FEMINISME DALAM ISLAM (KAJIAN ATAS PEMIKIRAN AMINA WADUD TENTANG RELASI FUNGSIONAL ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN)

SUBHANI KUSUMA DEWI, NIM.01510645 (2005) FEMINISME DALAM ISLAM (KAJIAN ATAS PEMIKIRAN AMINA WADUD TENTANG RELASI FUNGSIONAL ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text (FEMINISME DALAM ISLAM (KAJIAN ATAS PEMIKIRAN AMINA WADUD TENTANG RELASI FUNGSIONAL ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN))
BAB I, V, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (4MB) | Preview
[img] Text (FEMINISME DALAM ISLAM (KAJIAN ATAS PEMIKIRAN AMINA WADUD TENTANG RELASI FUNGSIONAL ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN))
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (11MB)

Abstract

Al-Qur' an telah mengatakan bahwa pada dasamya manusia adalah setara. Namun demikian pada kenyataannya kesetaraan manusia ini tidak menjamin kondisi perempuan dengan laki-laki di kehidupan sosial mereka. Kecenderungan androsentrisme dari budaya patriarki banyak berpengaruh pada pemahaman umat Islam terhadap teks. Pada akhimya hal tersebut menimbulkan permasalahan pada pola relasi gender di beberapa negara Islam. Disini, perempuan mengalami beberapa diskriminasi dari akses publik hingga diskriminasi dalam pemahaman terhadap teks agama. Diskursus Feminisme dalam Islam memunculkan beberapa tipologi. Menurut pembagian Mirriam Cooke feminisme dalam Islam terbagi dalam tiga tipologi: yaitu feminisme Sekuler, Islamis, dan feminisme Islam. Permasalahan mengenai relasi gender merupakan permasalahan yang banyak mengundang perdebatan di antara mereka. Perbedaan cara pandang dan paradigma berfikir dari para feminis menyebabkan mereka juga berbeda pendapat dalam menyelesaikan permasalahan relasi gender. Namun mereka memiliki satu kesamaan, yakni mengakui adanya prinsip relasi fungsional. Salah satu tokoh yang mengulas tentang relasi fungsional adalah Amina Wadud, seorang intelektual muslim Amerika yang juga guru besar Studi Islam dan Filsafat Universitas Virginia Commonwealth. Integritasnya yang tinggi dalam kajian feminisme Islam telah mendorongnya untuk mengadakan riset tentang pandangan al-Qur'an mengenai perempuan terlepas dari pre-asumsi dari budaya androsentrisme-patiarki. Penelitian ini mengajukan dua pokok permasalahan: pertama, bagaimana pandangan tentang relasi fungsional menurut kajian feminisme dalam Islam?; kedua bagaimana pandangan Amina Wadud tentang relasi fungsional antara laki­ laki dan perempuan? Penelitian ini adalah library research, sumber-sumber data primer diperoleh dari buku-buku pustaka terutama karya Amina Wadud dan sudah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia yaitu Qur'iin menurut Perempuan; Meluruskan Bias Gender dalam Tradisi Tafeir, selain itu juga beberapa artikel Amina Wadud diantaranya Justice, Gender and Islam (www.wluml.org), A 'ishah 'sLegacy: Amina Wadud looks at The Struggle for Women's Rights within Islam (www.findarticles.com). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan metode deduktif-induktif dalam penyajian data, dan menggunakan metode interpretasi, metode komparasi, dan metode kesinambungan historis dalam pengolahan data. Penelitian ini telah menghasilkan beberapa kesimpulan. Di antaranya, pada diskursus feminisme dalam Islam, terdapat perbedaan pandangan tentang obyek penelitian. Di antaranya: Feminis Sekuler berpandangan bahwa relasi fungsional adalah adalah satu pola hidup yang tidak terdapat di dalamnya keserakahan mengambil hidup. Mereka tidak secara khusus membahas relasi fungsional kecuali penekanannya pada interaksi sosial yang mengutamakan prinsip saling pengertian. Para Islamis, dengan jelas menyebutkan bahwa relasi fungsional adalah relasi gender yang meniscayakan adanya peran secara kodrati sebagaimana ditakdirkan Tuhan bersamaan dengan penciptaan manusia di dunia. Relasi fungsional didasarkan pada prinsip inklusifitas manusia dan menjadikan prinsip ekuilibrium sebagai tujuannya. Dan terakhir, Feminisme Islam memiliki pandangan bahwa relasi fungsional adalah relasi gender yang di dalamnya meniscayakan adanya proses saling melengkapi sesuai dengan kelebihan masing• masing jenis kelamin (QS. An-Nisa' (4): 34). Feminis ini menyebut relasi fungsional sebagai sebuah hubungan yang sifatnya kontekstual, yaitu pembagian peran gender yang memperhatikan konteks sosial. Diantara para feminis Islam berpandangan bahwa pemahaman terhadap teks yang bias gender telah menyebabkan munculnya permasalahan di dalam relasi fungsional. Sedangkan relasi fungsional menurut Amina Wadud adalah adalah relasi gender yang dibentuk melalui pembagian peran secara seimbang antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan konteks yang dihadapi oleh manusia . Tujuan dari relasi tersebut tidak lain adalah menjaga keseimbangan manusia dalam menjalankan misi khafifah Tuhan di bumi . Al-Qur'iin tidak memberikan parameter kualifikasi antara laki-laki dan perempuan di dalam relasi fungsional kecuali bersifat abstrak, yaitu kesalehan amal mereka (taqwii). Wadud berkesimpulan bahwa parameter kualifikasi dari relasi fimgsional bersifat relatif.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Fatimah, MA.,Ph.D NIP.150256866
Subjects: Aqidah Filsafat
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta > Aqidah Filsafat
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Agama dan Filsafat (S2)
Depositing User / Editor: S.kom Fatchul Hijrih
Date Deposited: 12 Jul 2017 02:38
Last Modified: 12 Jul 2017 02:38
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/26248

Actions (login required)

View Item View Item