KEDUDUKAN WANITA DALAM SYARIAT ISLAM

TASMAN HAMAMI dan H. SITI BARIROTUN, (2008) KEDUDUKAN WANITA DALAM SYARIAT ISLAM. /Jurnal/Al-Jamiah/Al-Jamiah No. 56 Th. 1994/.

[img]
Preview
Text
05. Tasman Hamami dan H. Siti Barirotun - KEDUDUKAN WANITA DALAM SYARIAT ISLAM.pdf - Accepted Version

Download (2MB) | Preview
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_lightbox)
lightbox.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_preview)
preview.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_medium)
medium.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_small)
small.jpg

Download (0B)
[img] Other (Generate index codes conversion from text to indexcodes)
indexcodes.txt

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_lightbox)
lightbox.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_preview)
preview.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_medium)
medium.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_small)
small.jpg

Download (0B)

Abstract

bWanita adalah makhluk yang penuh misteri. Kehadirannya dalam kehidupan umat manusia mutlak diperlukan. Tetapi realita menunjukkan bahwa nasib kaum wanita dalam sejarahnya selalu tidak menggembirakan, bahkan menyedihkan. Pada masa-masa sebelum Islam, kaum wanita selalu ditempatkan pada posisi sebagai obyek. Wanita dianggap kurang berharga, sehingga seringkali dieksploitasi melebihi batas-batas perikemanusiaan. Penempatan wanita dalam posisi yang rendah itu meliputi kawasan pemikiran maupun kawasan sikap dan perlakuan dalam realitas kehidupan. Filosof Yunani yang ternama dalam spanjang sejarah umat manusia, aristoteles beranggapan bahwa wanita merupakan laki-laki yang tidak sempurna, dan oleh karena itu laki-laki menguasai jiwa wanita. Ide yang menganggaop wanita lemah terus dipertahankan dan disebarkan oleh para filosof ternama semisal Kant, Schopenhauer, dan Fichte (Arief Budiman; 1985; pp. 67). Kant tidak percaya bahwa wanita memiliki kesanggupan mengerti tentang prinsip-prinsip. Menurut Schopenhauer, wanita terbelakang dalam segala hal, tidak memiliki kesanggupan untuk berfikir dan berefleksi. Lebih jauh dia mengatakan bahwa wanita diciptakan hanya untuk mengembangkan keturunan. Bahkan menurut Fichte penguasaan laki-laki atas wanita merupakan keinginan wanita itu sendiri. Pemikiran dan realitas tersebut jelas tidak sesuai dengan fitrah manusia dan bertentangan dengan rasa keadilan. Sebab hak-hak kaum wanita, kemerdekaan serta harkat dan martabatnya tidak ditempatkan secara proporsional. Kehadiran Islam yang membawa misi sebagai rahmatan li al-alamin telah merubah wajah dunia, menciptakan sistem kehidupan baru, termasuk diantaranya menempatkan kaum wanita pada harkat dan martabat yang berkeadilan. Wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia kelas dua di bawah kaum laki-laki, melainkan ditempatkan sejajar. Adanya perbedaan antara laki-laki dan wanita semata-mata disesuaikan dengan watak dasar dan kodratnya.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Kedudukan, Wanita, Syariat, Islam
Subjects: Al Jamiah Jurnal
Divisions: E-Journal
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Date Deposited: 15 Apr 2013 10:22
Last Modified: 15 Apr 2013 10:23
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/481

Actions (login required)

View Item View Item