JIHAD DALAM AL-QUR' AN Dinamika Negosiatif Teori Hermeneutika Kbaled M. Abou El Fadl

Mohammad ltgon Syaugi, NIM : 00 53 0187 (2007) JIHAD DALAM AL-QUR' AN Dinamika Negosiatif Teori Hermeneutika Kbaled M. Abou El Fadl. Skripsi thesis, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (JIHAD DALAM AL-QUR' AN Dinamika Negosiatif Teori Hermeneutika Kbaled M. Abou El Fadl)
BAB I, V, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (10MB) | Preview
[img] Text (JIHAD DALAM AL-QUR' AN Dinamika Negosiatif Teori Hermeneutika Kbaled M. Abou El Fadl)
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (26MB)

Abstract

TAK satu isu pun mengenai Islam yang paling disorot dewasa ini melebihi jihad dan terorisme, terlebih sejak tragedi II September yang meluluhlantakkan Kantor Pusat Dunia (WTC) pada tahun 2001. Alhasil, Islam semakin identik dengan kekerasan . Di zaman ketika wibawa agama goyah-dan hidup dalam agama, tampaknya, menjadi laku yang tegang-Abou El Fadl seolah-olah menjadi sebuah halte kecil bagi para pembacanya untuk berpikir, berdialog, dan meraih segala pengetahuan berikut kearifan-kearifannya. Abou El Fadl menyadari betul bahwasanya akar permasalahan yang utama dalam isu tersebut adalah tafsir. Lebih tepatnya, tafsir terhadap ayat-ayatjihiddalam al-Qur'an. Yang menjadi basis argumentasi pendekatan hermeneutika Abou El Fadl adalah bahwa seorang manusia tidak mungkin mampu memahami kompleksitas makna al­ Qur'an secara sempurna. Oleh karena itu, watak tekstual dari tradisi tafsir hams kemabli dikukuhkan yaitu dengan menampik cara tunggal dalam mempersepsikan dunia berdasarkan teks al-Qur'an. Dengan mengabaikan "watak tekstual" itu, orang menjadi gagal mendeteksi pelbagai manipulasi ideologis dalam pembacaan al­ Qur'an. Sementara "ideologisasi al-Qur'an" itulah yang sangat berpotensi mengasilkan sebentuk "akidah tunggal yang benar." Akidah semacam itu, kemudian, menjadi ujung tombak ''jihad" yang menuntut umat Muslim untuk merealisasikannya sepersis mungkin. Pada ranah inilah, Abou El Fadl mengkritik apa yang disebutnya dengan tafsimya kaum puritan-yakni mereka yang, seraya mengayun-ayunkan Kitab Suci, menjadi tak sadar bahwa mereka telah menggantikan Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Benar dengan "Kami yang Maha Tahu dan Kami yang Maha Benar." Al-Qur'an, menurut pengoleksi lebih dari 40.000 (empat puluh ribu) judul buku ini, tidak menggunakan istilah jihad untuk merujuk pada perang atau pertempuran; perang atau pertempuran dirujuk dengan kata qitdl. Sementara al-Qur'an menyebut jihad sebagai mutlak dan tak terbatas, hal yang sama tak berlaku untuk qital. Jihad adalah sesuatu yang pada dasamya baik, sementara qital tidak demikian. Setiap acuan di dalam al-Qur'an pada qital itu dibatasi oleh kondisi tertentu; tetapi, desakan akan jihad, seperti acuan pada keadilan dan kebenaran, mutlak dan tak bersyarat. Pada tiap kesempatan terpisah ketika al-Qur'an mendesak umat Islam untuk berperang, al-Qur'an segera mensyaratkan tuntutan itu dengan sebuah perintah kepada kaum beriman untuk tidak melampaui batas, untuk memaatkan, dan mencari perdamaian . Selain itu, bersandar pada preseden yang ditunjukkan Nabi, orang-orang yang tidak ikut perang seperti anak-anak, perempuan, lansia, janda, pertapa, pendeta, atau siapa pun yang tak berusaha atau tak tbisa memerangi umat Muslim tidak bisa diganggu­ gugat dan tidak bisa dijadikan target, bahkan ketika berlangsung perseterqan terus­ menerus. Misalnya, ketika sebuah helikopter tempur lsrad kemarin petang telah menembaki pemukiman penduduJC Palestina, hal ini bukan be.(arti seorang Muslim lantas secara otomatis memperoleh otoritas untuk melancarkan s rangan balasan terhadap seorang balita Yahudi yang sedang .makin siang bersama ibunya di sebuah restoran. Yang menjadi prioritas utama dalam penyusunan skripsi ini adalah _upaya mettehsik metodologi dan pendekatan hermeneutika Abou El Fadl ketika menafsirkan terma jihid dalam al-Qur'an, yaitu konstruksi tafsir yang berorientasikan penggalian lebih dalam terhadap pelbagai imperatif moral al-Qur'an. Hal ini, menurut penggemar berat lagu-lagu Ummi Kaltsum ini, mengandaikan sebuah dinamika makna yang melampaui batas ruang dan waktu (a never-ending dynamic of moral exploration and interpretation). Salah satunya, menegosiasikan terma jihid dengan konsep $ul/J (damai) dan salam (ketentraman) dalam al-Qur'an.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Drs. M. Yusuf, M.Ag,
Uncontrolled Keywords: JIHAD DALAM AL-QUR' AN
Subjects: Tafsir Hadist
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Tafsir Hadist (S1)
Depositing User / Editor: Drs. Bambang Heru Nurwoto
Date Deposited: 22 Aug 2019 08:16
Last Modified: 22 Aug 2019 08:16
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/36418

Actions (login required)

View Item View Item