
BAB I, V, DP.pdf - Published Version

Download (13MB) | Preview
[img] Text (USULAN PEMBAKARAN MAYAT SEBAGAI ALASAN KESEHATAN TELAAH ATAS TRAGEDI TSUNAMI (PANDANGAN HUKUM ISLAM DAN MEDIAS))
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (19MB)

Abstract

Suatu kenyataan yang sangat tragis bahwa pasca bencana tsunami di Aceh dan sekitarnya korban-korban berjatuhan hingga ratusan ribu manusia yang menjadi mayat. Semestinya setelah pengevakuasian para jenazah, mayat-mayat dikumpulkan dan akhirnya dikubur, namun karena banyaknya mayat yang bergelimpangan, tenaga pengevakuasian mayat dan pengurusan mayat sangat kurang memadai. Dan sebagaimana diketahui karena banyaknya mayat yang ada, perawatan jenazah pun tak lagi digubris seperti yang dikehendaki syara ', hingga kemudian dalam proses penguburan ada usulan untuk membakar rnayat-mayat itu, alasannya karena khawatir akan munculnya wabah penyakit akibat jasad yang membusuk. Usulan tersebut datang dari pihak medis dan sejumlah tokoh yang menyetujui diadakannya pembakaran mayat. Tuntunan perawatan jenazah dalam Islam dan Medis, tentunya ada beberapa perbedaan, yang mana dari perbedaan ini akan mempengaruhi prosedur kerjanya. Usulan diadakannya pembakaran mayat secara tegas dibantah oleh bcrbagai pihak, seperti MU1, FPI, MMI, serta tokoh pernerintahan seperti Alwi Shihab dan dari tokoh muslim seperti Hasyim Muzadi. Meskipun ada beberapa argumen tokoh muslim yang membolehkan pembakaran mayat, yang salah satunya adalah Gus Our namun pada hakekatnya pembakaran mayat bukanlah ajaran dari Islam. Adapun dari sisi Medis, pembakaran mayat perlu dilaksanakan sebagai langkah preventif atas timbulnya berbagai penyakit dari jasad yang membusuk yang akan mcncemari tanah dan udara. Pembahasan mengcnai problem pembakaran mayat bagi korban tsunami di NAD yang mayoritas beragama Islam memang layak untuk dikaji. Penyusun berusaha mengkomparasikan dua pandangan yaitu antara Hukum Islam dan Medis tentang pengimplementasian pembakaran mayat itu, sejauh mana batas relevan mengungkap kriteria keterdesakan/keadaan darurat untuk tidak mengubur mayatmayat itu. Kajian ini menggunakan pendekatan yuridis-nonnatif, yakni pendekatan yang mengarah pada penerapan Jandasan hukum (legalitas) negara, yang dikorelasikan dengan hukum Tuhan (ajaran agama) yang dianggap benar. Berdasarkan metode penggalian dahl yang digunakan, maka terdeteksi bahwa bagi kalangan masyarakat Aceh pembakaran mayat merupakan tindakan yang menyalahi hukum syar 'i. Sedangkan kalangan Medis yang berpegang pada ketentuan UU Kesehatan serta para pengusul pembakaran mayat mereka cenderung pada konsep kemaslahatan yaitu melakukan tindakanlhal yang lebih efisien dan efektif untuk mcnghindari mat;larat atau bahaya yang mungkin timbul bila tidak dilakukan pembakaran. Meskipun kedua argumen saling pro-kontra_ namun sebagai kebijakan yang dapat diambil, yakni berdasarkan urf setempat, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa mclakukan tindakan pembakaran mayat adalah lwram. sepanjang masih ada altematif lain yang bisa dilakukan untuk menguburkan mayat.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: l. DRS. ABDUL HALIM, M. HUM 2. FA TMA AMILIA, S.AG, M.SI
Uncontrolled Keywords: pembakaran mayat, tsunami
Subjects: Perbandingan Madzhab
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Perbandingan Madzab (S1)
Depositing User / Editor: Sugeng Hariyanto, SIP (sugeng.hariyanto@uin-suka.ac.id)
Date Deposited: 03 Jul 2017 02:44
Last Modified: 03 Jul 2017 02:44
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/25675

Actions (login required)

View Item View Item