POLITIK ISLAM MODERN DALAM PEMIKIRAN K.H. ABDURRAHMAN WAHID

M ARIF KURNIAWAN, NIM. 11370079 (2017) POLITIK ISLAM MODERN DALAM PEMIKIRAN K.H. ABDURRAHMAN WAHID. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (POLITIK ISLAM MODERN DALAM PEMIKIRAN K.H. ABDURRAHMAN WAHID)
11370079_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (8MB) | Preview
[img] Text (POLITIK ISLAM MODERN DALAM PEMIKIRAN K.H. ABDURRAHMAN WAHID)
11370079_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (5MB)

Abstract

Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid) menyatakan bahwa munculnya gagasan politik Islam atau Islam sebagai dasar politik karena bentuk kecenderungan apologetik, yaitu bentuk pemikiran untuk mempertahankan suatu paham atau ajaran. Apologi ini tumbuh dari dua jalur. Pertama, apologi karena idiologi Barat, seperti demokrasi, sosialisme, dan lainya. Kedua, karena legalisme yaitu apresiasi serba legalistis kepada Islam. Dalam persepsi legalistis , Islam itu dipandang semata-mata Islam itu sebagai struktur dan kumpulan hukum. Kecenderungan ini bagi Gus Dur harus berdasarkan atau berakar pada fiqhisme. Dengan demikian, secara prinsipil konsep politik Islam modern, menurut pandangan dan keyakinan Gus Dur, adalah suatu distorsi hubungan proporsional antara politik dan agama. Politik adalah salah satu kehidupan bernegara termasuk kekhidupan duniawi, yang dimensinya rasional dan kolektif. Sedangkan agama, adalah aspek kehidupan lain, yang dimensinya pribadi dan spiritual. Gagasan politik Gus Dur di atas, selain mengadopsi khazanah Islam klasik, juga dari pemikiran kontemporer Barat. Keduanya direalisasikan secara dialogis guna menjawab kegelisahan dan problematika politik yang ada dalam negara-bangsa Indonesia. Bagaimana pandangan Gus Dur tentang gagasan politik Islam modern? Bagaimana relevansinya dengan konsep dasar Negara Republik Indonesia? Sejauh mana pengaruh Gus Dur dalam kontestasi politik Indonesia? Mengingat Gus Dur sendiri menguasai pemikiran Islam pada era teosentrisma dan Barat di era antroposentrisma.Metodologi yang digunakan untuk menganalisis permasalahan diatas, adalah CDA (Crirtical Discourse Analysis). Metode ini berbeda dengan metode yang lainnya sebagaimana analisis wacana atau analisis framing. Metode CDA ini mempunyai kelebihan dalam melakukan multitrack yakni, micro dan macro pemikiran Gus Dur. Sehingga tidak hanya memberikan arti suatu teks semata, akan tetapi mampu mendeskripsikan kontektualitas teks itu terhadap solusi sosiologisnya yang pada giliranya pada tahap makro mengkritisi temuan-temuan data atau melakukan kritik atas sebuah teks itu sendiri. Dari penjelasan diatas, akhirnya dapat disimpulkan sejumlah temuan atas pemikiran politik modern dalam pemikiran Gus Dur. Politik Islam modern menurut Gus Dur tidak dimaksudkan sebagai penerapan politik dan mengubah kaum muslimin menjadi politikus. Namun dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk meng-ukhrawi-kannya. Dalam kaitanya bernegara mengedepankan demokrasi tanpa meningalkan nilai agama. Bahwa orientasi pemikiran politik Gus Dur adalah aspek keadilan sosial tanpa keluar dari garis kemanusiaan. Artinya ia menerima finalitas Pancasila dan keharusan demokrasi semata-mata untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan demikian, kesediaan mental untuk selalu menguji kembali kebenaran suatu nilai dihadapan kenyataankenyatan material, moral ataupun historis menjadi sifat kaum muslimin.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Dr. Subaidi, S.Ag., M.Si
Uncontrolled Keywords: Gus Dur, CDA (Crirtical Discourse Analysis), Politik Islam Modern.
Subjects: Politik Islam
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Siyasah (S1)
Depositing User / Editor: H. Zaenal Arifin, S.Sos.I., S.IPI.
Date Deposited: 13 Feb 2018 08:50
Last Modified: 13 Feb 2018 08:50
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/29440

Actions (login required)

View Item View Item