PENAFSIRAN AYAT-AYAT AMSAL AL-QURAN DENGAN PENDEKATAN HERMENEUTIK SASTRA

MUHAMMAD MAIMUN, NIM. 00530295 (2005) PENAFSIRAN AYAT-AYAT AMSAL AL-QURAN DENGAN PENDEKATAN HERMENEUTIK SASTRA. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text
BAB I, V, DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (8MB) | Preview
[img] Text
BAB II, III, IV.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (8MB)

Abstract

Al-Qur'an mengandung berbagai persoalan mengenai kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang, kisah-kisah masa lampau dan peristiwaperistiwa masa datang, masalah-masalah yang kongkrit maupun yang abstrak. Secara sederhana, Al-Qur'an berisi dua bagian besar yaitu konsep-konsep, dan kisah-kisah, sejarah, dan amsil atau perumpamaan-perumpamaan. Perumpamaan dalam kajian 'uliim al-Qur'in ulama menyebutnya dengan istilah amsi1 Amsil bagian dari gaya bahasa Arab yang memuat pesan-pesan dengan berbagai bentuk susunan kalimatnya singkat padat maknanya. Kajian ini memahami amsil alQur'in dengan pendekatan hermeneutik sastra. Henneneutik sastra adalah pendekatan yang mendasarkan pada pengkompromian filsafat dan kritik sastra yang memfokuskan problem · pcmahaman dan penafsiran al-Qur'an. Memahami teks al-Qur'an, adalah upaya mcmahami realitas melalui bahasa atau bentuk keindahan. Keberadaan bentuk ini menjadikan proses pemahaman menjadi mungkin, flcksibel, dan lestari. Pendekatan hem1cneutik sastra dibangun atas dua asumsi. Pertama alQur'an sebagaimana dituangkan dalam latarbelakang bahwa al-Qur'an yang terbahasakan dalam bahasa Arab dan terakreditasi oleh seluruh ahli al-Qur'an bahwa al-Qur'an mcmiliki dimcnsi kcmukjizatan sastrawi, sehingga jika mengabaikan pendekatan saslra akan mereduksi nilai-nilai sastra. Kedua teks alQur'an yang tertulis dan mendiamkan teks al-Qur'an yang tertulis berarti tidak mcngikuti seruan al-Qur'an yang selalu untuk memahaminya. Dan masih memiliki segudang makna karena masih ada pesan yang belum sampai pada kita. Herrneneutik sastra berusaha memahami am.~il al-Qur'in dari segi struktur permukaan dan struktur terdalam untuk mendapatkan pernahaman yang komprehensif. Ayat-ayat amsil al-Qur'in, struktur kalimatnya secara linguistik amsil mengunakan lafal masala dalam penggunaannya tidak selalu identik dengan tasybih, yang identik dengan tasybih terkadang ditemukan bersarnaan dengan adit tasybih, sedangkan misl ditemukan di dalam bermakna persamaan, sifat, dan perbandingan yang setara. Struktur kalimat amsil al-Qur'in tidak mengikuti tata bahasa Arab sebagaimana Q.S al-Baqarah 2: 17, Q.S Luqman 31: 28, sehingga penafsirannya tidak didasarkan pada struktur permukaan kalimat saja dan tidak mengabaikan analisis strukt ur terdalam. Di samping itu juga amsil al-Qur'in merupakan diktatik pedagogik Dalam konstruksi berfikir Islam, amsil al-Qur'in bisa dipahami sebagai paradigma yang berarti suatu konstruksi pengetahuan yang memahami realitas sebagaimana al-Qur'an memahaminya. Konstruksi pengetahuan itu dibangun oleh al-Qur'an pertama-tama dengan tujuan agar manusia memiliki "hikmah" yang at as dasar it u dapat dibentuk perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai normatif alQur'an, baik pada level moral-individual maupun level moral sosial. Amsil al-Qur'in ingin mengajak dilakukannya perenungan untuk memperoleh wisdom (hikmah). Melalui kontemplasi terhadap kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa historis, dan juga melalui metafora-metafora yang berisi hikmah tersembunyi, manusia diajak merenungkan halgkat dan makna kehidupan. Di antara pesan-pesasn moral dibuatnya amsil dalam al-Qur'an adalah ·sebagai pengingat dalam Q.S al-A'raf 7: 175-176 sebagai nasihat dalam Q.S Yunus 10: 24, Q.S al-Ankabut 29: 43, inspirasi dan motivasi dalam Q.S alBaqarah 2: 261, Al-Ra'd 13: 35, proteksi dalam Q.S al-Baqarah 2: 275, Q.S alA 'raf 7: 176 Q.S ai-I:Jujurat, 49: 2. Di samping itu, konstruksi pengetahuan itu juga merumuskan desain besar mengenai sistem Islam, termasuk dalam hal sistem ilmu pengetahuannya. Jadi, di samping memberikan gambaran aksiologis, amsil ai-Qur'in juga dapat berfungsi memberikan wawasan epistemologis. Karena itu, untuk memahami amsil secara benar, maka diperlukan usaha serius untuk dekat dan mengkaji al-Qur'an. Diperlukan pula usaha pengembangan metodologi pengkajian aJ-Qur'an agar senantiasa dapat memahami aJ-Qur'an sesuai dengan konteks zamannya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Drs. H. Mahfidz Masduki, M.A
Uncontrolled Keywords: sastra arab, penafsiran sastra
Subjects: Tafsir Hadist
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Tafsir Hadist (S1)
Depositing User / Editor: Edi Prasetya [edi_hoki]
Date Deposited: 11 Jul 2017 04:00
Last Modified: 13 Jul 2017 06:09
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/26165

Actions (login required)

View Item View Item