HADIS NABI TENTANG KASRAH AL-SU'AL (STUDI MA'ANIL HADIS)

SITI NURHIDAYATI, NIM.99532871 (2005) HADIS NABI TENTANG KASRAH AL-SU'AL (STUDI MA'ANIL HADIS). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text (HADIS NABI TENTANG KASRAH AL-SU'AL (STUDI MA'ANIL HADIS))
BAB I, V, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (2MB) | Preview
[img] Text (HADIS NABI TENTANG KASRAH AL-SU'AL (STUDI MA'ANIL HADIS))
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (5MB)

Abstract

Bertanya merupakan salah satu bentuk komunikasi dalam upaya manusia untuk mengatasi keterbatasan pengetahuannya. Bahkan banyak dalil al•Qur'an dan Sunnah yang menganjurkan pada manusia untuk bertanya. Adanya hadis yang melarang banyak bertanya memunculkan kontradiksi tersendiri dalam memahami dan mempraktekkannya . Popularitas keshahihan hadis tersebut lebih didukung banyaknya periwayat yang masuk dalam kategori marfu'•muttasi1 Karenanya, pertama penelitian ini mengkaji pemahaman had.is larangan banyak bertanya; yakni untuk mengetahui makna hadis tersebut lebih dalam sehingga terungkap hakekat pesan yang dikandungnya . Kedua, relevansinya dalam proses pembelajaran; yakni didalamnya tidak sekedar mengupas kaitan larangan banyak bertanya dengan proses pembelajaran yang selama ini terkesan kontradiktif, lebih dari itu sebagai aplikasi makna hadis tersebut. Penelitian ini memaparkan kajian hadis tersebut secara deskriptif-.analitik mulai dengan historisitas hadis tersebut (baik latar belakang disabdakannya sampai dengan perdebatan pemahamannya), kemudian secara eidetis menampilkan komprehensi pemahaman dan sebagai tindak lanjutnya, kajian aplikasinya lebih mendalam pada proses pembelajaran. Dalam sejarahnya, hadis tersebut memang banyak menimbulkan pemahaman yang berbcda bahkan bertentangan. Namun pemahaman yang lebih akurat dapat ditemukan pada popolaritas pemahaman yang ada ditambah dengan kajian sebab turunnya hadis terscbut dan mcmbandingkannya dengan berbagai riwayat hadis yang lain . Larangan banyak bertanya tersebut lebih dikarenakan pertanyaan yang diajukan tidak bermutu dan lebih bertendensi untuk memojokkan penjawab daripada mencari pengetahuan atau larangan tersebut lebih dikarenakan situasi dan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk menjalin hubungan bertanya. Sehingga harus memperhatikan faktor psikologis pcrsonalita (penanya dan tertanya) serta materi pertanyaan. Adapun secara umum larangan banyak bertanya merupakan tuntutan kesimbangan dalam bertanya, yakni dengan bertanya banyak sescorang dapat mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya, sedangkan banyak bertanya Jebih mengesankan pesimisme akan kemampuan penanya akan sesuatu hal yang sudah diketahuinya. Hal tersebut tidak sekedar menghilangkan kesan yang kontra produktif dalam proses pembelajaran, namun juga larangan banyak bertanya tersebut mengindikasikan suatu hubungan komunikatif yang efektif dalam proses pembelajaran antara penanya dan tertanya baik posisinya sebagai guru maupun murid .

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Dr. Suryadi, MA NIP.150259419
Subjects: Tafsir Hadist
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Tafsir Hadist (S1)
Depositing User / Editor: S.kom Fatchul Hijrih
Date Deposited: 11 Jul 2017 03:59
Last Modified: 11 Jul 2017 03:59
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/26158

Actions (login required)

View Item View Item