KEWAJIBAN HAJI BAGI ORANG YANG MENINGGAL (STUDI KOMPARATIF ANTARA IMAM ABU HANIFAH DAN IMAM ASY-SYAFI'

SANG AJl, NIM: 9936 3509 (2004) KEWAJIBAN HAJI BAGI ORANG YANG MENINGGAL (STUDI KOMPARATIF ANTARA IMAM ABU HANIFAH DAN IMAM ASY-SYAFI'. Skripsi thesis, UIN SUNAN KAIJAGA.

[img]
Preview
Text (KEWAJIBAN HAJI BAGI ORANG YANG MENINGGAL (STUDI KOMPARATIF ANTARA IMAM ABU HANIFAH DAN IMAM ASY-SYAFI'I))
BAB I, V, DP.pdf - Published Version

Download (6MB) | Preview
[img] Text (KEWAJIBAN HAJI BAGI ORANG YANG MENINGGAL (STUDI KOMPARATIF ANTARA IMAM ABU HANIFAH DAN IMAM ASY-SYAFI')
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (8MB)

Abstract

Beragama adalah pengikatan diri kepada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan terhadap suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia atau sistim tingkah laku yang berasal dari ajaran yang diwahyukan tuhan kepada manusia melalui seorang rasul. Seseorang dikatakan beragama maka sebutan itu dapat bermakna banyak. Keanggotaan pada organisasi agama, keyakinan terhadap doktrin-doktrin agama, etika hidup menjalankan peribadatan, pandangan dan tindakan adalah kondisiĀ­ kondisi yang kesemuanya itu dapat menunjukan pada motivasi, ketaatan dan komitmen pada agama. Agama menurut mereka adalah sistim simbol, sistim keyakinan, sistim nilai, dan sistim prilaku yang terlembagakan yang semuanya itu terpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai paling bermakna (" ultimate meaninob-). J adi keberag._.amaan divvUJ; udkan dalam berbag._.aj dimensi kehidupan, yaitu ideological involvement, ritual involvement. intelectual involvement, experiential involvement, dan consequential involvement. Salah satunya, dalam ritual involvement, mencakup perilaku ibadah, pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukan komitmen terhadap agama yang dianutnya, misalnya melakukan haji. Haji merupakan kewajiban yang dibebankan kepada setiap orang muslim yang sudah memenuhi persyaratan wajib haji. Dan di antara syarat-syarat tersebut adalah istita 'a/z (kemampuan mengadakan peijalanan) menuju ke Makkah. Pembahasan dalam skripsi ini difokuskan pada permasalahan tentang kewajiban haji bagi orang yang meninggal dengan perbandingan antara pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam asy-Syafi'i dalam menjawab persoalan tersebut, disertai dengan argumen-argumen yang mendasari pendapat kedua Imam tersebut, serta mencari relevansinya sesuai dengan keadaan yang ada dalam masyarakat kita. Agar penyusunan skripsi ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dibutuhkan sebuah metode untuk sampai pada tujuan yang dimaksud. Pembahasan skripsi ini akan menggunakan penelitian pustaka (Uhmrv Research) yang bersifat deskriptif-analisis-komparatif dengan menggunakan pendekata usul fiqh. Untuk menganalisisnya digunakan metode berfikir deduktif dengan mengambil kesimpulan dari berbagai pendapat dan kemudian membandingkannya dengan pendapat yang lain. lmam Abu Hanifah berpendapat bahwa kewajiban haji seseorang akan gugur dengan meninggalnya orang itu. Beliau beralasan bahvva haji merupakan ibadah yang lebih banyak rnenggunakan fisik dengan bertujuan pergi ke hai!ullo.lz untuk mengagungkan kebesaran Allah svvt. Sehingga apabila seseorang meninggal, maka dia tidak mampu secara fisik untuk melaksanakan haji dengan badanya sendiri. Sedangkan Imam asy-Syafi'i berpendapat bah\va kewajiban haji tidakiah gugur dengan meninggalnya seseorang, karena dia masih mampu untuk mernenuhi kewajibannya dengan perantara orang lain, baik itu dengan

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: 1. AGUS MOB. NAJm, S.Ag, M.Ag 2. FATMA AMILIA, S.Ag, M.Si
Uncontrolled Keywords: Haji, orang meninggal
Subjects: Perbandingan Madzhab
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Perbandingan Madzab (S1)
Depositing User / Editor: Drs. Bambang Heru Nurwoto
Date Deposited: 24 Sep 2018 07:08
Last Modified: 24 Sep 2018 07:08
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/30930

Actions (login required)

View Item View Item