REINTERPRETASI AL-FURQAN MENURUT MUHAMMAD SYHRUR DALAM BUKU AL-KITAB WA AL-QUR'AN: QIRA'AH MU'ASIRAH

MUFRIKHAH FRIANA, NIM. 97532386 (2005) REINTERPRETASI AL-FURQAN MENURUT MUHAMMAD SYHRUR DALAM BUKU AL-KITAB WA AL-QUR'AN: QIRA'AH MU'ASIRAH. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (REINTERPRETASI AL-FURQAN MENURUT MUHAMMAD SYHRUR DALAM BUKU AL-KITAB WA AL-QUR'AN: QIRA'AH MU'ASIRAH)
BAB I, V, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (5MB) | Preview
[img] Text (REINTERPRETASI AL-FURQAN MENURUT MUHAMMAD SYHRUR DALAM BUKU AL-KITAB WA AL-QUR'AN: QIRA'AH MU'ASIRAH)
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (7MB)

Abstract

Buku al-Kitib wa al-Qur'an; Qira'ah Mu’asirah merupakan karya utama Muhmmad Syahrur yang paling banyak dikaji, diapresiasi sekaligus dikritik oleh banyak intelektual muslim belakangan ini. Buku ini menjadi kontraversial karena beberapa hal, pertama, adanya nuansa defamiliarization (penidakbiasaan) dalam metodologi yang digunakan Syahrur untuk membaca teks suci ( al-Kitab). Kedua, terdapat semangat anti “masa lalu" atau penolakan terhadap kaum ulama, muffasir dan fuqaha' klasik, yang dianggapanya menjadi "tiranik". Ketiga, kentalnya semangat pembongkaran dan pendefinisian ulang atas terma-terma baku dalam studi ulum al-Qur'an. Menurut Syahrur al-Qur'an memiliki dua mukjizat, sastrawi dan ilmiah. Untuk memahami kemukjizatan sastrawi al-Kitab, Syahrur menggunakan pendekatan deskriptif-signifikatif (integrasi antara disiplin ilmu nahwu dan balagah). Sedangkan untuk memaknai kemukjizatan ilmiah Syahrur memakai pendekatan historis ilmiah yang menuntut pentingnya anti sinonimitas dalam bahasa. Keduanya oleh Syahrur ditempatkan dalam bingkai analisia linguistik modern. Namun yang nampaknya lebih mendominasi dan tipikal dalam kajian Syahrur adalah asumsi dasar anti sinonimitas dalam bahasa, yang dengan asumsi dasar tersebut Syahrur melakukan redefinisi terma-terma kunci dalam studi ulum al-Qur'an seperti Nubuwwah, Risalah, Inzal- Tanzil, Muhkamat,Mutasyabihat, Iman, Islam, Qada ', qadar, dll, tidak dibiarkan memuat definisi yang selama ini dianggap lazim dan baku. Selain itu terma-terma yang selama ini diangap sinonim dengan terma al-Qur'an dalam pengertian konvensional seperti al-Kitab, al-Zikr, al-Furqan, juga di redefinisi dan bahkan kadang result dari redefinisi tersebut berseberangan dan kontras dengan pemahaman konvensional. Salah satu terma dari al-Kitab yang menjadi perhatian penelitian ini adalah alFurqan. yang menjadikan terma ini menarik adalah ketika Syahrur berkesimpulan bahwa al-Furqan adalah sepuluh perintah Tuhan (the ten commandement) yang sekaligus menjadi titik temu agama samawi. Dalam usaha untuk memahami pandangan Syahrur hingga pada kesimpulan diatas inilah, peneletian ini dilakukan. Untuk menelusuri lebih jauh reinterpretasi al-Furqon dalam pandangan Muhammad Syahrur berserta nilai-nilai yang dikandung dan relevansinya dengan konteks Titik Temu Agama, penulis menggunakan pendekatan DeskriptifInterpretatif. Dan setelah ditelusuri secara analitis dapat dideskripsikan bahwa Syahrur membagi al-Furqan menjadi dua bagian, 'Am dan Khas. Al-Furqan 'Am adalah sepuluh wasiat Tuhan yang diturunkan mulai nabi Nuh hingga Muhammad. Yang isinya, tauhid, berbuat baik kepada orang tua, jangan membunuh, jangan mendekati kekejian, jangan membunuh jiwa yang diharamkan kecuali dengan sebab yang benar, jangan mendekati harta anak yatim, berlaku adil, memenuhi janji Allah, dan mengikuti jalan yang lurus. Sedangkan al-Furqan Khas adalah wasiat Tuhan yang diturunkan hanya untuk nabi Muhammad saja. Untuk menyempurnakan agama, iman, dan amal saleh dan selaras dengan fitrah manusia. Nilai-nilai inilah yang oleh Syahrur kemudian dikatakan dapat menjadi wilayah bersama (al Qasim al-musytarak) sekaligus menjadi standar ketaqwaan sosial bagi ketiga agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam). Sebab nilai-nilai yang dikandung dalam al-Furqan baik 'Am maupun Khas senafas dengan nilai-nilai universal agama-agama dan selaras dengan fitrah manusia. Dalam konteks pencarian titik temu agama-agama, pemaknaan Syahrur tentang al-Furqan merupakan terobosan dan perluasan dari pemahaman umum bahwa titik temu agama samawi hanya pada wilayah Tauhid (monoteisme ), esoterisme, atau pada nilai-nilai kemanusiaan universal (humanisme) semata. Berbekal dari pemahaman dan pemaknaan Syahrur diatas, skripsi ini berusaha untuk menginterpretasi dan mendeskripsikan lebih jauh pandangan Syahrur tentang al-Furqan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Drs.H.Fauzan Naif M.A,
Uncontrolled Keywords: Reinterpretasi Al-Furqan, Muhammad Syhrur, Al-Kitab wa Al-Qur'an: Qira'ah Mu'asirah
Subjects: Tafsir Hadist
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Tafsir Hadist (S1)
Depositing User / Editor: H. Zaenal Arifin, S.Sos.I., S.IPI.
Date Deposited: 07 Aug 2017 08:19
Last Modified: 07 Aug 2017 08:19
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/27228

Actions (login required)

View Item View Item