RELASI ISLAM DAN NEGARA MENURUT ABDULLAHI AHMAD AN-NA'IM

AHMAD SIDDIQ NIM: 03370315, (2009) RELASI ISLAM DAN NEGARA MENURUT ABDULLAHI AHMAD AN-NA'IM. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[img]
Preview
Text (RELASI ISLAM DAN NEGARA MENURUT ABDULLAHI AHMAD AN-NA'IM)
BAB I, V, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (1MB) | Preview
[img] Text (RELASI ISLAM DAN NEGARA MENURUT ABDULLAHI AHMAD AN-NA’IM)
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (309kB)

Abstract

Perbincangan mengenai Islam dan Negara mendapat perhartian serius di kalangan akademisi, negarawan, terutama di kalangan intelektual muslim. Hal ini disebabkan oleh adanya gagasan mengenai Islam sebagai ideologi negara, tentu saja negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Islam dapat dijadikan sebagai asas Negara? Dan, bagaimana relasi Islam dan negara? Mengacu pada pertanyaan itu, pada dasarnya diskusi tentang relasi Islam dan negara di kalangan intelektual muslim telah berlangsung lama. Demikian pun, persoalan relasi Islam dan negara telah menjadi diskursus di kalangan intelektual muslim. Di antaranya, An-Na'im, Ibnu Abi Rabi', al-Mawardi, Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, Rasyid Ridla, dan lain sebagainya. Di antara beberapa tokoh di atas, penyusun merasa tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang konseptualisasi An-Na'im mengenai relasi Islam dam negara. Ketertarikan penulis terutama pada sisi metodologisnya dan subtansi diskursus yang ia lendingkan, termasuk juga mengenai letak keberbedaannya dengan para pemikir lain yang penulis sebutkan di atas (pemikir muslim klasik), atau pemikir muslim lain yang kurang lebih sezaman dengannya, seperti Nurcholis Madjid (Indonesia), Abou el Fadl (Mesir), dan para pemikir lainnya. Muncul perbedaan dalam gugusan pemikiran An-Na'im, seorang intektual Khartoum yang belakangan juga berbicara soal relasi Islam dan negara. Keberbedaan An-Na'im dengan para tokoh lainnya disebabkan oleh latar belakangnya (kontruksi sosio-politik Sudan) dan pengalaman historiografisnya ketika mengunjungi dan melihat dari dekat bagaimana wacana relasi Islam dan negara bergulir di beberapa negara berpenduduk muslim, seperti India, Turki, Indonesia, Nigeria, Mesir, dan lain sebagainya. Skripsi ini merupakan penelitian pustaka (library reserach) yang bersifat deskriptif-analitik dengan menggunakan pendekatan historis. Dengan tujuan untuk mengetahui sosio-politik yang melatar belakangi pemikiran An-Na'im. Dalam diskursus ini penyusun menggunakan teori politik Islam dan siyasah dusturiah sebagai kerangka besarnya karena kajian ini mencakup persoalan relasi Islam dan negara. Kesimpulan dari skripsi ini, masalah syariah adalah masalah penafsiran. Ketika syariah ini dijadikan sebagai konstitusi maka sebetulnya yang terjadi adalah pemaksaan sebuah penafsiran yang kompatibel dengan proses hegemoni (setidaknya hegemoni penafsiran). Jika syariah dipaksakan, maka yang terjadi adalah klasifikasi warga negara menjadi dua, yaitu warga utama dan warga kelas dua. Dengan demikian, dalam persoalan relasi Islam dan negara, An-Na'im kemudian mengajukan Negara modern dengan konstitusi yang juga modern sebagai pengganti dari syariah. Sebab hanya sistem inilah yang paling menjamin keadilan (fairness). Terkait dengan isu-isu relasi Islam dan negara, An-Na'im menolak keras konsep murtad (riddah atau keluar dari Islam) dan konsep dzimmi. Menurutnya, agama adalah sebuah pilihan. Pluralitas merupakan sebuah keniscayaan, dan perbedaan tidak serta merta disikapi dengan ketidakadilan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing : Drs. M. Rizal Qosim M.Si. Drs. Ocktoberrinsyah, M. Ag.
Uncontrolled Keywords: Relasi Islam, negara, Abdullahi Ahmad An-Na'im.
Subjects: Politik Islam
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Jinayah Siyasah (S1)
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Date Deposited: 27 Aug 2012 13:16
Last Modified: 21 Apr 2016 04:40
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/2579

Actions (login required)

View Item View Item