NILAI-NILAI DAKWAH DALAM KESUSASTRAAN (ANALISIS NOVEL KE -3 KARYA AGUS SUNYOTO, SANG PEMBAHARU: PERJUANGAN DAN AJARAN SYEIKH SITI JENAR)

DIDIK NURYANTO NIM: 01210596/KPI/C, (2009) NILAI-NILAI DAKWAH DALAM KESUSASTRAAN (ANALISIS NOVEL KE -3 KARYA AGUS SUNYOTO, SANG PEMBAHARU: PERJUANGAN DAN AJARAN SYEIKH SITI JENAR). Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[img]
Preview
Text (NILAI-NILAI DAKWAH DALAM KESUSASTRAAN (ANALISIS NOVEL KE -3 KARYA AGUS SUNYOTO, SANG PEMBAHARU : PERJUANGAN DAN AJARAN SYEIKH SITI JENAR))
BAB I, V.pdf - Published Version

Download (335kB) | Preview
[img] Text (NILAI-NILAI DAKWAH DALAM KESUSASTRAAN (ANALISIS NOVEL KE -3 KARYA AGUS SUNYOTO, SANG PEMBAHARU : PERJUANGAN DAN AJARAN SYEIKH SITI JENAR))
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (170kB)

Abstract

Dakwah adalah bentuk perubahan ruh yang paling nyata. Dengan demikian sistem nilai dan ajaran yang dimiliki Islam pada dataran sosial tidak dapat menghindarkan diri dari kenyataan lain, yakni perubahan. Oleh karena terlepas dari kondisi apapun maka, tidak ada alasan bagi manusia untuk menyangkal terhadap kenyataan dan kemungkinan mengembangkan dakwah sebagai bagian penting dari gerakan agama. Tingkat kesadaran yang terbentuk dari dua wilayah tersebut akan menjadi entitas baru yang direspon oleh individu, komunitas dan institusi agama. Dengan kata lain dakwah bukan hanya sebagai pesan suci dan sebagai realitas yang dituntut memiliki nilai sensitif, tetapi sekaligus konsep yang ditawarkan kepada obyek menjadi bagian yang tak terpisahkan. Islam sesungguhnya sangat terbuka kepada kebudayaan, quot;Secara histories sosiologis salah satu prestasi menyolok dari Islam adalah kemampuannya menciptakan kohesi tauhid yang mudah dicerna, dan keterbukaan Islam untuk menerima symbol dan elemen cultural sebagai media ekspresi dan penyanggah pesan eksistensi Islam. Keberadaan dakwah dengan menggunakan media apapun perlu menempatkan bahasa sebagai bentuk dialektika yang mudah untuk dipahami (menarik) bagi masyarakat, seperti yang dilansir oleh Sunardi, dengan keras mengingatkan quot;jika bahasa diatur terlalu ketat maka agama akan mati secara perlahan-lahan quot;(when language is policised too tighly slowly dies). Harus dipahami bahwa penyampaian dakwah membutuhkan dialektika atau bahasa yang luwes dan fleksibel dengan dirinya sendiri. Kesusastraan, novel adalah bahasa yang membebaskan ikatan dari batasan yang bernama kalimat atau naratologi yang mengambil kalimat dari modelnya. Inilah yang mendorong penulis untuk mengkaji lebih jauh persoalan nilai-nilai dakwah yang dirangkai melalui serial novel karya Agus Sunyoto pada buku ketiga, Sang Pembaharu : Perjuangan dan Ajaran Syeikh Siti Jenar. Menurut asumsi penulis, kemampuan Agus Sunyoto dalam novelnya telah menciptakan esensi tauhid yang mudah dicermati melalui dialektika. Dan pada dataran inilah dakwah menemukan ruang aksiologisnya, melalui gaya bahasa memberikan pemahaman yang menyangkut nilai cipta, rasa dan karsa. Sebab nilainilai dakwah dalam dialektika kesusastraan pada tingkat tertentu dapat menjelma sebagai pengembara dalam ruang metafisis, menjadi wakil budaya untuk mendampingi dan menuntun jiwa manusia menuju keindahan keilahiyah.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing : Drs. HM. Wasjim Bilal
Uncontrolled Keywords: Nilai-nilai dakwah, kesusastraan, Saang pembaharu.
Subjects: Komunikasi Islam
Divisions: Fakultas Dakwah dan Komunikasi > Komunikasi Penyiaran Islam (S1)
Depositing User / Editor: Miftakhul Yazid Fuadi, SIP.
Date Deposited: 03 Sep 2012 16:00
Last Modified: 27 Dec 2016 04:01
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/2756

Actions (login required)

View Item View Item