PERDEBATAN TEOLOGI DALAM EMPAT KONSILI OIKUMENIS (Studi Terhadap Kelahiran Konsep Trinitas)

MAULANA AGUNG HUMAIDY, NIM: 01520778 (2007) PERDEBATAN TEOLOGI DALAM EMPAT KONSILI OIKUMENIS (Studi Terhadap Kelahiran Konsep Trinitas). Skripsi thesis, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text (PERDEBATAN TEOLOGI DALAM EMPAT KONSILI OIKUMENIS)
01520778_BAB_I_BAB_TERAKHIR_DAFTAR_PUSTAKA.pdf

Download (4MB) | Preview
[img] Text (PERDEBATAN TEOLOGI DALAM EMPAT KONSILI OIKUMENIS)
01520778_BAB_II_S.D_BAB_SEBELUM_TERAKHIR.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (14MB)

Abstract

Trinitas adalah konsepsi ketuhanan yang diyakini oleh sebagian besar umat Kristiani. Pada dasarnya, dalam abad pertama tidak satu pun formula yang diakui sebagai suatu pengakuan iman yang tidak menimbulkan pemahaman yang tidak bersisi-dua (ambigu), sehingga pemaknaan terhadap konsepsi Trinitas itu sendiri di kalangan umat Kristiani memiliki interpretasi yang berbeda-beda. Banyak hal yang melatarbelakangi perbedaan interpretasi ini, salah satunya adalah ketidakpahaman terhadap proses lahirnya doktrin Trinitas, sehingga dogma Trinitas dianggap sebagai kebenaran yang bersifat final. Terkait akan hal ini, penulis mencoba meneliti faktor yang melatarbelakangi munculnya perdebatan teologi, sebagai upaya mengetahui faktor pemicu terjadinya perdebatan tersebut. Serta bagaimana perdebatan yang terjadi di dalam keempat Konsili Oikumenis tersebut, sebagai upaya mengetahui gambaran secara utuh mengenai perdebatan teologi yang terjadi di dalamnya. Dalam menjawab "why it happened and how it happened", penulis menguraikan kajian ini dengan menggunakan pendekatan historis untuk menjawab pertanyaan ini. Serta menggunakan metode deskriptif analitis, menggambarkan kompleksitas konflik yang terjadi di dalam keempat Konsili Oikumenis yang memiliki sejarah yang cukup pelik, sehingga menghasilkan doktrin Trinitas dengan segala macam pemaknaannya. Berawal dari kontroversi mengenai relasi Yesus dengan Allah Bapa. Arius dengan tegas mengatakan bahwa Yesus adalah makhluk, dan Allah Bapa adalah "Allah Sejati". Sedangkan Alexander melalui orang kepercayaannya Athanasius mengatakan bahwa Yesus Ilahi sepenuhnya. Akhirnya Kaisar Constantine menggelar Konsili Nicea, mengusulkan rumusan kompromi demi menjaga keutuhan wilayah Kekaisaran. Istilah homoousios digunakan sebagai Rumusan Iman Nicea. Konsili Konstantinopel, mempertegas kembali konsep homoousios dengan tambahan status Roh Kudus. Gagasan Bapa-bapa Kapadokia mengenai kesatuan ilahi antara tiga keilahian, berseberangan dengan pengikut Macedonius yang membenarkan keallahan Yesus tetapi menganggap Roh Kudus sebagai makhluk, serta pemikiran Apollinaris yang menganggap Yesus hanya memiliki satu tabiat ilahi saja. Perdebatan berakhir setelah Theodosius Agung yang anti-Arian naik tahta Kekaisaran. Istilah "sehakekat dengan Bapa" diambil sebagai Rumusan Iman Konstantinopel. Konsili Efesus, pemaknaan akan tabiat Yesus kembali diperdebatkan. Pemikiran Cyrillius (Uskup Alexandria) akan peleburan tabiat ilahi dan manusiawi yang condong menitiktekankan pada tabiat keilahian Yesus dengan tambahan gelar "Theotokos" bagi bunda Maria, berlawanan dengan pemikiran Nestorius (Patriarkhi Konstantinopel) yang tetap mempertahankan kedua tabiat Yesus dan menolak gelar "Theotokos". Walhasil, Kaisar Theodosius II membatalkan segala keputusan demi menjaga keutuhan Negara dan Gereja. Konsili Chalcedon, berawal dari perdebatan kaum Monofisit dengan kaum Nestorian. Sekalipun de Jure perdebatan ini terjadi antara dua pihak yang saling bertikai, akan tetapi de Facto keputusan yang diambil merupakan hasil pemikiran Leo I serta Kaisar Marcianus yang memberikan andil di dalamnya. keputusan Konsili Chalcedon merupakan rumusan kompromis, sebagai "jalan Tengah" bagi semua pihak yang saling bertikai. Pada akhirnya, semua perdebatan yang terjadi, memperlihatkan kepada kita akan sketsa pergumulan teologi yang sarat akan kepentingan tertentu, yakni kepentingan gerejawi dan kepentingan politik Kekaisaran Romawi. Sehingga konsepsi Trinitas yang dilahirkan lebih bersifat kompromis daripada bersifat lnjili.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Prof.Dr.H.Djam'annuri,MA - Ahmad Muttaqin, M.Ag.,MA
Uncontrolled Keywords: TEOLOGI,KONSILI OIKUMENIS, Konsep Trinitas
Subjects: Agama Kristen (Christianity)
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Perbandingan Agama (S1)
Depositing User / Editor: Miftakhul Yazid Fuadi, SIP.
Date Deposited: 08 Aug 2019 14:36
Last Modified: 08 Aug 2019 14:36
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/36259

Actions (login required)

View Item View Item