ANALISIS TERHADAP PENDAPAT MAZHAB SUNNI TENTANG AHLI WARIS ZAWI AL-ARHAM DAN HAK-HAK KEWARISANNYA

HERY FITRIANTO NIM: 04350032, (2009) ANALISIS TERHADAP PENDAPAT MAZHAB SUNNI TENTANG AHLI WARIS ZAWI AL-ARHAM DAN HAK-HAK KEWARISANNYA. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[img]
Preview
Text (ANALISIS TERHADAP PENDAPAT MAZHAB SUNNI TENTANG AHLI WARIS śAWI AL-ARHAM DAN HAK-HAK KEWARISANNYA)
BAB I,V.pdf - Published Version

Download (1MB) | Preview
[img] Text (ANALISIS TERHADAP PENDAPAT MAZHAB SUNNI TENTANG AHLI WARIS śAWI AL-ARHAM DAN HAK-HAK KEWARISANNYA)
BAB II,III,IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (399kB)

Abstract

Pada dasarnya dalam pandangan ulama fiqh sunni yang masih bercorak patrilenial masih mengakar pada konsep hukum kewarisan saat ini, sehingga muncul pembagian dalam kewarisan Islam dua berbanding satu yaitu untuk lakilaki dua dan perempuan mendapat satu bagian. Dalam hal ini juga, kemudian muncul permasalahan baru tentang pembagian ahli waris khususnya ahli waris zawi al-arham, yang notabene zawi al-arham merupakan ahli waris dari keturunan kerabat perempuan. Dalam pandangan fuqaha' sunni, konsep zawi al arham dianggap sebagai sebuah penyimpangan yang dilakukan oleh al-Qur'an terhadap tradisi kewarisan tribal Arab yang sama sekali tidak memberikan bagian bagi perempuan dan kerabatnya. Sehingga dalam varian hukumnya, fuqaha' sunni menempatkan zawi al-arham sebagai ahli waris di luar pokok keutamaan. Dalam hal ini kedudukan zawi al-arham sangat lemah, mereka berhak atas waris bila kelompok amp;#348;awi al-fur amp;#363;d dan 'asabah tidak ada. Kedudukannya ini berpadanan dengan fungsi sosial mereka yang juga sangat kecil, terbatas pada fungsi pengasuhan baik mereka laki-laki atau perempuan. Sehingga kualifikasi kelompok ahli waris zawi al-arham dalam teori hukum sunni lebih merupakantafsir kultural atas makna bapak, ibu, dan anak yang didasarkan pada prinsip keturunan patrilenial yang berlaku luas terutama masyarakat tribal sebagai suatu cara sistematis untuk mengorganisasikan berbagai fungsi sosial anggota kekerabatan untuk menjaga keberlangsungannya. Dalam penelitian ini pandangan para ulama sunni berbeda pendapat tentang keberhakan zawi al-arham dalam menerima hak waris. Pendapat pertama mengemukakan bahwa zawi al-arham tidak berhak mewarisi. Pendapat kedua mengemukakan bahwa zawi al-arham berhak mendapat harta pusaka dari pewaris. Dari perbedaan pendapat ini kemudian muncul kegelisan atau permasalahan baru bagi penulis bahwasannya konsep keadilan dan kemaslahatan tidak tercerminkan dalam ahli waris zawi alarham. Adapun metode pendekatan yang penyusun gunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah pendekatan normatif yaitu didekati dengan norma-norma yang ada dan dianalisa kemudian ditarik sebuah kesimpulan. Setelah melakukan penelitian dan menganalisis data yang ada, dari hasil penelitian tersebut penulis menggaris bawahi bahwasannya ahli waris zawi alarham lebih berhak mendapatkan harta pusaka daripada harta pusaka diberikan kepada Bait al-Mal, karena konsep kerabat dan penalaran nass yang kemudian dijadikan landasan bahwasannya zawi al-arham mempunyai dua posisi dibandingkan dengan Bait al-Mal. Zawi al-arham dalam posisinya tidak hanyasebatas hubungan agama atau sesama umat muslim saja melainkan juga kerabat dan keturunan baik dari kerabat yang jauh ataupun dekat, sedangkan Bait al-Mal dalam posisinya hanya sebatas hubungan agama atau sesama umat muslim saja.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Cth. Pembimbing : Drs. Supriatna, M.Si, Dr. A. Bunyan Wahib, MA
Uncontrolled Keywords: mahzab sunni, ahli waris zawi al arham
Subjects: Perdata Islam
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Al-Ahwal Asy-Syakhsiyyah (S1)
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Date Deposited: 08 Aug 2012 10:20
Last Modified: 31 Mar 2016 03:39
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/3279

Actions (login required)

View Item View Item