SUFISME DAN JIHAD SUATU DIKOTOMI PALSU

UMAR ASASUDDIN SOKAH, (2008) SUFISME DAN JIHAD SUATU DIKOTOMI PALSU. /Jurnal/Al-Jamiah/Al-Jamiah No. 57 th. 1994/.

[img]
Preview
Text
08. Umar Asasuddin Sokah - SUFISME DAN JIHAD SUATU DIKOTOMI PALSU.pdf - Accepted Version

Download (2MB) | Preview
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_lightbox)
lightbox.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_preview)
preview.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_medium)
medium.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_small)
small.jpg

Download (0B)
[img] Other (Generate index codes conversion from text to indexcodes)
indexcodes.txt

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_lightbox)
lightbox.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_preview)
preview.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_medium)
medium.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_small)
small.jpg

Download (0B)

Abstract

bKebanyakan manusia beranggapan bahwa sufisme atau tasawuf itu merupakan ajaran Islam yang pasif, dan secara total bertentangan dengan politik dan jihad. akan tetapi, jika kita lihat sejarah Islam di afrika Barat dan Sudan pada abad ke-18 dan 19, akan terungkaplah bahwa gerakan politik di sana berasal dari sufisme, yang memainkan kepahlawanan yang tidak ada tandingannya dalam perlawanan mereka menentang penjajah atau rezim nasional yang suka korupsi. Sebelum diterangkan tentang hubungan antara sufisme dan jihad, apakah keduanya memang terpisah atau ada hubungan yang erat, maka akan diterangkan terlebih dahulu dua kata kunci yaitu sufisme dan jihad. Sufisme atau tasawuf merupakan disiplin spiritual dan tingkah laku. Karena banyaknya aspek sufisme, maka sukarlah untuk menetapkan definisi khusus untuk istilah itu. Akan tetapi, semua sufi mengalami pengalaman yang sama, walaupun sifat pengalaman itu berbeda-beda. Ibrahim Beisuni --seorang sarjana Mesir-- mencoba merumuskan definisi sufisme itu sebagai keterbangunan fitrah yang mengarahkan jiwa yang berkesungguhan, untuk berjuang sehingga ia mencapai pengalaman-pengalaman isampai dan berhubungan langsung dengan wujud Mutlak/i. Sesuai dengan definisi itu maka sufisme itu sebetulnya telah berkembang sejak zaman para sahabat Rasulullah saw. sampai sekarang. PAda masa Abubakar umpamanya, sufisme itu berarti sungguh-sungguh dalam beribadat dan mengikuti semua perintah Allah SWT. Menurut Umar b. Khattab, sufisme itu mengandung penolakan terhadap segala keinginan badaniah, sabar terhadap segala kesusahan, dan disiplin yang kuat. Khalifah Usman b. Affan menggambarkan sufisme itu secara pribadi dalam berpuasa, salat, bersungguh-sungguh dan sabar terhadap cobaan. Namun demikian istilah sufisme atau tasawuf itu baru dipakai pada abad ke-2 atau ke-3 H, ketika manusia telah banyak tergoda oleh gemerlapnya dunia, dan meninggalkan usaha yang bersungguh-sungguh untuk akhirat.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Sufisme, Jihad, Dikotomi, Palsu
Subjects: Al Jamiah Jurnal
Divisions: E-Journal
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Date Deposited: 15 Apr 2013 10:40
Last Modified: 15 Apr 2013 10:40
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/504

Actions (login required)

View Item View Item