AL-SYIIR AL JAHILIWA WADHIFATUHU FI TAMTSIL AL-MUJTAMI' AL-ARAB AL-JAHILI 'INDA TOHA HUSEIN (DIRASAH ATSRIYAH KHITHABIYAH)

ABDUL MUIZ - NIM. 02110972 , (2009) AL-SYIIR AL JAHILIWA WADHIFATUHU FI TAMTSIL AL-MUJTAMI' AL-ARAB AL-JAHILI 'INDA TOHA HUSEIN (DIRASAH ATSRIYAH KHITHABIYAH). Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Arab pra-Islam. Sastra Arab pra-Islam terutama puisi (syi’ir jahili) banyak digunakan para ulama sebagai argumentasi penafsiran al-Qur'an. Menurut Thaha Husein, masyarakat Arab pra-Islam memiliki potret berbeda antara dalam syi'ir jahili dan dalam al-Qur'an. Dalam syi'ir jahili, masyarakat Arab pra-Islam digambarkan bodoh dan kasar, terisolasi di padang sahara, tidak mengenal konflik antara yang kaya dan yang miskin, dan tidak terlalu peduli pada harta. Sedangkan dalam al-Qur’an, masyarakat Arab pra-Islam digambarkan sebagai masyarakat yang awam dan tercerahkan, mengenal konflik dengan bangsa di sekitarnya antara yang kaya dan yang miskin baik dalam bidang ekonomi maupun politik, dan peduli terhadap harta (bakhil dan tamak). Melihat kedudukan sastra Arab pra-Islam, yakni syi’ir jahili yang sedemikian penting –tidak saja bagi masyarakat saat itu yang menganggapnya sebagai diwan/dokumennya, tetapi juga bagi masyarakat muslim belakangan–, maka gugatan terhadap orisinalitas dan otentisitas syi'ir jahili Thaha Husein secara otomatis akan menggugat pemahaman dan keyakinan hasil argumentasi yang didasarkan padanya. Konsekuensi gugatan ini dapat meruntuhkan dasar keyakinan yang selama ini dipupuk dan ditumbuhsuburkan melalui sumbersumber bacaan keagamaan yang sarat dengan syi'ir jahili tersebut. Dari permasalahan diatas, penulis memfokuskan kajian terhadap syi'ir jahili dan fungsinya dalam menggambarkan masyarakat Arab pra-Islam menurut Thaha Husein. Sedangkan metodologi yang dipakai adalah studi arkeologi wacana Michel Foucault, sehingga dapat dirumuskan tiga permasalahan pokok sebagai berikut : Pertama, bagaimana cara berpikir dan orientasi ideologi Thaha Husein? Kedua, apakah kepentingan yang mendasari praktek pemikiran Thaha Husein tersebut?; Ketiga, bagaimana syi’ir jahili dan fungsinya dalam menggambarkan masyarakat Arab pra-Islam menurut Thaha Husein?. Kesimpulan yang diperoleh yaitu : Pertama, Thaha Husein menggunakan metode skeptis untuk meneliti produk-produk pemikiran, sedangkan untuk meneliti tokoh-tokoh pemikir Thaha Husein menggunakan metodolgi determinisme historis; Kedua, ketika Thaha Husein menggunakan metode skeptis ada sesuatu yang hambar, karena metode skeptis hanya mengacu pada sasaran 'yang tampak' saja, yaitu untuk menolak taqlid terhadap ulama pendahulu. Sementara 'yang tak tampak' yaitu penyerangan terhadap ulama atau para mufassir bi al-ma'tsur, di mana dalam menafsirkan al-Qur'an banyak memasukkan riwayat dari tabi'in termasuk syi'ir jahili; Ketiga, Thaha Husein tidak memposisikan atau memfungsikan syi’ir jahili sebagai salah satu rujukan dalam memahami makna kosa kata tertentu yang terdapat dalam Al-Qur’an untuk memahami kehidupan masyarakat Arab pra-Islam. Sementara itu, Thaha Husein juga tidak memberikan solusi tentang bagaimana cara menafsirkan atau mendapatkan kebenaran dalam al-Qur'an.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: PEMBIMBING: DRS. BACHRUM BUNYAMIN, MA
Uncontrolled Keywords: Arab pra-Islam, syi’ir jahili, metodolgi determinisme historis, metode skeptis
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:43
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/2763

Actions (login required)

View Item View Item