KEBEBASAN ESTETIS MENURUT SEYYED HOSEIN NASR

Abdul Aziz Faradi 03511275, (2010) KEBEBASAN ESTETIS MENURUT SEYYED HOSEIN NASR. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[img]
Preview
Text (KEBEBASAN ESTETIS MENURUT SEYYED HOSEIN NASR)
BAB I,V.pdf - Published Version

Download (816kB) | Preview
[img] Text (KEBEBASAN ESTETIS MENURUT SEYYED HOSEIN NASR)
BAB II,III,IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (323kB)

Abstract

Kebebasan etis dan estetis seringkali dipandang dalam hubungan pola diametral. Oposisi biner antara kebebasan etis yang diatur oleh aturan-aturan normatif dan kebebasan estetis yang cenderung eksplosif seringkali dipersoalkan terutama ketika seni dikaitkan dengan nilai-nilai agama. Dalam Islam, Seyyed Hossein Nasr adalah salah satu tokoh yang concern terhadap bahasan estetika. Nasr memformulasikan seni dalam Islam sebagai seni yang berkaitan dengan dimensi spiritual dan nilai-nilai Ilahiyah. Salah satu kritik yang sering dilontarkan terhadap estetika Nasr yang berhubungan dengan nilai spiritualitas adalah keterikatan bentuk seni dan hilangnya kebebasan seni ketika dikaitkan dengan nilai-nilai dalam agama. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimanakah konsep estetika dan kebebasan estetis menurut Nasr. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis hermeneutis. Kajian pustaka terhadap tulisan tulisan maupun aspek latar belakang biografis Nasr dilakukan untuk menemukan the hidden message berupa rumusan Nasr tentang estetika Islam dan kebebasan estetis itu sendiri. Analisis terhadap riwayat hidup dan latar belakang sosial politik Nasr menjelaskan mengapa Nasr sangat menekankan spiritualitas dalam bangunan filsafatnya (termasuk estetika Islam) dan menolak modernisme. Nasr yang pernah mendapatkan pendidikan ala Barat mengalami kekecewaan terhadap paradigma Barat yang mengabaikan dimensi spiritual manusia dan kemudian menuangkan kekecewaannya tersebut dalam bentuk tulisan yang syarat dengan kritik terhadap model paradigma Barat tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, konsep estetika Nasr menekankan seni Islam sebagai seni yang bermuatan spiritualitas. Kedua, Nasr (seperti halnya beberapa tokoh muslim lainnya seperti Iqbal dan al-Faruqi) berdiri di pihak para fungsionalis. Kebebasan estetis menurut Nasr bukanlah kebebasan tanpa batas, seperti yang didengungkan oleh para anti-fungsionalis. Seni bukanlah untuk seni semata, selayaknya jargon art for art diganti dengan art for spirituality. Tema kebebasan dalam seni ketika dibenturkan dengan aturanaturan normatif (termasuk nilai dalam agama, etika maupun negara) kemudian melahirkan dua kelompok dalam seni, fungsionalisme dan anti-fungsionalisme. Para fungsionalis menginginkan seni memiliki fungsi-fungsi tertentu sementara anti-fungsionalisme menekankan kebebasan total bagi seni dengan meneriakkan jargon seni untuk seni (l'rt pour l'art). Kedua kelompok ini muncul dari perbedaan sudut pandang dalam memaknai dan memahami agama (Tuhan). Penganut anti-fungsionalisme melihat agama sebagai sebuah sistem berupa aturan yang berpotensi mengekang kebebasan kreatif dalam seni. Sedangkan para fungsionalis menerima agama (Tuhan) sebagai proyeksi kebebasan manusia itu sendiri.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing : Dr. Alim Roswantoro,M. Ag.
Uncontrolled Keywords: Estetis; Seyyed Hosein Nasr
Subjects: Aqidah Filsafat
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta > Aqidah Filsafat
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Aqidah Filsafat (S1)
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Date Deposited: 08 Aug 2012 13:27
Last Modified: 04 Aug 2016 03:29
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/3294

Actions (login required)

View Item View Item