MUHAMMAD HASBI ASH SHIDDIEQY DALAM PERSPEKTIF SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA

NOURUZZAMAN SHIDDIQI, (2008) MUHAMMAD HASBI ASH SHIDDIEQY DALAM PERSPEKTIF SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA. /Jurnal/Al-Jamiah/Al-Jamiah No. 35 Th. 1987/.

[img]
Preview
Text
05. NOUROUZZAMAN SHIDDIQI - MUHAMMAD HASBI ASH SHIDDIQIEY DALAM PERSPEKTIF SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA.pdf - Accepted Version

Download (12MB) | Preview
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_lightbox)
lightbox.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_preview)
preview.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_medium)
medium.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_small)
small.jpg

Download (0B)
[img] Other (Generate index codes conversion from text to indexcodes)
indexcodes.txt

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_lightbox)
lightbox.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_preview)
preview.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_medium)
medium.jpg

Download (0B)
[img] Other (Thumbnails conversion from text to thumbnail_small)
small.jpg

Download (0B)

Abstract

Hasbi dilahirkan dan dibesarkan pada saat-saat di Jawa tumbuh gerakan pambaharuan pemikiran Islam (Kaum Pembaru) yang meniupkan semangat kebangsaan Indonesia serta anti penjajahan dan di Aceh perang melwan Belanda sedang berkecamuk. Baik gerakan pembaharuan pemikiran Islam yang lahir di Jawa, maupun Perang Aceh sama-sama dimotori dan dipimpin oleh para ulama atau oleh pemimpin yang perjuangannya disemangati oleh jiwa agama. Mereka mampu menggerakkan masyarakat ke arah perubahan atau membangkitkan semangat untuk berjuang, karena posisi ulama di mata rakyat jauh lebih tinggi daripada oposisi kaum pemegang hak kekuasaan negeri (kaum adat). Ajakan bekerja yang diserukan oleh ulama akan dipatuhi tanpa perhitungan untung rugi karena didasari oleh rasa ikhlas demi mendapatkan keridlaan Alah. Gerakan pembaharuan pemikiran Islam (Kaum Pembaru) dipelopori oleh dua serangkai: Jamaluddin al-Afghani (w.1315/1897) dan Muhamad Abduh )w.1323/1905. Pada wdaktu itu, seluruh dunia Muslim, baik langsung atau tidak langsung berada dibawah telapak kaki penjajahan dunia Barat. Beduk yang ditabuh oleh dua serangkai ini sejak paruhan kedua abad 13/19 telah membangunkan ummat Islam Indonesia pada fajar abad 14/20. Metode dan alat perjuangan al-Afghani yang mengaitkan penyegaran Islam dengan kebijakan politik agar proses pemikiran dan keadilan dalam masyarakat dapat berlangsung terus dengan menggunakan kekuatan massa sebagai alat perjuangan, dipelopori oleh HOs Tjokroaminoto (w.1353/1934) melalui SI, sebuah organisasi terbesar pada awal abad 14/20 dan corong pertama yang membangkitkan rasa kebangsaan Indonesia. Metode dan alat perjuangan Abduh yang menghendaki berlangsungnya proses perbuahan secara evolusi melalui pendidikan yang mampu melahirkan orang yang dapat melakukan pengkajian kembali terhadap moral agama dan melakukan kritik rasional tanpa melecehkan etika pada masa awal Islam serta lewat pembinaan solidaritas sosial, dipelopori oleh KHA Dahlan (w.1342/1923) melalui Muhammadiyah. Kaum Pembaru mempunya keyakinan bahwa Islam mampu menjawab semua permasalahan umat manusia di setiap tempat dan waktu, asal kaum muslimin mempergunakan hak ijtihad langsung dari sumber Al-Quran dan Hadits dan tidak mengikatkan diri dengan bertaqlid pada pendapat para imam madzhab. Maka slogan kembali kepada al-Quran dan As-sunah yang mereka canangkan, bukanlah sebuah nostalgia pada masa awal-awal Islam, tetapi sati pantulan sikap untuk menemukan kembali ruh Islam. Bagi Kaum Pembaru, Islam tidak menghambat kemajuan, bahkan mendorong ke arah yang lebih maju. Islam menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sahabat, karena Islam anti kebodohan. Dengan menguasai ilmu pengetahuan, maka nasib dapat diubah. Ada empat hal yang menjadi ciri pokok Kaum Pembaru: Pertama, membersihkan Islam dari pengaruh yang salah dan perbuatan bidah; kedua, pembaharuan sistem pendidikan; ketiga, pemahaman ISlam sehingga dapat dicerna oleh alam pikiran modern; dan keempat, membendung infiltrasi Barat dan pembelaan terhadap serangan yang datang dari pihak luar. Jika hendak diperas, maka gagasan pokok Kaum Pembaru ialah ke dalam bersifat perbaikan dan ke luar bersifat pembelaan. b

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Muhammad Hasbi Ash Ahiddieqy, Sejarah, Pemikiran, Islam, Indonesia
Subjects: Al Jamiah Jurnal
Divisions: E-Journal
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Date Deposited: 10 Apr 2013 09:53
Last Modified: 10 Apr 2013 09:53
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/525

Actions (login required)

View Item View Item