AKU DALAM BUDAYA JAWA

MOHAMMAD DAMAMI, (2008) AKU DALAM BUDAYA JAWA. /Jurnal/Al-Jamiah/Al-Jamiah No. 55 TH. 1994/.

Full text not available from this repository.

Abstract

bManusia adalah makhluk hidup yang memiliki nivo tertinggi; ia disebut ihuman/i. mengapa? salah satu sebabnya adalah karena hanya manusia saja yang benar-benar menyadari terhjadap aku-nya dan yang benar-benar ingin mengetahui secara totalaku-nya sendiri itu. Mengapa manusia senantiasa menyadari daningin mengetahui semacam itu? karena hanya manusia saja yang merasa senantiasa berhadapan dengan diri sendiri dan dunianya, demikian menurut N. Drijarkara, S.J. Penyadaran dan pengetahuan terhadap diri sendiri bagi manusia sangat bermakna bagi kehidupan mereka. Kata Soedjatmoko, Ada atau tidaknya keberanian hidup, ketabahan dalam menghadapi rintangan, inisiatif dan kreativitas seseorang, dan ada atau tidaknya tekad pada suatu bangsa untuk maju sekaligus menangani kemiskinan massal, serta ketidakadilan masyarakatnya, sangat ditentukan oleh kensepsi tentang aku ini.Aku sebenarnya adalah salah satu dari gejala kemanusiaan manusia, yang menurut hasil penelusuran I.R. Podjawijatna ditemukan, minimal tujuh gejala kemanusiaan yang paling menonjol. sungguhpun begitu, justru gejala kemanusiaan aku tersebut yang mendominsi dari sekian gejala yang lain. Bahkan barang siapayang berhasil menyadari dan mengetahui secra tepat aku itu, maka dia akan mengetahui esensi manusia. Sebb, aku itulah manifestasi menyeluruh persona, pribadi manusia. Keutuhan manusia terefleksi dalam lingkaran kesadaran dan pengetahuan tentang aku itu. Beralih tentang istilah udaya Jawa, dimaksud budaya Jawa di sini adalah budaya ruhani orang Jawa, yakni orang atau masyarakat Jawa yang secara sadar atau tidak masih menampakkan komitmennya kepada watak etnis kejawaannya. Dalam bentuk nyata, budaya ruhani yang dimaksud dapat berupa sifat, sikap atau cara berfikir yang biasa melekat atau nampak dari luar dari diri orang Jawa pada umumnya. Untuk memenuhi konstruksi-teoritik semacam itu diperlukan bahan yang memadai. Hal ini dpersulit lagi dengan kenyataan bahwa sementara orang masih membedakan Jawa Banyumas, Jawa Timuran, Jawa Pesisiran, Jawa Priyayi, dan sebagainya, yang karena itu, misalnya, tidak tepat kalau Jawa yang pluralis semacam itu difahami dari satu sudut konstruksi-teoritik yang dibangun atas dasar Jawa Priyayi/Keraton saja. Sungguhpun begitu pemahaman dari suatu konstruksi-teoritik tidak sepenuhnya salah dan tetap dianggap sah dalam kegiatan keilmuan. Pemakaian konstruksi-teoritik itu semata-mata untuk sarana memahami masalah bersangkutan agar lebih mudah dan terarah.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Aku, Budaya, Jawa
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:38
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/428

Actions (login required)

View Item View Item