SIMBOLISME DEWI KWAN IM DALAM WUJUD TRIBUANA TUNGGADEWI (STUDI ATAS PANDANGAN KOMUNITAS VIHARA AVALOKITESVARA PAMEKASAN)

AMIRUL AUZAR CH, NIM. 12520041 (2017) SIMBOLISME DEWI KWAN IM DALAM WUJUD TRIBUANA TUNGGADEWI (STUDI ATAS PANDANGAN KOMUNITAS VIHARA AVALOKITESVARA PAMEKASAN). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (SIMBOLISME DEWI KWAN IM DALAM WUJUD TRIBUANA TUNGGADEWI (STUDI ATAS PANDANGAN KOMUNITAS VIHARA AVALOKITESVARA PAMEKASAN))
12520041_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (6MB) | Preview
[img] Text (SIMBOLISME DEWI KWAN IM DALAM WUJUD TRIBUANA TUNGGADEWI (STUDI ATAS PANDANGAN KOMUNITAS VIHARA AVALOKITESVARA PAMEKASAN))
12520041_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (4MB)

Abstract

Penelitian ini membahas Simbol Boddhisatva Dewi Kwan Im dalam wujud Tribuana Tunggadewi. Fokus penelitian yang akan ditulis dilatarbelakangi oleh fenomena Boddhisatva aliran Mahayana yang seharusnya Dewi Kwan Im ternyata patung yang berada di Vihara Avalokitesvara adalah Tribuana Tunggadewi. Patung tersebut merupakan patung dharmasala Ratu Majapahit ketiga yang notabene merupakan patung Dewi Parwati dalam kepercayaan Hindu. Menariknya lagi, komunitas Vihara Avalokitesvara menganggap patung tersebut mempunyai kekuatan spiritual, sehingga banyak yang beragama non-Buddha juga ikut mempercayai kesakralan dan berdoa di Vihara Avalokitesvara Pamekasan. Ada dua masalah yang dikaji dalam penelitian ini. Pertama, terkait dengan diposisikannya Tribuanan Tunggadewi sebagai Kwan Im. Kedua, proses transformasi Tribuanan Tunggadewi ke Kwan Im. Penelitian ini akan ditelaah dengan menggunakan teori sakral dan profan yang dikembangkan oleh Mircea Eliade. Menurutnya yang profan dapat menjadi sakral apabila mendapat pancaran atau sentuhan dari yang sakral. Rencana tersebut bisa diwujudkan apabila di tempattempat yang dijadikan pilihan memiliki “hierophany” yang berarti penampakan yang sakral, pernah dikunjungi yang sakral, bisa berbentuk dewa ataupun roh nenek moyang. Sebagai sebuah cara untuk mendapatkan hasil penelitian yang mendalam dan sistematis, maka penelitian ini menggunakan sebuah metode penelitian deskriptif-analitik. Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan historiantropologis. Penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yakni menggunakan metode interview, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini yang didapatkan dari lapangan menunujukkan bahwa: 1. Komunitas Vihara Avalokitesvara memposisikan Tribuanan Tunggadewi sebagai Kwan Im pada mulanya disebabkan Tribuana Tunggadewi dianggap mewakili sifat feminis Kwan Im yang Maha Welas Asih. 2. Karena masyarakat Madura pada umumnya masih memegang nilai-nilai/kepercayaan kesakralan terhadap leluhur yang berpengaruh bagi masyarakat Madura, maka hal tersebut yang menyebabkan transformasi boddhisatva Kwan Im ke Tribuana Tunggadewi sebagai pusat kesakralan. Yang dimaksud komunitas Vihara menurut peneliti dikategorikan kepada seorang yang percaya terhadap kesakralan patung tersebut.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Ahmad Salehudin, S.Th.I., M.A.
Uncontrolled Keywords: Kesakralan, Patung Tribuana Tunggadewi, komunitas Vihara Avalokitesvara
Subjects: Studi Agama Agama
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Studi Agama Agama (S1)
Depositing User / Editor: H. Zaenal Arifin, S.Sos.I., S.IPI.
Date Deposited: 08 Jan 2018 07:04
Last Modified: 08 Jan 2018 07:04
URI: https://digilib.uin-suka.ac.id:80/id/eprint/28914

Actions (login required)

View Item View Item