THE PROBLEM OF RELIGION IN IBN SINAS PHILOSOPHY

M. AMIN ABDULLAH, (2008) THE PROBLEM OF RELIGION IN IBN SINAS PHILOSOPHY. /Jurnal/Al-Jamiah/Al-Jamiah No. 59 Th. 1996/.

[img]
Preview
Text
09. M. Amin Abdullah- THE PROBLEM OF RELIGION IN IBN SINA'S PHILOSOPHY.pdf - Accepted Version

Download (6MB) | Preview

Abstract

Ibnu Sina sampai saat ini masih dianggap sebagai filosof Muslim yang kontroversial. Ia merupakan salah seorang filosof Muslim yang telah banyak menggoreskan penanya di bidang logika, metafisika, psikologi, agama, kedokteran dan ilmu alam. Pendekatannya terhadap agama melalui teori emanasinya telah mengundang berbagai kritik dan komentar. Kemampuan imajinatif Nabi, makna simbolik doktrin-doktrin keagamaan, pemaknaan mistik, serta hukum kausalitas psikologis merupakan sumber kekontroversialan pemikiran Ibnu Sina. Berawal dari usahanya untuk merekonstruksi hubungan yang harmonis antara filsafat dan agama, akhirnya, para kritikus menempatkannnya pada posisi pilihan yang sulit antara ortodoksi dan heterodoksi. Penilaian tak berdasar tersebut agaknya semata-mata disebabkan adanya kesalahfahaman terhadap filsafat Ibnu Sina yang pada kenyataannya berusaha menggabungkan unsur iaql/i dan inaql/i dalam keutuhan diskursus kefilsafatannya. Ini terlihat pada usahanya dalam menjelaskan persoalan kenabian, yang menurut pengamatannnya tidak begitu berbeda dengan failasuf dan mistik, kecuali kemampuan imajinatif yang dimilikii oleh para nabi. Kemampuan imajinatif nabi tentunya lebih tinggi. Untuk memahami kemampuan imajinatif tersebut, masalah simbolosasi menjadi penting untuk dibahas. Menurut Ibn Sina, kemampuan imajinatif para nabi didukung oleh kekuatan intelektual dan spiritual, di samping adanya keyataan bahwa dalam kenabian terdapat aspek simbolik. Selain itu, Ibnu Sina jelas terpengaruh oleh ide-ide Platonis melalui teologi Aristoteles, ketika Ibnu Sina cenderung tidak mengakui adanya kebangkitan kembali badan yang sudah terpisah dari jiwa. Bagi Ibnu Sina, arti isimbolik/i tidak hanya diperlukan untuk menafsirkan makna kebangkitan jasmani kembali, tetapi juga terhadap hukum agama. Selain itu, pemaknaan mistis juga tidak dapat dipisahkan dari persoalan agama. Akhirnya, tata aturan simbolisasi psikologis juga (diperlukan) dalam memahami filsafat Ibnu Sina, karena simbol - seperti ynag dikemukakan Fazlur Rahman - memiliki kewajiban untuk menjembatani penafsiran antagonistik, yakni bahwa simbol bukanlah simbol semata-mata yang terpisah dari realitas dan tidak berkaitan sama sekali dengan tingkah laku individual maupun sosial.b

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Agama, Filsafat, Ibnu Sina
Subjects: Al Jamiah Jurnal
Divisions: E-Journal
Depositing User / Editor: Miftakhul Yazid Fuadi, SIP.
Date Deposited: 15 Apr 2013 11:31
Last Modified: 28 Dec 2016 01:47
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/391

Actions (login required)

View Item View Item