INTUISI MENURUT MOHAMMAD ABID AL-JABIRI

ZAYYIN ALFI JIHAD, NIM. 99512861 (2004) INTUISI MENURUT MOHAMMAD ABID AL-JABIRI. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (INTUISI MENURUT MOHAMMAD ABID AL-JABIRI)
BAB I,V, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (3MB) | Preview
[img] Text (INTUISI MENURUT MOHAMMAD ABID AL-JABIRI)
BAB II, II, IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (8MB)

Abstract

Pengetahuan adalah sesuatu yang penting bagi manusia. Karena dengan mengetahui manusia dapat berinteraksi dengan sesamanya. Pengetahuan juga menjadi suatu hal yang purba yang selalu dibahas oleh manusia. Masalah pengetahuan ini dibahas khusus dalam sebuah ilmu yang bernama Epistemologi. Dalam epistemologi dibahas mengenai sumber pengetahuan, proses mengetahui, keabsahan sebuah pengetahuan sampai manfaat dari pengetahuan tersebut. Dalam tradisi pemikiran dikenal dua alat yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan, yaitu akal dan indera. Alat yang pertama, akal selanjutnya memunculkan sebuah aliran yang disebut dengan rasionalisme. Sedangkan yang kedua yaitu indera memunculkan sebuah aliran pemikiran yang disebut dengan empirisisme. Dua alat pengetahuan tersebut berkembang secara pesat pada tradisi pemikiran Yunani, yang pada akhirnya juga mempengaruhi banyak para filosof Muslim. Pengaruh yang kuat dari pemikiran Yunani terhadap filsafat Islam mulai muncul ketika ada pergesekan antara pemikiran Neo-Platonisme dengan para pemikir Muslim. Pemikiran Islam pada masa awal perkembangan filsafat masih berupaya untuk menyandingkan posisi Iman dan akal, sebab pada waktu itu kebenaran yang hakiki yang dipegang oleh umat Islam adalah wahyu. Proses ini berangkat dari usaha menyelaraskan antara akal dan wahyu. Setelah itu munculah rasionalisme ekstrim yang mendewakan akal yang mengakibatkan munculnya beberapa filosof yang mengingkari kebenaran wahyu dan kenabian. Setelah pendewaan akal ini kemudian munculah sebuah pemikiran yang mengkritisi tradisi berpikir tersebut yang akhirnya memunculkan sebuah tradisi berpikir baru yang bersifat asketik dan zuhud yang dipelopori oleh Ghazali Pasca Ghazali inilah tradisi pemikiran Islam berubah dengan drastis, pada masa ini, orang benar-benar apatis terhadap pengetahuan filsafat, hingga kebanyakan dari mereka me~jalani kehidupan sebagai seorang sufi seperti yang diajarkan oleh Ghazali. Setelah Ghazali, ada seorang filosof yang mencoba matimatian untuk menghidupkan kembali alam pikiran filsafat pada umat Islam, beliau adalah Ibnu Rusyd. Ibnu Rusyd mencoba untuk menyatukan kesatuan illuminatif akal manusia dengan akal aktif Ilahi, sebagai upaya pengembalian tradisi berpikir filsafat akan tetapi tidak meninggalkan hal-hal yang transenden. Hal ini menjadi landasan berpikir terhadap munculnya pengetahuan intuitif dalam Islam. Pengetahuan intuitif ini mengalami puncaknya pada masa Suhrawardi dengan filsafat Illuminatifnya yang salah satunya memadukan konsep-konsep cahaya dari Ghazali sebagai variabel dalam proses pencapaian pengetahuan dan Mulla Shadra dengan Hikmah Muta'aliyyahnya yang telah sanggup memadukan antar wahyu, gnostis dan akal. Sedang al-Jabiri memandang intuisi masih sangat positivistik dan memandang intuisi hanya sebagai instrumen tambahan dalam pengetahuan. Permasalahan intuisi ini coba dipahami dengan menggunakan pendekatan filsafat ilmu, dan lebih difokuskan lagi pada permasalahan epistemologi. Karena itu penulis mencoba menggali keberadaan intuisi al-Jabiri yang termaktub dalam epistemologi 'irfaninya dan keunikan serta relevansinya sebagai sebuah sumber dalam pengetahuan dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Dalam akhir pembahasan, al-Jabiri memberikan pendapat bahwa intuisi hanya sebuah kreativitas akal yang paling rendah, juga merupakan filsafatisasi terhadap mitos-mitos. Padahal 'irrani Islam sangat berbeda dengan filsafat esoterik Barat. 'Irfani berhubungan erat dengan kebersihan jiwa dan hati dalam upaya menerima pengetahauan tertinggi. Pengalaman intuitif adalah pengalaman yang bersifat subjektif, sehingga dalam menerima pengetahuan tertinggi antar satu orang dengan yang lainya pasti berbeda, akan tetapi tetap diakui kebenarannya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Prof. Dr. H. Iskandar Zulkamain
Uncontrolled Keywords: Intuisi, Mohammad Abid Al-Jabiri
Subjects: Aqidah Filsafat
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta > Aqidah Filsafat
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Aqidah Filsafat (S1)
Depositing User / Editor: H. Zaenal Arifin, S.Sos.I., S.IPI.
Date Deposited: 04 Aug 2017 02:55
Last Modified: 04 Aug 2017 02:55
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/27210

Actions (login required)

View Item View Item