HUKUM AHLULBAIT NABI MUHAMMAD SAW MENERIMA ZAKAT (STUDI KOMPARATIF ATAS PEMIKIRAN IBNU AL-‘UṠAIMĪN DAN YŪSUF ALQARAḌĀWI)

DARUL FAIZIN, NIM. 14360021 (2018) HUKUM AHLULBAIT NABI MUHAMMAD SAW MENERIMA ZAKAT (STUDI KOMPARATIF ATAS PEMIKIRAN IBNU AL-‘UṠAIMĪN DAN YŪSUF ALQARAḌĀWI). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (HUKUM AHLULBAIT NABI MUHAMMAD SAW MENERIMA ZAKAT (STUDI KOMPARATIF ATAS PEMIKIRAN IBNU AL-‘UṠAIMĪN DAN YŪSUF ALQARAḌĀWI))
14360021_BAB I_TERAKHIR_DAFTAR_PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (11MB) | Preview
[img] Text (HUKUM AHLULBAIT NABI MUHAMMAD SAW MENERIMA ZAKAT (STUDI KOMPARATIF ATAS PEMIKIRAN IBNU AL-‘UṠAIMĪN DAN YŪSUF ALQARAḌĀWI))
14360021_BAB II_S.D._SEBELUM_BAB_TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (10MB)

Abstract

Dalam distribusi zakat ada beberapa golongan yang haram menerima zakat, salah satunya adalah ahlulbait Nabi SAW, baik dari Bani Hāsyim maupun Bani Muṭṭalib. Ahlulbait Nabi SAW haram menerima zakat karena mereka telah mendapatkan bagiannya dari ganimah, fay’ atau baitulmal. Akan tetapi di zaman sekarang yang sudah tidak ada lagi ganimah, fay’ atau jarang sekali dana baitulmal akibatnya para ahlulbait yang hidup kekurangan tidak dapat menerima tunjangan yang oleh syari’at telah ditetapkan sebagai hak mereka. Masalah ahlulbait Nabi SAW menerima zakat masih menjadi perdebatan di kalangan ulama, tanpa terkecuali oleh Ibnu al-‘Uṡaimīn dan Yūsuf al-Qaraḍāwi. Di antara para ulama ada yang mengharamkan zakat kepada ahlulbait dan keturunannya, ada juga yang membolehkannya sepeninggal Rasulullah SAW, sebab larangan ahlulbait menerima zakat hanya semasa hidup Rasulullah SAW. Dalam penelitian ini masalah yang ditemukan adalah bagaimana hukum ahlulbait Nabi SAW menerima zakat menurut pemikiran Ibnu al-‘Uṡaimīn dan Yūsuf al-Qaraḍāwi serta persamaan dan perbedaan dari pandangan kedua tokoh tersebut? Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research), dan bersifat deskriptif-analitik-komparatif, yaitu penelitian yang berusaha memaparkan, kemudian menganalisa dan mengkomparasikannya. Dalam pembahasan skripsi ini penyusun menggunakan pendekatan normatif. Sesuai dengan objek penelitiannya maka teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah penelaahan terhadapat literatur fikih dan literatur lainnya yang terkait dengan masalah yang diteliti. Kemudian data tersebut diolah, yang selanjutkan dijadikan bahan utama untuk memenuhi target penelitian yang hendak dicapai. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam menetapkan hukum zakat kepada ahlulbait Nabi Muhammad SAW, kedua tokoh tersebut sama-sama menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukum utama, serta menetapkan ‘illah hukumnya. Sedangkan perbedaannya; Ibnu al-‘Uṡaimīn memberlakukan hadis larangan ahlulbait menerima zakat dan memberlakukan istihsān, yaitu memalingkan hukum asal kepada hukum yang baru karena ada kaidah fikih yang membolehkannya. Menurut Ibnu al-‘Uṡaimīn alasan ahlulbait haram menerima zakat karena zakat merupakan kotoran manusia, dan keharaman tersebut berlaku untuk Bani Hāsyim dan Bani Muṭṭalib serta keturunannya. Sedangkan metode ijtihad yang digunakan oleh Yūsuf al-Qaraḍāwi adalah ijtihad tarjīh atau intiqā’i. Dalam hal ini dia mentarjih pendapat Abu Hanifah bahwa larangan ahlulbait menerima zakat hanya berlaku semasa hidup Rasulullah SAW, karena larangan tersebut untuk menghindari tuduhan, fitnah orang kafir dan untuk mendidik keluarganya dari sifat tamak harta. Maka larangan tersebut hanya tertuju pada kerabat dekatnya tidak untuk keturunannya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Dr. Ali Sodiqin, M.Ag.,
Uncontrolled Keywords: Fiqh, Ahlulbait Nabi, Zakat.
Subjects: Perbandingan Madzhab
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Perbandingan Madzab (S1)
Depositing User / Editor: H. Zaenal Arifin, S.Sos.I., S.IPI.
Date Deposited: 29 Mar 2019 09:00
Last Modified: 29 Mar 2019 09:00
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/34240

Actions (login required)

View Item View Item