DIMENSI KEKUASAAN DALAM PENAFSIRAN AYAT-AYAT KEPEMIMPINAN MENURUT MUQATIL BIN SULAIMAN

AHMAD TSAURI, NIM. 1420511016 (2018) DIMENSI KEKUASAAN DALAM PENAFSIRAN AYAT-AYAT KEPEMIMPINAN MENURUT MUQATIL BIN SULAIMAN. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKA.

[img]
Preview
Text (DIMENSI KEKUASAAN DALAM PENAFSIRAN AYAT-AYAT KEPEMIMPINAN MENURUT MUQATIL BIN SULAIMAN)
FILE 1_BAG DEPAN, BAB I, BAB IV, DAFTAR PUSTAKA,LAMPIRAN.pdf - Published Version

Download (6MB) | Preview
[img] Text (DIMENSI KEKUASAAN DALAM PENAFSIRAN AYAT-AYAT KEPEMIMPINAN MENURUT MUQATIL BIN SULAIMAN)
FILE 2_ BAB II, BAB III.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (5MB)

Abstract

Objek pertama al-Quran adalah bangsa Arab, audiens pertamanya adalah para sahabat Nabi saw dan penduduk Mekah, Madinah dan masyarakat jazirah para umumnya. Umat Islam generasi awal inilah yang paling memahami maksud- maksud al-Quran. Cendikiawan Islam kontemporer agaknya sepakat, kapasitas para sahabat berbeda-beda antara satu dengan yang lain dalam penguasaannya terhadap tafsir al-Quran. Dari banyak sahabat, ada tiga ahli tafsir yang popular dan membuka kelas-kelas di Mekah, Madinah dan Kufah, mereka adalah Abdullah bin Abbās, Abdullah bin Mas’ud dan Ubay bin Ka’ab. Melalui tiga madrasah inilah, -tanpa menafikan kelas-kelas tafsir lain, lahir para mufassir besar al-Quran seperti Aṭa bin Abi Rabāh, Dahak bin Muzahim, Nafi Maulā ibn Umar, al-Zubair bin Syihāb al-Zuhri, Muhammad bin Sirīn, Ibn Abī Malīkah, Syahr bin Husyab, Ikrīmah, Aṭiyah al-Kūfi, Abū Ishāq al-Sya’bi, Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali, Qatādah, al-A’masy (Sulaiman bin Mahran al-A’masy) dll, dari mereka ini Muqatil bin Sulaiman mengambil penafsiran al-Quran. Situasi politik, sosial dan keagamaan umat Islam pasca wafat Nabi Muhammad saw sangat dinamis. Perkembangan teologi munculnya madzhab kalam, fisafat, madzhab-madzhab fikih, aliran teologis dan kontestasi politik berpengaruh terhadap perkembagan ilmu-ilmu keislaman termasuk dalam bidang Tafsir. terkadang pemikiran-pemikiran itu tampak menjadi penggerak terjadinya berbagai kejadian dan terkadang menjadi pendorong atau rahim yang melahirkan pendapat-pendapat itu. Karena ada hubungan antara dua segi ini, segi teoretis dan realistis, jelaslah masing-masing tidak dapat dipahami tanpa keberadaan yang lain. Oleh sebab itu, penulis menganggap penting menelaah Tafsir Muqatil bin Sulaiman untuk melihat tafsir al-Quran yang ditulis saat terjadinya dinamika luar biasa diantara umat Islam, yang berpengaruh bukan saja pada wajah sejarah umat Islam, tetapi berbagai bidang keilmuan Islam. Dalam penelitian ini penulis mengambil rumusan masalah; bagaimana pemikiran Muqatil bin Sulaiman tentang kekuasaan dalam tafsinya? Bagaimana Muqatil bin Sulaiman memposisikan diri dalam situasi sosial politik yang ia alami dan implikasi terhadap tafsirnya? Adapun metode dan pendekatnnya menggunakan hermeneutika J.E Gracia dengan fungsi pertama interpretasi yaitu historical function. Hasil dari penelitian ini, menyimpulkan bahwa tafsir ayat kepemimpinan atau kekuasaan dalam Tafsir Muqatil bin Sulaiman bersifat etis bukan normatif jurisprudensi. Kehidupan Muqatil bin Sulaiman pada era transisi kekuasaan Bani Umayyah ke Abbāsiyah mendorongnya untuk bersikap netral dan akomodatif. Sikap ini membuat Muqatil diterima dengan baik oleh dua penguasa yang saling menjatuhkan yaitu Umayyah dan Abbāsiyah.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Ahmad Rafiq, MA., Ph.D
Uncontrolled Keywords: dimensi kekuasaan, Miqotil Bin Sulaiman
Subjects: Agama Dan Filsafat
Divisions: Pascasarjana > Thesis > Agama dan Filsafat
Depositing User / Editor: Drs. Bambang Heru Nurwoto
Date Deposited: 11 Dec 2018 01:57
Last Modified: 11 Dec 2018 01:57
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/31955

Actions (login required)

View Item View Item