SENI PROFETIK ISLAM DAN KONGHUCU: STUDI PERBANDINGAN TERHADAP SANGGAR SENI KI AGENG GANJUR DAN KELOMPOK SENI BARONGSAI LIONG PERKUMPULAO BUDI ABADI YOGYAKARTA

USWATUN HASANAH, NIM.99523070 (2005) SENI PROFETIK ISLAM DAN KONGHUCU: STUDI PERBANDINGAN TERHADAP SANGGAR SENI KI AGENG GANJUR DAN KELOMPOK SENI BARONGSAI LIONG PERKUMPULAO BUDI ABADI YOGYAKARTA. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text (SENI PROFETIK ISLAM DAN KONGHUCU: STUDI PERBANDINGAN TERHADAP SANGGAR SENI KI AGENG GANJUR DAN KELOMPOK SENI BARONGSAI LIONG PERKUMPULAO BUDI ABADI YOGYAKARTA)
BAB I, V, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (6MB) | Preview
[img] Text (SENI PROFETIK ISLAM DAN KONGHUCU: STUDI PERBANDINGAN TERHADAP SANGGAR SENI KI AGENG GANJUR DAN KELOMPOK SENI BARONGSAI LIONG PERKUMPULAO BUDI ABADI YOGYAKARTA)
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (11MB)

Abstract

Hubungan seni dengan agama dalam perspektif Perbandingan Agama terdapat ruang-ruang kosong yang beltun mendapatkan studi maksimal. Tulisan ini mencoba untuk mengisi mang-ruang yang kosong itu dengan studi perbandingan terhadap seni profetik Islam dan Konghucu, sanggar Ki Ageng Ganjur dan barongsai liong sebagai ilustrasi lapangannya. Karenanya, dari tiga pertanyaan yang diajukan, sebenamya ada dua pertanyaan besar yang hendak dijawab dalam penelitian ini. Pertama apa yang dimaksud dengan seni propetik, dan kedua, bagaimana pengalaman keagamaan dari pelaku seni sanggar Ki Ageng Ganjur dan barongsai liong PBA Yogyakarta yang dapat dikategorikan sebagai seni profetik. Pertanyaan ini dijawab melalui penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif dengan analisis induktif dalam pengolahan datanya berdasarkan atas data-data penelitian lapangan. Informasi dari para pelaku yang terlibat aktif dalam aktivitas sanggar Ki Ageng Ganjur dan barongsai liong PBA menjadi pijakan terpenting studi. Adapun pendekatan Psikologi Agama digunakan dalam melihat dan memahami aspek pengalaman keagamaan personal yang diperoleh para pelaku seni. Seni profetik diukur dengan tiga pilar: amar maruf nahi munkar, dan tu 'minubillah atau humanisasi, liberalisasi, dan transendensi. Profetik yang diartikan kenabian tidak sekedar mengandung makna nabi dalam arti kitab suci samawi, seperti Islam. Ia juga mempunyai makna dalam bentuk kepercayaan dan agama ardli semacam Konghucu. Argumentasi ini didasarkan atas pengertian nabi yang diartikan sebagai pembawa ajaran kebaikan dari finnan Tuhan yang mengusung tiga pilar itu dengan berbagai cara. Karenanya, ajaran dari nabi Konghucu pun yang termuat ke dalam kesenian barongsai liong beserta pengalaman keagamaannya dapat disebut sebagai seni profetik. Bila dibandingkan antara pengalaman keagamaan pelaku sanggar Ki Ageng Ganjur dan barongsai liong PBA Yogyakarta, maka keduanya sama-sama mendapatkan kenikmatan (ectasy) berupa kebebasan dalam pemahaman personal atas keagamaan, juga perasaan kepuasan atas keterlibatan dalam memberikan 'rasa barn keagamaan' bagi pelaku dan penonton. Kenikmatan dan kepuasan itu berbentuk rasa ketenangan (khusuk dan tumaninah) dalam beribadah, ada sentuhan mistik ketika memahami agama, hormat kepada para kiai dan suhu sebagai orang-orang yang dapat memberi teladan kerjasama dalam beribadal1, memahami dan menjauhi kegiatan ma/ima (mabuk, madon, main, maling, dan mateni), serta yang tidak kalal1 pentingnya adalah melihat perbuatan ibadah itu berdimensi psikologis yang bersifat individual dan sosiologis yang bersifat umum.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Drs. Moh. Damami, M.Ag NIP.150202822
Subjects: Perbandingan Agama
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Perbandingan Agama (S1)
Depositing User / Editor: S.kom Fatchul Hijrih
Date Deposited: 13 Jul 2017 09:37
Last Modified: 13 Jul 2017 09:37
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/26347

Actions (login required)

View Item View Item