SUBJEK DAN INDEKS

SUBJEK DAN INDEKS, (2008) SUBJEK DAN INDEKS. /Jurnal/Al-Jamiah/Al-Jamiah No. 53 Th. 1993/.

Full text not available from this repository.

Abstract

b1). Muhammad akbar (State University of New York, Birmingham, N. Y., USA) Muslims in the United State : History, Religion, Politics and Ethnicity dalam JIMMA, 12 (1991) No. 2 pp. 434-498 Kajian apapun mengenai status muslim di Amerika harus memperhatikan kontak dan hubungan antara orang-orang Barat-Kristen dan orang-orang Islam, yaitu aspek-aspek sosial agama Muslim Amerika. artikel ini melihat beberapa persoalan yang terkait dengan aspek-aspek seperti itu. Artikel ini menyimpulkan bahwa keterbukaan orang-orang Amerika memacu karakteristik ietnosentris/i orang-orang Islam, terlepas dari negara asalnya. Klasifikasi etnis Barat dan tradisional Muslim mempengaruhi preferensi-preferensi sosial. Hubungan antar-budaya kelassosial dan kelas edukasional hampir tidak ada. 2). Hans Wandenfels (University of Bonn) On the Hermeneutics of Interultural Encounter dalam SID, 2 (1992) No. 1 pp. 31-50 Setelah periode sejarah yang panjang, dalam mana budaya Barat menganggap diri menempati posisi penting diantara berbagai budaya, maka suatu pemahaman dasar tentang titik pandang yang bertentangan tak dapat diperoleh tanpa perkembangan hermeneutika yang tepat mengenai pertemuan itu sendiri. Hermeneutika pemahaman antar budaya dan pemahaman keagamaan melibatkan (1) bahasa asing, (2) simbolisme yang asing, (3) perbedaan pola pikir dan perilaku, (4) pandangan dunia , konsepsi humanitas dan masyarakat, Weltanschauungen dan agama-agama, dan seterusnya. 3). Mahmoud Zakzouk (Universitas Al-Azhar, Cairo) Cultural Relations between the West and the World of Islam : Meeting Points and Possibilities of Cooperation on the Academic Level dalam ICMR, 3 (1992) No. 1 pp. 69-82 Dalam menghadapi beberapa masalah politik dan ekologis, dunia Barat dan dunia Islam memandang perlu adanya dialog dan kerjasama. Demi keberlangsungan dan keberhasilan dialog dan kerjasama tersebut maka diskriminasi Barat terhadap Islam harus dihentikan. Di lingkungan dan kalangannya sendiri, Islam juga disalahfahami; karena itu usaha-usaha untuk mengkaji Islam pada level akademik amat sangat penting. Peradaban Barat dan teknologi telah diterapkan dalam dunia Islam, apalagi sejarah adalah konsern dengan humanitas. penerimaan peradaban Barat dan teknologi merupakan suatu sikap penerimaan tak bersyarat, yang hidup berdampingan dengan satu penolakan total. Diskusi kritik dan penolakan kritik dengan Barat, dapat dan samasekali harus dipisahkan dengan suatu self-kritik Islam yang cermat. 4). Bassam Tibi (University of George-August, Gottingen) Seminar of the Norwegian Institute of Human Rights / University of Oslo / Faculty of Law, Oslo, 14-15 Pebruari 1992 dalam ICMR, 3 (1992) No. 1 pp. 58-68 Pengarang memperdebatkan bahwa HAM yang bersifat individual adalah konsep asli Barat yang kemudian menjadi sifat universal. Konsep tentang harkat dan martabat manusia yang ada dalam Islam harus tidak dikaburkan dengan konsep HAM (sebagai) yang diberi nama sekuler, dimana pemberian nama sekuler tersebut tidak ada dalam Islam. HAM adalah suatu konsern umum bagi segala Humanitas. Dalam mengakui bahwa sumber konsep HAM adalah Barat, pengarang ini menekankan universalitasnya HAM dan beberapa persoalan relativisme budaya. 5). Ibrahim M. Abu Rabi (Hartford Seminary, Hartford, Connecticut, USA) Discourse, Power and Ideology in Modern Islamic Revivalist Thought : Sayyid Qutb dalam The Muslim World, 81 (1991) No. 3/4 pp. 283-298 Artikel ini disusun sehubungan dengan tulisan Muhammad Hafiz Diyab yang berjudul Saayyid Qutb : Al-Khitab wa al-Idiyulujiyya (Cairo, Dar al-Thaqafa al-Jadida, 1989). Penulis memandang Diyab sebagai usaha pertama kali untuk menguraikan fenomena-fenomena fundamentalis Islam sebagai udaya populer pada latar belakang sejarah, yang dilihat dari segi teorisasi mutakhir tentang wacana dan ideologi. 6). Gregory Gleason (University of Mexico, Alberquerque, New Mexico, USA) Independent Muslim Republics in Central Asia : Legacy of the Past, Shape of the Future dalam JIMMA, 12 (1991) No.2 pp. 355-375 Sositas-sositas asia Sentral yang dulunya disebut yang dulunya Uni Soviet, Telah memasuki fase kehidupan dalam mana sositas tersebut dipacu merencanakan masa depan mereka lebih dari hanya sekedar hidup disitu. Artikel ini mencari jawaban sejumlah persoalan yang terkait dengan situasi yang benar-benar baru. Untuk itu maka artikel tersebut mula-mula melakukan deskripsi situasi Republik-republik Muslim soviet sebelum kemerdekaan (populasi, teritorial,formasinya dan seterusnya), kemudian melakukan analisa perkembangan sampai dengan deklarasi kedaulatan republik Muslim.Mungkin, perubahan yang paling kelihatan di Asia Sentral sekitar 1990-an adalah pencerahan tradisi ajaran Islam. Pengaruh Islam cenderung merupakan pengaruh konservatif yang tidak terorientasikan pada destabilisasi. Organisasi-organisasi Islam yang mendukung perubahan lebih cepat telah diisolasikan oleh yang berwenang di beberapa republik (misalnya saja Partai Persatuan Islam Pembaharuan). 7). Chang-Kuan Lin (Aberdeen University, UK) The Etymologikal History of Panthay : Chinese-Yunnanese Muslims dalam JIMMA, 12 (1991) No. 2 pp. 346-354 Artikel ini menyatakan bahwa pada asalnya, terma Inggris Panthay mula-mula digunakan pada abad-19 oleh pemerintah kolonial Inggris di Burma terhadap para pemberontak di Yunnan periode 1855-1875, yang dikenal bukannya Muslim atau China di Yunnan. Asal-usul terma tersebut telah memunculkan kontroversi yang berarti di kalangan para pengamat Barat ketika itu, dan pada akhir-akhir ini juga muncul di kalangan para Orientalis modern. Artikel ini juga mengemukakan berbagai pandangan tentang subjek dari dan penjelasan yang lebih akurat tentang terma dimaksud. Artikel ini berkesimpulan bahwa Panthay pada dewasa ini telah menjadi suatu terma historis. 8). Christian W. Troll Christian-Muslim Relations in the Twenty-First Century : A Round Table Discussion dalam ICMR, 3 (1992) No. 1 pp.5-37 Menandai usainya pengalaman selama 15 tahun, Pusat Studi Hubungan Muslim-Kristiani menyelenggarakan diskusi Meja Bundar (tertutup)tentang Hubungan Kristiani-Muslim dalam abad-21. Lima orang pesertanya adalah Prof. Akbar Ahmed (Pakistan), pemegang Allama Iqbal Professorship di Cambridge University sekaligus sebagai tuan rumah; Prof. Mahmoud Ayyoub (Libanon), Guru besar Islamic Studies di Temple University, Philadelphian, USA; Dr. Thomas F. Michel (USA); Dr, Jorgen S. Nielsen (Denmark), Direktur CSIC; dan Dr. Christian W. Troll (Jerman), yaang mengetahui dan memengedit transkripsi dari masing-masing peserta. artikel ini memuat teks Meja Bundar tadi dengan disertai pokok pikiran-pokok pikiran yang disumbangsarankan yang berkaitan dengan bidang kunci-hubungan Kristiani-Muslim dewasa ini.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Subjek, Indeks
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:38
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/403

Actions (login required)

View Item View Item